ESDM Jadikan Lahan Kritis di Kalteng sebagai Pusat Bioenergi

ESDM Jadikan Lahan Kritis di Kalteng sebagai Pusat Bioenergi
Ilustrasi energi baru dan terbarukan (tambang batubara) ( Foto: Istimewa )
Rangga Prakoso / FER Senin, 13 Juli 2015 | 16:22 WIB

Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjalin kerjasama program pengembangan bioenergi Lestari bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Tengah (Kalteng), dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pulau Pisau dan Katingan. Kerjasama ini, merupakan program pemanfaatan lahan terdegradasi, lahan kritis dan lahan bekas tambang untuk mendukung pengembangan bioenergi.

Kerjasama itu dituang dalam Nota Kesepakatan Bersama yang ditandatangani oleh Menteri ESDM Sudirman Said, bersama dengan Gubernur Kalteng, Agustin Teras Narang, Bupati Pulang Pisau, Edy Pratowo dan Bupati Katingan, Ahmad Yantenglie di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (13/7).

Selain itu di tempat yang sama dilakukan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama Program Pengembangan Bioenergi Lestari antara Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Rida Mulyana bersama Gubernur Agustin Teras Narang, Bupati Edy Pratowo dan Bupati Ahmad Yantenglie.

Sudirman mengatakan, tantangan yang dihadapi dalam pengembangan EBTKE selama ini adalah dalam mengintegrasikan hulu produksi bahan baku dengan hilir konsumer pengguna. Terdapat beberapa kasus kegagalan bangkitnya industri bioenergi di Indonesia yang disebabkan oleh tidak terhubungnya keseluruhan rantai nilai. Oleh karena itu, penandatanganan ini merupakan langkah untuk mengurai sumbatan yang terjadi selama ini.

"Dengan terjalinnya kerja sama antara Kementerian ESDM dengan Provinsi Kalimantan Tengah ini maka tantangan yang ada dalam industri bioenergi, yaitu pengintegrasian hulu produksi bahan baku dengan hilir konsumer pengguna dapat teratasi serta dapat mendukung target pertumbuhan EBT," kata Sudirman.

Dirjen Rida menambahkan, perjanjian kerjasama yang ditandatangani hari ini berlaku selama 5 tahun sejak tanggal penandatanganan dan dapat diperpanjang, diubah, maupun diakhiri, sesuai dengan kesepakatan para pihak.

"Setelah penandatanganan ini, akan dilakukan program-program penunjang program pengembangan Bioenergi Lestari," ujarnya.

Rida memaparkan program penunjang itu antara lain melakukan kegiatan studi kelayakan pada lokasi-lokasi pengembangan bioenergi lestari. Kemudian membangun miniatur hutan/kebun bioenergi seluas 20 hektar sebagai etalase program bioenergi lestari pada lahan aset Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah yang berlokasi di Kalampangan, Palangkaraya. Setelah itu dilakukan penanaman dan pemeliharaan tanaman bioenergi pada lahan terdegradasi, lahan kritis, dan lahan bekas tambang.

"Memfasilitasi masuknya investasi dalam rangka pelaksanaan program bioenergi lestari serta memfasilitasi pemasaran produk bioenergi," ujarnya.