Logo BeritaSatu

Atasi Hama, Asian Agri Minim Gunakan Bahan Kimia

Rabu, 16 November 2016 | 18:02 WIB
Oleh : Alexander Madji / AMA

Pelalawan - Asian Agri tidak terlalu banyak menggunakan bahan kimia dalam membasmi hama di perkebunan sawit mereka selama empat tahun terakhir. Untuk mengatasi hama, mereka menggunakan "kekayaan alam" sendiri. Langkah ini terasa jauh lebih efektif dan sangat murah.

Demikian ditegaskan Group Manajer Buatan Asian Agri Marpitua Saragih kepada wartawan di perkebunan sawit milik Asian Agri di Pelalawan, Riau, Selasa (15/11) sore.

Advertisement

Marpitua bercerita, salah satu hama yang menjadi momok untuk semua perkebunan sawit adalah hama tikus. Untuk mengatasi masalah ini, mereka tidak lagi menggunakan bahan kimia. Mereka cukup mengandalkan burung hantu sebagai predator untuk hama tikus. Karena itu mereka memasang sangkar untuk burung hantu ini satu untuk setiap 25 hektar lahan sawit.

"Kenapa hanya satu pada jarak 25 hektar karena daya jelajah burung ini sejauh 25 hektar. Setelah itu mereka akan kembali ke sarangnya. Burung ini bukan diternak. Mereka hidup bebas, tapi bersarang di sangkar yang kita buat," ceritanya sambil memperlihatkan seekor burung hantu yang diambil dari sangkarnya.

Sementara untuk penyakit-penyakit sawit lainnya seperti genoderma, mereka lebih banyak menggunakan tumbuh-tumbuhan seperti kembang sepatu, bunga pukul delapan, dan antigonon. Pasalnya, tumbuh-tumbuhan ini bisa mencegah genodherma yang melahap daun sawit. Salah satu genodherma itu adalah ulat api yang memakan daun sawit dan menghambat pertumbuhan sawit. Maka untuk mengatasinya, pihak perusahaan memelihara semut sycanus yang menjadi predator untuk ulat api.

"Karena itu, jangan heran kalau di sepanjang jalan di pinggir-pinggir kebun, Anda lihat bunga kembang sepatu. Selain agar memang terlihat cantik juga untuk mencegah hama," ucapnya.

Cara ini, kata dia, jauh lebih hemat bila dibandingkan dengan menggunakan bahan kimia. Sebab satu liter bahan kimia harganya bisa mencapai Rp 400 ribu. "Artinya, kita habiskan miliaran rupiah hanya untuk membeli bahan kimia. Padahal dengan tumbuhan-tumbuhan alam ini biayanya jauh lebih mudah. Lagi pula, tumbuhan-tumbahan ini bisa didapat dengan mudah," jelasnya.

Meski demikian, mereka tetap juga menggunakan bahan kimia untuk menyemprot rumput di gang-gang yang dilewati para pekerja terutama untuk mengangkut hasil. "Tapi jumlahnya sangat sedikit. Tidak lebih dari 20%," pungkasnya.





Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: Suara Pembaruan

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Top 5 News: Harga Bawang Naik hingga Surya Paloh Komentari Reshuffle

Harga bawang merah melonjak dan harapan ibunda Bharada Bharada E agar divonis ringan merupakan dua dari lima berita terpopuler (top 5 news).

EKONOMI | 3 Februari 2023

MettaDC dan APJII Berkolaborasi Tingkatkan Kapasitas Infrastruktur Digital

Melalui data center yang terkoneksi pada aplikasi digital, Indonesia berpotensi menjadi pasar baru untuk teknologi maju

EKONOMI | 3 Februari 2023

Harga Minyak Ambles karena Pesanan Barang Pabrik Turun

Harga minyak melemah pada Kamis (2/2/2023) karena pesanan pabrik terkait industri AS turun dan penguatan dolar.

EKONOMI | 3 Februari 2023

S&P 500 Tertinggi 5 Bulan Ditopang Meta, Dow Jones Terpuruk

S&P 500 naik ke level tertinggi dalam 5 bulan karena kinerja Meta yang lebih baik dari perkiraan dan Dow Jones melemah.

EKONOMI | 3 Februari 2023

ECB dan Bank of England Naikkan Bunga, Bursa Eropa Menguat

Bursa Eropa ditutup menguat karena investor mencermati kenaikan suku bunga bank sentral Eropa dan bank sentral Inggris.

EKONOMI | 3 Februari 2023

38 Perusahaan Siap IPO di BEI Bidik Dana Rp 48 Triliun

BEI mencatat, hingga 2 Februari 2023, tercatat 38 perusahaan yang masuk pipeline penawaran umum perdana (initial public offering/IPO).

EKONOMI | 3 Februari 2023

Analisis Robotic Berbasis AI Bantu Trader Raup Cuan di Market

Analis robotic berbasis AI bisa membantu trader pasar valuta asing atau valas (forex) serta bursa komoditas meraup cuan.AUDOS

EKONOMI | 3 Februari 2023

Uang Kripto Kraken Tutup Kantor di Abu Dhabi

Uang kripto Kraken telah menutup kantornya di Abu Dhabi kurang dari setahun setelah mendapatkan lisensi di wilayah tersebut.

EKONOMI | 3 Februari 2023

Susut 0,18 Persen, Premi Industri Asuransi Tembus Rp 283,91 T

Industri asuransi komersial menutup tahun 2022 dengan akumulasi pendapatan premi Rp 283,91 triliun atau turun tipis 0,18% dibandingkan pencapaian tahun 2021.

EKONOMI | 2 Februari 2023

Bahlil Sebut Ekonomi Hijau Jadi Fokus Utama Transisi Energi

Bahlil menyatakan, salah satu fokus pemerintah adalah membangun ekonomi hijau baik melalui transisi energi maupun investasi berkelanjutan.

EKONOMI | 2 Februari 2023


TAG POPULER

# Harga Bawang


# Koalisi Indonesia Bersatu


# Bunda Corla


# Serial Killer


# Penculikan Anak


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Polda Jatim Kerahkan 4.907 Personil Amankan Peringatan 1 Abad NU

Polda Jatim Kerahkan 4.907 Personil Amankan Peringatan 1 Abad NU

NEWS | 11 menit yang lalu










CONTACT US Commodity Square, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
B UNIVERSE