2017, Ekonomi Lebih Menjanjikan

2017, Ekonomi Lebih Menjanjikan
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi (Antara/Sigid Kurniawan) ( Foto: Antara )
Yosi Winosa / Agustiyanti / Muhammad Rausyan Fikry / Thomas Ekafitrianus / Hari Gunarto / AZ Senin, 10 Oktober 2016 | 11:00 WIB

Jakarta-Perekonomian Indonesia tahun depan lebih menjanjikan dan membaik. Sukses program amnesti pajak (tax amnesty) telah menumbuhkan kepercayaan investor dan dunia usaha. Keberhasilan amnesti pajak juga akan memberikan ruang fiskal yang lebih baik, sehingga belanja infrastruktur bakal lebih agresif.

Ekspor diprediksi lebih baik dari tahun ini karena bangkitnya harga komoditas. Konsumsi masyarakat membaik dan tetap menjadi motor pertumbuhan. Dampak paket kebijakan ekonomi yang digulirkan pemerintah akan terasa pada tahun depan yang bakal mendongkrak investasi.

Kurs rupiah dan laju inflasi untuk tahun 2017 dan 2018 bakal tetap terkendali seperti level tahun ini. Sementara itu, indeks harga saham gabungan (IHSG) bakal terus meningkat seiring kenaikan laba para emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan tetap derasnya aliran modal masuk (capital inflow).

Demikian rangkuman pandangan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara, Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung, Sekretaris Menko Perekonomian Lukita Dinarsyah Tuwo, Department Head Macroeconomic and Financial Market Research Bank Mandiri Andry Asmoro, ekonom BRI Akbar Suwardi, ekonom Kenta Institute Eric Sugandhi, analis Asjaya Indosurya Securities William Surya Wijaya, dan analis Investa Saran Mandiri Hans Kwee. Mereka dimintai pandangan secara terpisah, di Jakarta, akhir pekan lalu, tentang gambaran perekonomian tahun ini, tahun depan, dan pada 2018.

Berdasarkan proyeksi Bank Dunia, perekonomian Indonesia pada 2016, 2017, dan 2018 akan tumbuh masing-masing 5,1%, 5,3%, dan 5,5%, lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan emerging economies sebesar 3,5%, 4,4%, dan 4,7%. Sedangkan ekonomi global diproyeksikan tumbuh 2,4%, 2,8%, dan 3%.  

Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia versi Bank Dunia tahun ini lebih rendah dari asumsi makro APBN-P 2016 sebesar 5,2%. Namun, proyeksi Bank Dunia tahun depan lebih tinggi dari ancar-ancar pemerintah. Dalam asumsi makro RAPBN 2017, asumsi pertumbuhan ekonomi dipatok 5,1%.

Perbaikan Ekonomi

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara menyebut tahun 2017 sebagai periode berlanjutnya perbaikan ekonomi Indonesia. Kondisi ekonomi dan bisnis akan lebih optimistis dan menjanjikan. BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada kisaran 5,1-5,5%.

"Faktor utamanya adalah confidence dunia usaha dan investor. Kami yakin sekarang lebih baik setelah ada tax amnesty. Dunia usaha bisa mendesain perencanaan lebih baik, apakah mau ambil kredit atau menggunakan uang sendiri yang sudah dideklarasi. Jadi, mereka bisa menghitung lebih cermat," ujar Mirza di Jakarta, Jumat (7/10).

Saat ini, menurut dia, harga komoditas, seperti kelapa sawit, karet, dan batubara mulai membaik, terlihat pada perbaikan ekonomi di wilayah Sumatera maupun Kalimantan yang ekonominya berbasis komoditas. "Kondisi bisnis seharusnya lebih baik tahun depan karena ada kepastian mengenai tax amnesty dan sisi permintaan," ujar Mirza.

Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung menuturkan, dana repatriasi amnesti pajak hingga September 2016 mencapai Rp 137 triliun. Jika hingga akhir tahun bertambah menjadi Rp 180-200 triliun, hal itu akan menaikkan rasio dana pihak ketiga (DPK) perbankan terhadap produk domestik bruto (PDB) sekitar 1,7-2%. Dana itu pun bersifat lebih permanen dibandingkan hot money aliran dana asing yang banyak masuk ke portofolio.

Sukses amnesti pajak yang menaikkan basis pajak juga akan memberikan ruang fiskal yang lebih baik pada tahun depan.
Sedangkan Sekretaris Menko Perekonomian Lukita Dinarsyah Tuwo menjelaskan, pihaknya terus mendorong pertumbuhan ekonomi serta menjaga stabilitas fiskal dan moneter. Dengan demikian, ekonomi diharapkan dapat terus meningkat pada 2017 dan 2018, ditopang oleh amnesti pajak dan investasi.

Setelah menggulirkan 14 paket kebijakan ekonomi, kata Lukita, pemerintah pada tahap berikutnya mulai fokus mendorong deregulasi di daerah. "Sebab, banyak hal yang sudah diputuskan di pemerintah pusat tidak berjalan maksimal, karena lokasi investasi ada di daerah," ujarnya.

Secara terpisah, Department Head Macroeconomic and Financial Market Research Bank Mandiri Andry Asmoro menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini diperkirakan hanya 5%, pada 2017 sekitar 5,1-5,2%, dan pada 2018 di level 5,5%. Sedangkan inflasi tahun ini akan tembus 3,3%, tahun 2017 di level 4,2%, dan tahun 2018 sekitar 4,5-5%.

Andry juga memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tahun ini dan tahun depan mencapai Rp 13.100, sedangkan pada 2018 di kisaran Rp 13.000-13.300.

Tahun depan, kata dia, pertumbuhan ekonomi akan ditopang belanja pemerintah. Investasi swasta juga akan lebih baik. Ditambah lagi dampak program amnesti pajak baru terasa tahun depan, terutama dari dana-dana repatriasi. “Dana-dana repatriasi dapat meningkatkan likuiditas di pasar uang. Harga CPO dan batubara memang naik, tapi belum rebound,” kata dia.

Andry juga menilai, apabila implementasi paket-paket kebijakan ekonomi cukup mulus, hal itu bakal menjadi pendorong pertumbuhan tahun depan. Namun, paket itu tetap harus diikuti dengan transformasi struktural agar pertumbuhan ekonomi lebih sustainable.

“Sebagai contoh, perlu ada insentif di sektor-sektor yang memerlukan. Perlu dikembangkan industri bahan baku agar dapat mengurangi impor. Pembangunan infrastruktur juga harus diakselerasi,” kata Andry.

Andry meminta pemerintah dan BI mencermati kenaikan Fed funds rate (FFR) sebesar 25 basis poin (bps) pada akhir 2016 dan pertengahan tahun depan yang kemungkinan naik lagi 50-75 bps. Faktor eksternal lain yang perlu diperhatikan adalah ekonomi Tiongkok yang masih lambat.

“Setiap penurunan 1% pertumbuhan ekonomi Tiongkok akan memangkas 0,11% pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sedangkan dampak penurunan 1% ekonomi Amerika Serikat (AS) ke ekonomi Indonesia sekitar 0,05%,” kata dia.

Kepercayaan investor

Ekonom BRI Akbar Suwardi menyatakan, tahun 2017 kondisi global masih sama dengan 2016. Negara berkembang memiliki pertumbuhan ekonomi yang relatif sangat baik dibandingkan dengan yang lain, didukung indikator makro ekonomi. Indonesia merupakan salah satu negara yang paling dilirik investor luar negeri.

Peluang itu harus dimanfaatkan. Tahun 2017 pertumbuhan ekonomi diprediksi 5,2% dibanding tahun ini yang hanya 5%.
Akbar optimistis IHSG tahun depan dalam tren meningkat. Emiten yang bakal berkibar adalah sektor konsumsi, konstruksi, properti, dan perbankan.

Inflasi masih bisa dijaga dalam kisaran 3-4%. Beberapa faktor pendorong inflasi adalah kenaikan harga pangan, tarif listrik, cukai rokok, serta kenaikan administered price seperti tiket kereta api. “Sedangkan kurs rupiah bisa dijaga di Rp 13.200 per dolar AS karena masuknya dana repatriasi dan capital inflow masih meningkat,” kata dia.

Sejumlah faktor positif bakal mendorong pertumbuhan ekonomi, seperti kesuksesan amnesti pajak yang memperluas basis pajak, sehingga penerimaan pajak lebih tinggi, yang berdampak pada tingginya belanja modal, khususnya infrastruktur.

Investasi juga masih bagus, termasuk asing. Apalagi untuk portofolio, Indonesia menjadi destinasi menarik karena imbal hasil yang tinggi. Pendorong pertumbuhan lain adalah ekspor yang lebih baik seiring perbaikan harga komoditas. Konsumsi masyarakat juga akan lebih baik dari tahun ini.

“Suku bunga yang rendah akan mendorong ekspansi, sepanjang permintaan kredit meningkat. Demand kredit naik kalau ekspektasi dan konsumsi masyarakat naik,” kata Akbar. 

Untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi dan bisa menembus 6%, kata Akbar, pemerintah harus mempercepat industrialisasi.

Sementara itu, ekonom Kenta Institut Eric Sugandi memprediksi selama periode 2016, 2017, dan 2018, berturut-turut pertumbuhan ekonomi mencapai 5,1%, 5,3%, dan 5,5%. Laju inflasi diprediksi berada di level 3,0%, 3,5%, dan 3,8%. “Sedangkan kurs rupiah akan berada di posisi Rp 13.300, Rp 13.000, dan Rp 12.800 per dolar AS pada 2018,” tuturnya.

Eric berpendapat, pendorong utama pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun ke depan tetap konsumsi rumah tangga, karena daya beli membaik berkat inflasi yang terkendali dan aktivitas ekonomi meningkat. Faktor kedua adalah investasi karena suku bunga rendah, demand dari rumah tangga membaik, dampak paket-paket kebijakan pemerintah, dan pulihnya kepercayaan investor.

“Faktor-faktor pendukung lainnya adalah belanja infrastruktur untuk memfasilitasi investasi swasta serta pemulihan harga komoditas ekspor,” kata Eric.

Pasar Saham

Adapun untuk pasar saham, Eric Sugandhi yakin IHSG pada akhir tahun ini tembus 5.500, tahun depan 5.700, dan pada 2018 sekitar 6.000. Eric menilai, katalis kenaikan indeks adalah membaiknya laba perusahaan serta risk appetite investor, terutama investor asing, yang meningkat terhadap aset-aset Indonesia.

Analis Asjaya Indosurya Securities William Surya Wijaya mengatakan, tahun depan pelaku pasar masih menunggu realisasi kebijakan pemerintah yang telah dibuat tahun ini. Investor berharap kebijakan tersebut berpengaruh terhadap ekonomi nasional.

Investor juga masih menunggu hasil pemilihan presiden AS. Siapapun yang akan terpilih pasti akan memengaruhi pasar modal domestik, meskipun hanya jangka pendek. “Jika terpilih, efek kedua calon itu tidak akan seperti saat Obama terpilih. Kemungkinan besar presiden AS baru akan meneruskan program Obama,” katanya.

Namun, yang perlu diperhatikan pelaku pasar pada 2017 adalah pergerakan harga komoditas yang sedang dalam tren meningkat. Harga komoditas perlu dijaga agar tidak meningkat signifikan.

William menilai bahwa meningkatnya harga komoditas berpotensi mengalihkan dana investasi pelaku pasar saham. Investor pasti akan melirik pasar lain yang pertumbuhannya lebih prospektif. Selain itu, meningkatnya harga komoditas akan berpengaruh pada sektor riil.

Tahun depan William memprediksi IHSG akan mencapai level 6.000. “Level tersebut memungkinkan apabila penutupan IHSG tahun ini dapat mencapai level tertinggi 2016,” ujar dia.

Target tersebut merupakan target moderat dengan kenaikan indeks sekitar 10%. Tetapi, dia memperkirakan tahun depan masih akan terjadi goncangan-goncangan domestik akibat realisasi kebijakan pemerintah.

Secara terpisah, analis Investa Saran Mandiri Hans Kwee menjelaskan, pasar saham tahun depan seharusnya bisa lebih baik dari tahun ini. The Fed kemungkinan akan meningkatkan suku bunganya dua kali pada 2017. Hal itu akan berpengaruh positif terhadap pasar saham Indonesia.

Menurut Hans, investor memproyeksikan The Fed akan menaikkan suku bunganya empat kali. Dengan kenaikan suku bunga dua kali, FFR tahun depan akan berada pada kisaran 1,25%, padahal pasar memperkirakan di level 2,25% tahun depan.
Investor juga menunggu realisasi kebijakan Inggris setelah keluar dari zona Euro. Dia memprediksi realisasi kebijakan tersebut akan sangat berpengaruh. “Investor khawatir kebijakan Inggris akan berdampak pada perlambatan ekonomi Eropa dan dunia,” kata dia.

Hans memprediksi IHSG tahun depan akan berada pada level 6.000 – 6.100. Ekonomi nasional tahun depan akan lebih bergerak karena jumlah dana masyarakat di bank meningkat. Dana masyarakat tersebut meningkatkan likuiditas yang dapat digunakan untuk menyalurkan kredit bagi investasi. 

 



Sumber: Investor Daily