Beras Plastik, Singkong, dan Beras Cerdas (2)
Logo BeritaSatu
INDEX

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-4)   |   COMPOSITE 5975 (-54)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-17)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (-0)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-16)   |   IDXHIDIV20 416 (-2)   |   IDXINDUST 956 (-20)   |   IDXINFRA 871 (-2)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-4)   |   IDXPROPERT 877 (-10)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-2)   |   IDXTECHNO 3348 (-19)   |   IDXTRANS 1056 (-5)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-10)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-5)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-2)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Beras Plastik, Singkong, dan Beras Cerdas (2)

Selasa, 26 Mei 2015 | 05:31 WIB
Oleh : Heri Soba / HS

Demikian juga pada level pemerintahan daerah, jajaran terkait, hingga aparat penegak hukum tidak lepas dari upaya mengecek dan mencegah peredaran beras palsu tersebut. Hampir setiap daerah dan sejumlah instansi semakin sibuk melakukan pemeriksaan ke pasar dan sentra penjualan beras.

Salah satu contoh adalah Pemerintah Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, yang mengimbau warga di daerah itu meningkatkan kewaspadaan terkait peredaran beras plastik. "Masyarakat harus selektif, teliti, cermat dan berhati-hati dalam membeli beras karena saat ini marak beredar beras plastik," kata Bupati Bengkalis Herliyan Saleh di Bengkalis, Sabtu (23/5).

Faktanya, tidak hanya Bengkalis melakukan berbagai upaya tersebut. Hampir semua kabupaten dan kota-kota besar sibuk melakukan operasi dan pencegahan tersebut. Di semua daratan Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali-Nusa Tenggara hingga Papua berjibaku untuk mengecek keberadaan beras yang berbahaya itu. Energi, waktu, dan biaya yang dikeluarkan cukup besar untuk melakukan berbagai aktivitas dan koordinasi tersebut.

Namun, sebagaimana Jokowi, motif ekonomi saja sulit dipahami. Untuk itu harus digali lebih jauh. Darimana beras bermasalah tersebut? Sejauh mana dampak dan distribusinya hingga bagaimana korban di sejumlah daerah? Atau ini sekadar pengalihan isu yang sedang hangat (mulai dari politik hingga prostitusi artis dan pejabat), ataukah ada agenda tertentu untuk melancarkan impor beras? Semua dugaan di atas harus dikonfirmasi sehingga dalam waktu secepatnya sudah tuntas dan tidak ada lagi polemik berkepanjangan.

Beras yang Baik dan Sehat
Bagi perintis beras sintentis yang juga pakar pangan dari Lembaga Penelitian Universitas Jember, Achmad Subagio, isu beras yang dicampur dengan plastik tersebut, menjadi momentum agar masyarakat mengetahui beras yang baik dan sehat. Menurut penemu beras berbahan baku singkong atau yang dikenal dengan Beras Cerdas ini, masyarakat selama ini salah kaprah terhadap beras yang sehat dan baik. Setidaknya ada tiga hal yang dinilai keliru tersebut, yakni beras harus putih, pulen, dan wangi. “Padahal, sifat asli beras itu sendiri bukan putih cerah melainkan putih kecoklatan sehingga beras yang sangat putih patut diwaspadai,” katanya.

Demikian juga semakin wangi dan semakin pulen sebenarnya bukanlah beras dengan kategori yang berkualitas. Beras sebenarnya tidak ada yang berbau wangi tetapi lebih mengarah pada tidak berbau dan sedikit tengik. “Jadi keliru jika ada beras yang sangat wangi,” katanya. Demikian juga beras pulen justru tidak sehat karena sangat memaksa kerja insulin tubuh manusia.

Dia menjelaskan, keberadaan plastik dalam beras sebenarnya bukanlah campuran belaka, tetapi menjadi bahan perekat atau sejenis polimer dari butiran beras. Perekat biasa digunakan dalam membuat beras tiruan atau lebih tepatnya beras sintetis karena pembuatannya dari bahan karbohidrat selain beras dari padi. Perekat itu untuk menguatkan struktur beras sintetis tadi. Dalam kasus yang diduga beras plastik sebenarnya bisa saja polivinil klorida menjadi perekat.
“Dalam pembuatan Beras Cerdas dari tepung singkong, kami gunakan santan sebagai perekat,” kata Achmad yang juga guru besar Fakultas Pertanian, Universitas Jember ini.

Disebut Beras Cerdas karena, pertama, beras dikonstruksikan dari tepung singkong lokal modified cassava flour (mocaf). Kedua, cerdas dalam proses karena beras tersebut diproses dari teknologi tingkat rendah (bisa diproduksi oleh warga) hingga perusahaan. Cerdas ketiga adalah dapat dimasak secara sederhana seperti kebiasaan orang Indonesia dalam mengolah beras. Sedangkan cerdas keempat adalah pemanfaatan kesehatan (bahan baku disesuaikan untuk target spesifik kesehatan tertentu seperti malnutrisi).


BAGIKAN




BERITA LAINNYA

Pemerintah Ambil Alih Blok Mahakam dan Freeport

Ambil alih juga menjaga agar manfaat fiskal dan ekonomi untuk Indonesia dari Freeport semakin besar.

EKONOMI | 26 Mei 2015

Beras Plastik, Singkong, dan Beras Cerdas (1)

Pernah juga beredar beras yang diberi pemutih agar tampil lebih bagus.

EKONOMI | 26 Mei 2015

Mondelez Genjot Coklat Indonesia, Mayoritas Petani Kakao Belum Tersentuh

Cocoa Life memberikan pelatihan, perlengkapan pertanian, dan pusat pembibitan baru bagi petani

EKONOMI | 26 Mei 2015

Simas Net Catatkan Pembayaran Klaim Capai Rp 300 Juta

Perseroan cukup besar berinvestasi untuk infrastruktur teknologi.

EKONOMI | 26 Mei 2015

Inalum Capai Laba Dua Kali Lipat

Pasar domestik menyerap 142.925 ton aluminium batangan pada 2014, meningkat 83.362 ton pada 2013.

EKONOMI | 26 Mei 2015

Maruarar: "Tax Amnesty" Adalah Bagian dari Rekonsiliasi Bangsa

Tax amnesty akan sangat membantu negara lepas dari beban penerimaan pajak yang targetnya belum terpenuhi.

EKONOMI | 26 Mei 2015

Nike Football Rilis Hypervenom II

Hypervenom II dirancang untuk pemain penyerang yang cerdik di lapangan.

EKONOMI | 25 Mei 2015

BKPM Hadirkan Investor dari 12 Negara di RIF Mataram

Investor tersebut dihadirkan oleh Kantor Perwakilan BKPM di Korea Selatan, Jepang, Taiwan, Australia dan Inggris.

EKONOMI | 25 Mei 2015

BKPM Jaring Minat Investasi US$ 151 Juta di NTB

Investor tertarik di bidang pembangkit tenaga listrik berbasis biomassa dan tenaga surya, industri pariwisata, dan industri garam.

EKONOMI | 25 Mei 2015

Mitra Adiperkasa Akan Luncurkan Strategi "Omni-Channel"

Agenda tersebut merupakan cetak biru untuk melakukan transformasi Map menjadi peritel "omni-channel" di Indoesia.

EKONOMI | 25 Mei 2015


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS