Eksplor Teknik Penjahitan Tradisional, Kunci untuk Bertahan di Industri "Fashion"

Eksplor Teknik Penjahitan Tradisional, Kunci untuk Bertahan di Industri
Wood, merek fashion pria, membuka gerai terbarunya di Supermal Karawaci, pekan lalu. ( Foto: Wood / Wood )
Kharina Triananda / FAB Selasa, 4 November 2014 | 18:27 WIB

Jakarta - Menurut Academic Director dan pengajar desain mode dari Raffles Institute of Higher Education Jakarta, Elena Ryleeva, salah satu kunci agar desainer Indonesia bisa bersaing dengan pasar global adalah mampu mengeksplor potensi fashion lokal yang ada.

"Saya selalu menekankan kepada mahasiswa Indonesia untuk terus mengeksplor potensi tradisional yang ada. Dan jangan hanya kainnya, tetapi juga teknik-teknik tradisionalnya. Kalian (Indonesia) memiliki banyak teknik-teknik tradisional yang menarik untuk dieksplorasi," ujar Ryleeva, dalam jumpa pers Jakarta Fashion Week (JFW) 2015 di Jakarta, Selasa (4/11).

Selain itu, ia juga selalu mengingatkan untuk selalu bekerja keras dan berusaha menemukan motivasi untuk berkarya.

Tidak hanya Raffles, LaSalle College Jakarta juga memberikan strategi kepada mahasiswanya untuk bisa berkompetisi di tengah gempuran merek-merek internasional.

Ferry Halim, salah satu pengajar desain mode di LaSalle College Jakarta mengatakan, ia selalu mengingatkan mahasiswanya bahwa survei atau riset adalah hal yang penting untuk menciptakan karakter desain yang kuat, sehingga mampu berkompetisi.

"Tidak hanya riset untuk konsep dan teknik penjahitan, tetapi juga riset untuk pasar. Mereka harus jeli melihat apa saja yang ada di pasar dan celah apa saja yang bisa diambil," pungkasnya.

Ferry juga menambahkan bahwa ia selalu menekankan kepada mahasiswanya agar desain-desain yang dihasilkan tidak monoton. Mereka dituntut menampilkan atau menonjolkan sesuatu yang berbeda. Bisa sesuatu yang baru atau terinspirasi dari yang sudah lama, hal itu bisa diperkaya dengan sentuhan kreasi yang berbeda.