Persaingan Ojek Online: Go-Jek "Bakar Uang", Grab Tumbuh Pesat
Senin, 25 Juli 2016 | 17:43 WIB
Jakarta - Go-Jek dan GrabBike adalah dua penyedia jasa ojek online terbesar di ibukota saat ini. Persaingan keduanya dalam memperebutkan pasar transportasi online di Jabodetabek sangat sengit. Menurut sebuah data, Go-Jek mulai mengalami kesulitan, sementara GrabBike terus tumbuh.
Menurut bocoran data yang diterima The Jakarta Globe, Go-Jek saat ini berada dalam posisi tertekan karena pertumbuhan yang melambat dan tingginya subsidi yang dikucurkan perusahaan kepada pengemudinya. Sementara di sisi lain, Grab berhasil mendorong pertumbuhan dan di saat yang bersamaan menekan subsidi.
Menurut bocoran tersebut, Go-Jek menghabiskan subsidi US$ 73 juta dalam periode enam bulan dari Oktober 2015 hingga Maret 2016, sementara pertumbuhan (completed order) hanya 12 persen. Hal ini menunjukkan bahwa Go-Jek sulit tumbuh tanpa subsidi dan pertumbuhan akan melambat jika subsidi dikurangi.
Tahun lalu, Go-Jek mengalami pertumbuhan yang tinggi karena paket promosi Rp 10.000 untuk 25 kilometer pertama. Sebelumnya tarif Go-Jek adalah Rp 4.000 per kilometer.
Wiki Febrianto, seorang pengemudi Go-Jek, mengaku dulu dia bisa membawa pulang Rp 8 juta per bulan dengan tarif Rp 4.000/km. Namun pendapatannya sekarang turun menjadi Rp 3 juta sampai Rp 5 juta (termasuk bonus).
Sementara itu, pangsa pasar Grab di pasar ojek terus meningkat. Grab mengaku memiliki pangsa pasar di atas 50 persen per Maret, 2016. Prestasi ini dicapai tiga kuartal lebih cepat dari target.
Menurut data dari Grab, completed order GrabBike tumbuh 300 persen sejak awal tahun hingga pertengahan Juli sementara subsidi per order berkurang hingga 50 persen.
Fokus pasar Grab masih di Jakarta dengan populasi 10,18 juta juta jiwa, namun perusahaan yang didirikan oleh Anthony Tan pada tahun 2012 ini mulai membidik pasar Jabodetabek yang memiliki penduduk 38 juta.
Charlie (35), seorang pengemudi GrabBike, mengaku dirinya bisa membawa pulang Rp 6 juta per bulan termasuk bonus. "Uangnya lebih banyak dibanding waktu kerja di perusahaan ekspedisi," kata Charlie.
Ketua Indonesia E-Commerce Association (idEA) Daniel Tumiwa mengatakan bahwa baik Grab maupun Go-Jek memiliki peluang untuk mempertahankan bisnisnya di Indonesia.
"Mereka masih akan tumbuh karena jasa yang mereka tawarkan sesuai dengan kebutuhan Indonesia, terutama kelas menengah," kata Daniel.
Dia juga mengatakan dalam bisnis startup, wajar jika perusahaan tidak mencetak laba atau rugi dalam masa pertumbuhan. "Yang penting tumbuh dulu, sustainability belakangan," katanya.
Sumber: JG
Saksikan live streaming program-program BTV di sini
Bagikan
BERITA TERKAIT
BERITA TERKINI
Jelang Pilpres 2024, JK Sarankan Jokowi Tak Terlibat Terlalu Jauh dalam Politik
Ning dan Santri di Surabaya Doakan Ganjar Pranowo Jadi Pemimpin yang Merakyat
Karyawati Cikarang Korban Ajakan Staycation Atasannya Tidak Bekerja Usai Buka Suara ke Publik
TAG TERPOPULER
ARTIKEL TERPOPULER
5
Skor Survei Capres: Ganjar 7, Prabowo 3, dan Anies 0
B-FILES
Piala Dunia U-20 dan Benang Kusut di Indonesia
Guntur Soekarno

AC Milan Hantam Lazio 2-0 di San Siro





