Pengusaha Sepeda Taiwan ini Ingin MRT Jakarta Segera Jalan

Pengusaha Sepeda Taiwan ini Ingin MRT Jakarta Segera Jalan
Pengusaha sepeda lipat Tern, Joshua Hon, di tokonya di Taipei. ( Foto: Farouk Arnaz/ Beritasatu.com )
Farouk Arnaz / HA Minggu, 16 Oktober 2016 | 23:51 WIB

Taipei — Tak hanya warga Jakarta yang tak sabar menanti beroperasinya kereta angkut massal dalam kota atau mass rapid transit (MRT) di Jakarta, namun juga bagi Joshua Hon. Pendiri dan kapten tim sepeda Tern, Taiwan, yang tinggal lebih dari 3.000 km dari Jakarta itu berharap proyek yang diimpikan oleh warga Jakarta sejak lama itu bisa segera beroperasi.

”Saya datang ke Taiwan sekitar 20 tahun lalu. Saya lahir dan besar di Los Angeles, Amerika. Saat saya datang ke Taiwan dulu, kondisi lalu-lintas di Taipei sini bisa dikatakan mirip dengan Jakarta. Macet dan polusi,” kata Joshua saat ditemui di kantornya di Taipei, Kamis (13/10).

Namun, menurutnya, keadaan saat ini relatif berubah saat sistim transportasi di Taiwan sudah berubah karena hadirnya kereta angkut massal yang beroperasi di jantung kota dan menyentuh semua titik di penjuru kota.

”Akhirnya terjadi perubahan secara perlahan, orang-orang mulai beralih ke kereta dan meninggalkan mobilnya di rumah. Karena jarak stasiun kereta agak lumayan dari rumah dan juga tempat kerjanya juga agak lumayan dari stasiun, maka mereka lalu mengendarai sepeda ke stasiun, naik kereta, kemudian turun stasiun dan lalu naik sepeda lagi ke kantor. Terjadilah, 'ride more, drive less',” ujarnya.

Dan, sepeda yang pas untuk gaya hidup semacam ini, tentu adalah sebuah sepeda lipat yang simpel, nyaman, dan aman -- bukan sepeda balap yang bisa melaju dengan lebih cepat tapi sulit dibawah masuk ke dalam kereta.

Sepeda Tern, masih kata lulusan master Stanford University ini, ”adalah jawabnya karena produk development sepeda ini di Amerika untuk membuatnya jadi cool dan didesign di Finlandia untuk membuatnya tahan cuaca ekstrem.”

Tak ayal, meski baru berusia belia, namun sudah ada 24 paten dan 20 award yang dikantongi merk ini. Distribusi sepeda ini juga telah mencapai ke 73 negara. Joshua juga yakin jika sepedanya itu lebih baik dibanding kompetitornya, Dahon, karena dia pernah juga bekerja untuk produk yang lahir lebih dulu dari Amerika itu.

”Masalah di Asia itu polusi dan akibatnya pemanasan global dan perubahan iklim di mana-mana. Maka hadirnya sebuah angkutan massal seperti kereta adalah jawabnya karena itu akan mengubah cara orang bepergian. Tidak butuh mobil, tidak butuh bensin, tidak butuh biaya parkir mahal. Pesan juga untuk Jakarta, mengecat jalan untuk membuat jalur sepeda tidak akan berhasil, tapi harus membuat jalur khusus bersepeda di trotoar,” lanjutnya.

Tapi mengapa Tern? ”Anda coba dulu baru tahu apa bedanya sepeda ini dengan kompetitor. Yang jelas sepeda ini nyaman dikendarai, mudah dilipat, dan sepeda ini saya jamin awet. Kelemahan sepeda lihat itu selalu ada dua, jika dilipat-buka terus menerus, maka kunci di stang dan frame-nya lama-lama akan dol dan tidak presisi lagi. Akhirnya mengendarainya tidak enak lagi. Goyang-goyang.”

Hal ini, ujarnya, tidak akan terjadi pada Tern yang diproduksi di Vietnam, Tiongkok, Chechnya, dan Indonesia itu. Pasalnya sepeda ini mempunyai sistem dan material pada engsel di stang dan frame yang dibuat khusus dan presisi—dan untuk itu mereka mendapatkan penghargaan. Design dan bahan-bahan itu menurutnya adalah kunci pembeda Tern dengan sepeda lain.

Tern juga selalu hadir dengan proteksi dan safety seperti lampu dan reflective material yang mampu memantulkan cahaya sehingga aman dikendarai saat malam hari. Tern menghindari membuat sepeda lipat yang asal ringan tapi tidak nyaman dan aman. Untuk itupun, Tern telah meluncurkan seri sepeda andalannya, yaitu sepeda lipat listrik yang diberi nama Vektron. Sepeda ini menggendong motor Bosch.

”Sepeda ini akan segera masuk ke pasar Indonesia. Saat ini kami telah bekerjasama dengan pabrik dan distributor di Indonesia untuk membuat sepeda kami disana. Sepeda Tern yang dipasarkan di Indonesia, antara lain, Eclipse P9, Link C7, Link D16, Link P9, Link N8, Verge X30h, Verge X18, Verge X11, Verge X10, Verge S27h, dan Verge N8,” urainya.

Dan Joshua memang ada benarnya setelah Beritasatu.com merasakan perbedaan mengendarai Tern dengan sepeda merk lain.

"Ya pasti benar dan berbeda karena sepeda ini dibuat oleh pesepeda bukan sekadar hasil penelitian oleh pemilik pabrik," tegasnya, lalu tersenyum.



Sumber: BeritaSatu.com