Indonesia Perlu Belajar Pengolahan Ikan Patin dari Vietnam

Indonesia Perlu Belajar Pengolahan Ikan Patin dari Vietnam
Ikan Patin ( Foto: Istimewa )
Gita Rossiana / PCN Selasa, 15 Desember 2015 | 13:07 WIB

Jakarta-Menjadi negara yang memiliki potensi besar di sektor kelautan dan perikanan, tidak lantas membuat industri perikanan Indonesia berkembang pesat. Kurang berkembangnya sektor pengolahan ikan menjadi salah satu penyebabnya.

Ketua Pembina Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I) Thomas Darmawan, Indonesia perlu belajar cara meningkatkan produksi ikan dari negara lain. "Tidak perlu jauh-jauh, Indonesia dapat belajar dari Vietnam,"jelas dia di Jakarta, Selasa (15/12).

Thomas menjelaskan, untuk mengembangkan produksi ikan, Vietnam melakukan pengembangan dan pengolahan produk ikan patin yang dikenal dengan ikan Dori Vietnam. Padahal, dahulu Vietnam belajar tentang pengelolaan dan pembudidayaan ikan patin dari Indonesia, yakni di Sungai Batanghari, Sumatera.

"Vietnam melakukan berbagai pemanfaatan dari ikan patin dan strategi bisnisnya, ini yang tidak banyak kita lakukan," lanjut dia.

Vietnam, menurut dia, mengolah seluruh bagian ikan patin. Limbah kulitnya dipergunakan untuk bahan kolagen yang banyak dipakai untuk kosmetika. Sisa dagingnya dimanfaatkan untuk minyak ikan atau protein konsentrat. Selain itu, kepala dan tulang ikan patin dimanfaatkan menjadi tepung ikan.

Dengan sistem pengolahan ikan patin ini, total ekspor ikan Vietnam mencapai US$ 6,13 miliar. Dari nilai tersebut, sekitar US$ 1,8-2 miliar berasal dari ekspor ikan patin.

Di tingkat dunia, Vietnam cukup disegani dengan menghasilkan 96% pasokan ikan patin dunia. Biaya produksi mencapai Rp 8.000 per kilogram dan SDM Vietnam bisa mengerjakan filet ikan patin sebanyak 3 hingga 4 ekor ikan patin per menit. Adapun produksi ikan patin bisa mencapai 400 ton ikan per hektare dengan total luas kolam mencapai 6.000 hektare.

"Kegiatan produksi dan pengolahan terintegrasi di sepanjang delta Sungai Mekong, mulai dari pembibitan, budidaya, hingga pemrosesan. Kalau di Indonesia tersebar di mana-mana, akhirnya menurunka produktivitas dan hasil produksi," ujar dia.

Sumber: Investor Daily