Sistem Logistik RI Belum Optimal

Sistem Logistik RI Belum Optimal
Sejumlah buruh membongkar logistik Pemilu 2014 dari kapal Pelni KM Bukit Raya yang tiba di Pelabuhan Kijang, Bintan, Kepri. ( Foto: Antara / Henky Mohari )
Tri Listiya Kamis, 1 Mei 2014 | 13:19 WIB

Jakarta - Supply Chain Indonesia (SCI) menilai kinerja sistem logistik Indonesia belum optimal yang tercermin dari posisi Indonesia dalam Logistics Performance Index (LPI) 2014 di peringkat 53 dari 160 negara.

Di tingkat Asean, Indonesia di bawah Singapura (peringkat 5), Malaysia (25), Thailand (35), dan Vietnam (48), atau hanya lebih baik dari Filipina (57), Kamboja (83), Laos (131), dan Myanmar (145).

LPI diukur berdasarkan komponen customs, infrastructure, international shipment, competence and quality of logistics services, tracking and tracing, dan timeliness.

‪Setijadi, Chairman SCI, mengatakan rencana perbaikan dan pengembangan sistem logistik Indonesia telah tertuang dalam Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik Nasional (Sislognas) yang ditetapkan dengan Perpres No 26 Tahun 2012.

Walaupun telah mempunyai payung hukum, implementasi Sislognas masih banyak terkendala. Hal ini bisa dilihat dari implementasi berbagai rencana aksi yang akan sulit mencapai target pada tahap I yang akan berakhir pada 2015.

"Logistik bersifat multisektoral, sehingga perbaikannya perlu dilakukan semua pihak terkait, termasuk para pelaku logistik (PL) dan penyedia jasa logistik (PJL). PL dan PJL terdiri atas perusahaan-perusahaan swasta dan perusahaan-perusahaan BUMN," kata dia dalam siaran persnya, Kamis (1/5).

Sebagai bagian dari PJL, perusahaan-perusahaan BUMN sektor logistik mempunyai potensi besar untuk berperan dalam implementasi sistem logistik nasional, termasuk dalam peningkatan efisiensi biaya logistik. Berdasarkan analisis SCI, total aset BUMN sektor logistik pada 2012 sebesar Rp 153,9 triliun. Aset ini menunjukkan potensi yang besar untuk berperan dalam sislognas.

Potensi peranan BUMN sektor logistik karena infrastruktur, fasilitas, dan layanan yang dimilikinya. BUMN sektor logistik mengelola infrastruktur yang sangat lengkap, mencakup kepelabuhanan, kebandarudaraan, jalan, dan rel kereta api. Fasilitas milik BUMN tersebar dan menjangkau berbagai wilayah Indonesia.

Perusahaan-perusahaan BUMN sektor logistik beserta anak-anak usahanya mempunyai berbagai layanan logistik, antara lain pergudangan, transportasi, freight forwarding, depo peti kemas, dan sebagainya. Infrastruktur, fasilitas, dan layanan BUMN sektor logistik tersebar di berbagai perusahaan.

Pengelolaan infrastruktur dilakukan oleh PT Pelabuhan Indonesia I-IV (Persero) untuk kepelabuhanan, PT Angkasa Pura I-II [Persero] untuk kebandarudaraan, PT Jasa Marga (Persero] untuk jalan, dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) untuk perkeretaapian.

Fasilitas dan layanan logistik dimiliki dan dilakukan oleh beberapa perusahaan BUMN maupun anak usahanya yang bergerak dalam sektor logistik, yaitu PT Bhanda Ghara Reksa (Persero), PT Berdikari, gabungan PT Kawasan Berikat Nusantara (Persero) dan PT Varuna Tirta Prakasya (Persero), PT Pos Indonesia (Persero), PT Pos Logistik Indonesia, PT Kereta Api Logistik, PT Angkasa Pura Logistik, dan lain-lain.

Fasilitas dan layanan yang tersebar di beberapa perusahaan BUMN dan anak-anak usahanya berpotensi menimbulkan inefisiensi logistik, karena utilisasi aset dan investasi (pengembangan fasilitas), pelayanan tidak terintegrasi, dan terjadi persaingan antar perusahaan/anak usaha BUMN sejenis.

Setijadi menuturkan, perlu upaya untuk membangun sinergi di antara perusahaan BUMN/anak usaha di sektor logistik. Sinergi ini akan bermanfaat untuk meningkatkan utilisasi aset, optimalisasi rencana investasi (pengembangan fasilitas), meningkatkan integrasi pelayanan, dan meningkatkan daya saing.

Sinergi BUMN/anak usaha di sektor logistik akan meningkatkan efisiensi operasional yang akan berdampak bagi perusahaan-perusahaan yang dilayani (baik swasta maupun BUMN produsen) dan meningkatkan profitabilitas BUMN/anak usaha di sektor logistik itu sendiri.

Dalam lingkup yang lebih luas, sinergi BUMN/anak usaha di sektor logistik akan berdampak pada peningkatan efisiensi logistik nasional.

Sinergi ini juga akan mendukung pencapaian misi Sislognas, yaitu memperlancar arus barang secara efektif dan efisien, serta membangun simpul-simpul logistik nasional dan konektivitasnya mulai dari perdesaan, perkotaan, antarwilayah, dan antarpulau.

Sinergi ini juga berpotensi meningkatkan LPI Indonesia, terutama terkait competence and quality of logistics services.

Sumber: Investor Daily