Apindo Sebut Dua Hal Ini Penyebab PHK Massal Panasonis dan Toshiba

Apindo Sebut Dua Hal Ini Penyebab PHK Massal Panasonis dan Toshiba
Ilustrasi Toshiba. ( Foto: ist )
Mikael Niman / WBP Jumat, 5 Februari 2016 | 10:48 WIB

Bekasi - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengatakan permasalahan pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi pada PT Panasonic dan PT Toshiba, di Kawasan Industri East Jakarta Industrial Park (EJIP), Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, tidak terlepas dari dua hal. Pertama, tingginya upah tenaga kerja di Kabupaten Bekasi. Kedua, modernisasi mesin perusahaan yang tidak lagi mengandalkan sumber daya manusia (SDM).

"Kami nelihat permasalahan tersebut karena dua hal yakni employee cost dan alih teknologi mesin di perusahaan," ujar Wakil Sekretaris Umum Apindo, Aditya Warman, Jumat (5/2).

Dia menjelaskan, upah minimum kabupaten/kota (UMK) buruh di Kabupaten Bekasi hingga mencapai Rp 3,8 juta, dianggap sebagai salah satu penyebab kedua perusahaan asal Jepang tersebut melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal. "Saat ini, upah karyawan hingga mencapai Rp 3,8 juta per bulan. Karyawan yang baru masuk dan belum memiliki kompetensi atau sertifikasi dianggap sama saja dengan karyawan yang pintar," tuturnya.

Semestinya, kata dia, karyawan yang baru masuk diberikan upah minimum. Setelah memiliki kualifikasi, perusahaan memberikan insentif. "Bukan dipukul rata semua karyawan. Karyawan baru digaji dengan upah minimun, nanti setelah setahun atau dua tahun diberikan insentif menuju upah layak. Saat ini, kami melihat karyawan baru masuk, sudah diberikan upah layak," ungkapnya.

Dia menjelaskan, alih teknologi juga menjadi faktor penyebab PHK massal tersebut. "Semakin tinggi biaya yang dikeluarkan untuk upah karyawan, perusahaan harus survive dengan cara memodernisasi mesin-mesinnya agar efektif sehingga bisa melakukan efisiensi," katanya.

Menurutnya, modernisasi teknologi mesin sebagai upaya agar perusahaan tidak bergantung pada karyawan. "Secara umum, perusahaan harus mampu menata teknologi mesin untuk bisa survive," imbuhnya.

Diperkirakan PT Panasonic akan melakukan PHK besar-besaran sebanyak 2.000 karyawan, sementara PT Toshiba bakal mem-PHK 865 karyawan. Saat ini sedang berlangsung negosiasi bipartit antara manajemen perusahaan dengan karyawan untuk pemberian pesangon.

Menurut keterangan Ketua Advokasi Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), Sarino, buruh PT Toshiba memang masih memproduksi. Ada sebagian karyawan yang masih beroperasi di dalam pabrik. Mereka merupakan pegawai tetap, sedangkan pegawai kontrak sudah tidak lagi bekerja. Kontrak mereka tidak lagi diperpanjang perusahaan. Sementara itu, kata dia, pegawai PT Panasonic telah dirumahkan.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Trasnmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Bekasi, Effendi, mengakui pemerintah daerah telah mengetahui rencana PHK massal tersebut sejak Agustus 2015. "Hingga kini, sedang melakukan perundingan bipartit. Dan jumlah kepastian pekerja yang di-PHK, belum ada laporannya," imbuhnya.

Sumber: Suara Pembaruan