Multifinance Harus Tingkatkan Pembiayaan Produkif
Logo BeritaSatu

Multifinance Harus Tingkatkan Pembiayaan Produkif

Rabu, 13 Januari 2016 | 07:31 WIB
Oleh : Devie Kania / FMB

Jakarta – Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) memprediksi total pembiayaan industri multifinance berpotensi hanya tumbuh single digit sepanjang tahun ini, seperti halnya pada 2015. Oleh sebab itu, APPI mengimbau pelaku usaha di multifinance mulai meningkatkan bisnis pembiayaan ke segmen produktif guna mencapai pertumbuhan kinerja yang lebih baik dari tahun lalu.

Sekretaris Jenderal APPI Efrinal Sinaga memprediksi, kenaikan total pembiayaan industri perusahaan multifinance tidak lebih dari 5 persen tahun lalu. Padahal sebelumnya, asosiasi meyakini total penyaluran pembiayaan industri dapat meningkat sebesar 8 persen secara year on year (yoy). Untuk itu, ia menilai, perusahaan multifinance lebih baik meningkatkan pembiayaan yang mendukung modal kerja, yang bertujuan mendukung pembangunan di Indonesia.

Selain itu, lanjut Efrinal, pembiayaan konsumtif juga cenderung riskan berdampak terhadap kenaikan rasio pembiayaan bermasalah (non performing financing/NPF) di kondisi perekonomian yang melambat. “Jadi pembiayaan jenis produktif itu harus digenjot. Saat ini, Pokja (kelompok kerja) pembiayaan maritim, UKM (usaha kecil dan menengah), dan koperasi masih terus berjalan, dan diharapkan dapat berjalan dalam waktu dekat,” ujar dia kepada Investor Daily belum lama ini.

Adapun, melalui Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 29/POJK.5/2014 dinyatakan perusahaan multifinance diizinkan menggarap pembiayaan investasi di infrastruktur. Salah satu syarat yang diberikan OJK, yakni perusahaan tersebut harus memiliki ekuitas lebih besar dari Rp 1 triliun. “Pembiayaan sektor infratruktur sebetulnya luas, bisa ke peternakan, pertanian, pariwisata, hingga jalan tol dan power plant. Kendati, kalau untuk jalan tol mungkin lebih tepat kalau dilakukan secara sindikasi atau konsorsium,” ungkap Efrinal.

Mengenai lini usaha multifinance, Efrinal memproyeksi, pembiayaan factoring memiliki ruang tumbuh yang besar tahun ini. Sebab, Kementerian Perikanan dan Kelautan (KKP) RI akan mengadakan 3.000 unit kapal dengan senilai Rp 2,5 triliun. “Jika itu diberikan ke galangan kapal dan bisa di factoring-kan tentu merupakan potensi yang menarik bagi multifinance,” tutur dia.

Kemudian, Efrinal menilai, tahun ini pembiayaan sewa guna usaha masih sulit tumbuh tinggi. Kendati, APPI melihat ada harapan untuk kenaikan di jenis pembiayaan tersebut jika pencairan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) maupun implementasi pembangunan infrastruktur tahun ini berjalan sesuai harapan dan cepat.

“Namun, perlu diakui beberapa hal tersebut mungkin tidak akan membuat total pembiayaan industri perusahaan multifinance naik menjadi double digit pada akhir 2016. Sebab, selama ini bisnis multifinance besar di alat berat dan konsumtif. Di sisi lain, lini bisnis baru yang berpotensi juga tengah dalam tahap pembelajaran,” jelas dia.

Berdasarkan ikhtisar kinerja keuangan industri perusahaan multifinance yang dipublikasi OJK pekan lalu, pembiayaan sewa guna usaha menurun 1,99 persen (yoy) dari Rp 111,12 triliun menjadi Rp 108,91 triliun pada November 2015. Kemudian, penurunan bisnis pembiayaan di industri ini juga terlihat dari pembiayaan konsumer yang turun 8,10 persen (yoy) dari Rp 243,92 triliun menjadi Rp 224,15 triliun. Dari sisi tren pembiayaan periode Januari-November 2015 berbanding tahun 2014, nominal pembiayaan konsumer pun menurun jauh.

Pada November 2014, pembiayaan konsumer industri perusahaan multifinance tumbuh 8,45 persen dari posisi Januari 2014 yang mencapai Rp 224,92 triliun. Sementara, November tahun lalu pembiayaan konsumer industri ini justru turun 9,08 persen dari pencapaian Januari 2015 yang menyentuh posisi Rp 246,54 triliun.

“Penjualan kendaraan memang lagi menurun, terkait penurunan daya beli masyarakat di tengah situasi ekonomi yang melambat. Kemudian, menjelang akhir tahun memang ada tren penurunan pembelian kendaraan. Sebab, orang tentu memilih pergantian tahun baru agar tahun kendaraan mereka tidak menjadi tahun 2015, tapi 2016,” ujar Efrinal.

Kendati ada lini usaha yang melambat, data OJK juga menunjukkan, tren pertumbuhan pembiayaan kartu kredit di industri perusahaan multifinance terus positif. Secara yoy, lini usaha tersebut tumbuh signifikan dari Rp 25,17 miliar menjadi Rp 86 miliar. Kemudian, bisnis factoring juga masih tumbuh 15,64 persen (yoy) dari Rp 9,08 triliun menjadi Rp 10,50 triliun pada November 2015.

Sumber: Suara Pembaruan


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

BNI dan BRI Segera Layani Pembayaran E-Toll

Realisasi proses integrasi Himbara dengan PT Jasa Marga (Persero) terkait pembayaran e-Toll diprediksi dapat dilakukan pada minggu ketiga Januari 2016

EKONOMI | 13 Januari 2016

Mendagri Setuju, Pendirian Bank Banten Dilanjutkan

Pekan depan akan dikeluarkan Permendagri yang mengatur tentang pembentukan Bank Banten.

EKONOMI | 13 Januari 2016

Temuan KPK: Porsi Daerah Blok Migas Banyak Dinikmati Swasta

Dalam kasus Blok Cepu, kepemilikan swasta di atas 70%, sementara pemda mendapat sisanya.

EKONOMI | 13 Januari 2016

Musim Lebaran, Tol Trans-Sumatera 98 Km Ditargetkan Fungsional

Kontraktor bisa menyelesaikan pekerjaan hingga jalan tanah atau aspal dulu, dan yang jelas jalan bisa dilewati saat musim mudik nanti

EKONOMI | 13 Januari 2016

La Nina Ancam Produksi Palawija, Tembakau, dan Garam

Komoditas yang cukup sensitif dengan kelebihan curah hujan adalah palawija seperti kedelai, saat akan panen harusnya curah hujan berkurang.

EKONOMI | 13 Januari 2016

Transaksi Pelanggan TCASH Meningkat 150% Selama 2015

Kenaikan TCASH yang signifikan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya menunjukkan adanya sambutan positif dari masyarakat terhadap layanan mobile money

EKONOMI | 12 Januari 2016

Bank Artos Baru Akan Buka Cabang Baru

Saat ini memang masih fokus ke bisnis kemitraan namun kedepan kami memang berencana menambah kantor cabang baru.

EKONOMI | 12 Januari 2016

Bank Artos Optimistis Kredit Tumbuh 20% di 2016

Dalam penyaluran kredit di 2016 perusahaan masih akan fokus pada kredit Usaha Mikro Kecil Menengah.

EKONOMI | 12 Januari 2016

Pacu Penyaluran Kredit, Bank Artos Andalkan Segmen UMKM

Bank Artos menyasar kenaikan kredit, aset, dana pihak ketiga (DPK) sebesar 20 persen.

EKONOMI | 12 Januari 2016

Tahun Ini, Bank Artos Sasar Kenaikan Laba 20 Persen

Pihak Bank Artos optimistis dapat meraih kenaikan laba sebesar 20 persen pada akhir 2016.

EKONOMI | 12 Januari 2016


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS