Penghapusan Subsidi untuk Pemerataan Jaringan Listrik Dinilai Tepat
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Penghapusan Subsidi untuk Pemerataan Jaringan Listrik Dinilai Tepat

Selasa, 22 Juli 2014 | 20:02 WIB
Oleh : Dina Manafe / JAS

Jakarta - Kebijakan pemerintah yang menghapus subsidi listrik sejak 1 Juli 2014 lalu dinilai sudah tepat. Apalagi hasil subsidi ini digunakan untuk menyediakan sambungan baru sebagai bagian dari program pemerataan jaringan listrik se-Indonesia.

Hal ini dikatakan pengamat ekonomi dari Universitas Padjadjaran, Kodrat Wibowo, di Jakarta, Selasa (22/7). Kodrat menilai, waktu pengumuman penghapusan subsidi ini sangat tepat di mana perhatian masyarakat tersedot pada hasil pemilihan presiden saat ini.

“Saya melihat ini merupakan efek Prabowo-Jokowi sehingga perhatian masyarakat luput dari kenaikan listrik yang diumumkan pemerintah. Seandainya tidak ada efek itu, bisa dipastikan masyarakat akan sedikit ribut,” katanya.

Menurut Kodrat, pengumuman penghapusan subsidi dengan penyesuaian tarif tenaga listrik (TTL) ini dilakukan menjelang puasa dan lebaran saat harga-harga kebutuhan pokok sudah mulai merangkak naik. Kekhawatiran akan terjadi inflasi tinggi setelah penghapusan subsidi ini bisa dikendalikan dengan efek Pilpres 2014.

Meski demikian, Kodrat meminta kepada pemerintah agar menyiapkan langkah antisipasi pada Agustus dan bulan-bulan berikutnya karena pasti ada perubahan tagihan listrik pada enam kelompok yang telah ditentukan.

Dari enam golongan itu, dikatakan Kodrat, kelompok rumah tangga lah yang akan terdampak cukup siginifikan. Kelompok ini mengalami kenaikan tarif listrik secara bertahap rata-rata 5,70 persen hingga 11,36 persen setiap dua bulan hingga akhir tahun ini.

Terkait dengan harga keekonomian TTL pada tahun 2015 nanti, Kodrat menilai tergantung pada kebijakan pemerintah terutama dalam meningkatkan elektrifikasi.

“Jika rencana 3 juta sambungan baru setiap tahun berjalan mulus, bisa jadi harga keekonomian listrik bisa cepat tercapai,” ucapnya.

Di sisi lain, Kodrat menilai langkah pemerintah dengan menghapus subsidi ini justru mengembalikan PLN pada perannya yang tak sekadar melayani publik, melainkan juga fokus pada orientasi profit.

Dengan keuntungan yang diperolehnya, PLN bisa semakin ekspansif mengembangkan bisnisnya melalui penguatan pasar, memasang jaringan baru, meningkatkan layanan, hingga merekrut tenaga kerja baru yang lebih andal.

“Ini tak lepas dari posisi PLN yang masih memonopoli distribusi listrik ke masyarakat. Karena posisi monopoli inilah, subsidi tetap diberikan kepada kelompok tertentu sebagai wujud dari PSO (public service obligation),” katanya.

Kodrat menambahkan, penghapusan subsidi untuk mencapai harga keekonomian TTL ini sebagai langkah persiapan jika nanti ada pihak swasta diijinkan mendistribusikan listrik. Pada saatnya nanti, PLN sudah semakin siap berkompetisi.

Sebagaimana diketahui, sejak 1 Juli lalu, pemerintah kembali menghapus subsidi listrik dengan menyesuaikan kenaikan TTL. Kali ini ada enam golongan yang dihapus subsidinya, yaitu industri I-3 non go publik rumah tangga R-2 (3.500 VA s.d 5.500 VA), pemerintah P-2 (di atas 200 kVA), rumah tangga R-1 (2.200 VA), penerangan jalan umum P-3 dan rumah tangga R-1 (1.300 VA). Sebelumnya, pemerintah telah menghapus subsidi listrik untuk golongan I-3 go publik dan I-4 pada Mei lalu.

Kebijakan penghapusan ini dilakukan secara bertahap setiap dua bulan yang diberlakukan mulai 1 Juli hingga 1 November nanti. Kebijakan penghapusan subsidi ini juga telah disetujui Komisi VII DPR RI sehingga subsidi listrik untuk tahun berjalan RAPBN-P 2014 mencapai Rp 86,84 triliun bila asumsi kursnya adalah Rp 11.700 per Dollar Amerika Serikat. Dengan demikian, target harga keekonomian TTL diharapkan bisa tercapai hingga akhir tahun ini.

Di sisi lain, hasil dari penghapusan subsidi ini akan digunakan untuk membangun infrastruktur listrik desa. Rencananya, akan dibangun 3 juta sambungan baru setiap tahun. Pemerintah menargetkan pembangunan pembangkit listrik untuk menambah sambungan listrik baru tak lagi menggunakan bahan bakar minyak (BBM) seperti solar. Namun harus mengutamakan pada pembangunan pembangkit listrik dengan memanfaatkan sumberdaya lokal seperti air, angin, dan matahari.

Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: Suara Pembaruan

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Penuhi Janji, LRT City Ciracas Tutup Atap Tower Azure

Seremoni tutup atap atau topping off menjadi milestone penting untuk tahapan pengembangan proyek LRT City Ciracas.

EKONOMI | 1 Desember 2021

IHSG Turun, Volume Perdagangan MLPL Paling Besar

Saham yang paling aktif ditransaksikan berdasarkan volume di antaranya saham PT Multipolar Tbk (MLPL).

EKONOMI | 1 Desember 2021

IHSG di Zona Merah, Asing Koleksi TLKM dan Jual BUKA

TLKM  jadi saham favorit asing pasca-dikoleksi sebanyak Rp 114,7 miliar.

EKONOMI | 1 Desember 2021

Potensi Pembiayaan Properti Syariah Menjanjikan

Kebutuhan hunian dengan konsep pembiayaan syariah memiliki peluang yang cukup besar untuk dikembangkan di tanah air.

EKONOMI | 1 Desember 2021

Meski IHSG Turun, SWAT Kokoh di Puncak Top Gainers

PT Sriwahana Adityakarta Tbk (SWAT) jadi paling cuan pascaharga sahamnya melesat 34,46%.

EKONOMI | 1 Desember 2021

Kuartal III, Penjualan Pyridam Farma Melonjak 108%

PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) hingga kuartal III 2021 mencatatkan penjualan Rp 406,4 miliar atau meningkat 108%.

EKONOMI | 1 Desember 2021

Kartu Prakerja Mampu Berikan Empat Manfaat untuk Penerimanya

Program kartu prakerja bahkan mampu mendorong penerima manfaat untuk tidak mengambil pinjaman guna menutupi kebutuhan sehari-hari.

EKONOMI | 1 Desember 2021

Layanan Privy Sudah Digunakan 18,8 Juta Pengguna

Sekitar 70% dokumen yang menggunakan layanan tanda tangan digital Privy berasal dari sektor finansial khususnya perbankan dan fintech.

EKONOMI | 1 Desember 2021

Garap Tambang Nikel, PPRE Kantongi Kontrak Baru Rp 504 M

PT PP Presisi Tbk (PPRE) sukses mendapat kontrak baru Rp 504 miliar dari proyek pengembangan pertambangan nikel Weda Bay, Halmahera, Maluku Utara.

EKONOMI | 1 Desember 2021

Hutama Karya Pamer Progres Pembangunan JTTS

Hutama Karya menampilkan progres pembangunan dan pengoperasian Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) dalam pameran Kawasan Industri Medan (KIM) Investment Expo 2021.

EKONOMI | 1 Desember 2021


TAG POPULER

# Reshuffle Kabinet


# Reuni 212


# Kota Termahal di Dunia


# Ganjil Genap di Tol


# Militer Inggris



TERKINI
Ipol.id Ungkap Kreativitas dan Inovasi Kuliner Betawi

Ipol.id Ungkap Kreativitas dan Inovasi Kuliner Betawi

GAYA HIDUP | 7 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings