Mantan Ditjen Peternakan Ragukan Surplus Daging Sapi Kemtan

Mantan Ditjen Peternakan Ragukan Surplus Daging Sapi Kemtan
Ilustrasi pedagang daging sapi. ( Foto: Antara/R. Rekotomo )
Kamis, 13 November 2014 | 02:25 WIB

Jakarta - Dewan Daging Sapi Nasional (DDSN) meragukan surplus daging sapi sebanyak 140.000 ton hingga Oktober 2014 sebagaimana diungkapkan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.

Ketua DDSN Soehadji di Jakarta menyatakan jika benar terjadi surplus daging sapi mestinya harga di dalam negeri turun.

"Meski pasokan daging surplus, harga daging sapi saat ini masih tinggi," kata mantan Dirjen Peternakan itu, Rabu (12/11)

Sebelumnya Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Syukur Iwantoro menyatakan, pasokan daging sapi surplus 140.000 ton hingga Oktober 2014.

Soehadji menyatakan, pihaknya meragukan akurasi data yang disampaikan dirjen tersebut.

"DDSN menghadapi situasi yang membingungkan dengan adanya pernyataan petinggi kementerian pertanian yang mengakui secara terbuka telah salah hitung program swasembada daging. Padahal data yang digunakan adalah hitungan sensus Badan Pusat Statistik (BPS) 2011," kata Soehadji.

Sementara itu Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia (Aspidi), Thomas Sembiring mengatakan, persediaan daging sapi dalam negeri diyakini belum berlebih jumlahnya.

Hal tersebut, menurut dia didasarkan pada perhitungan-perhitungan yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

"Ada pejabat berwenang yang mengatakan daging sapi over supply, itu aneh dari mana menghitungnya. Menurut saya tidak ada itu persediaan berlebih," katanya.

Menurut dia, persediaan daging yang ada di dalam negeri itu berasal dari sapi lokal maupun impor dan daging beku dari luar negeri. Untuk populasi sapi hidup di dalam negeri saja, lanjutnya, belum berada pada angka yang memadai.

"Kalau daging impor itu per tiga  bulan, dan itu sudah habis dalam waktu berjalan. Nah yang sekarang masih tersisa itu kan untuk pemasukan Oktober-Desember. Untuk periode yang terakhir ini sisanya pun paling tinggal 10 ribu ton," ujar Thomas.

Pada kesempatan itu dia juga mengatakan data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan rakyat tingkat bawah baru mengonsumsi daging sapi sebanyak 2 kg/tahunnya.

"Data BPS menyebutkan bahwa masyarakat bawah kita baru konsumsi daging 2 kg/tahun. Nah bagaimana mungkin kita over supply jika Malaysia saja sudah 7 kg/tahunnya," katanya.

Thomas menilai menilai pernyataan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan lebih banyak unsur politisnya.

Sumber: Antara