2019, Manufaktur Bakal Sumbang 23% PDB

2019, Manufaktur Bakal Sumbang 23% PDB
Pemimpin Redaksi Investor Daily Primus Dorimulu (kiri) memberikan cinderamata kepada Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto usai mengunjungi gedung Beritasatu Plaza, Jakarta, Kamis (12/1). Investor Daily/David Gita Roza ( Foto: David GitaRoza )
Eva Fitriani / HA Jumat, 13 Januari 2017 | 10:00 WIB

Jakarta – Industri manufaktur nasional ditargetkan mampu menyumbang 23% dari produk domestik bruto (PDB) pada 2019, naik dari saat ini sekitar 19,90%. Peningkatan kontribusi akan didorong dari beberapa industri strategis seperti makanan dan minuman (mamin), industri barang logam, alat angkut, serta farmasi dan kimia.

“Kenaikannya akan kami dorong menjadi 23%,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada saat berkunjung ke kantor Beritasatu Media Holdings di Jakarta, Kamis (12/1).

Meski demikian, Airlangga mengakui, masih ada hambatan bagi industri manufaktur untuk bertumbuh dengan cepat ke depannya, di antaranya adalah harga gas. Pasalnya, beberapa industri strategis sangat mengandalkan gas untuk produksinya, dan harga gas dapat menjadi penentu daya saing produk.

“Kami sedang perjuangkan agar harga gas turun. Dan jika ini berhasil, ini yang akan menjadi pendongkrak terhadap kontribusi industri manufaktur ke PDB,” ujar dia.

Hingga akhir kuartal III-2016, kontribusi sektor industri pengolahan nonmigas terhadap total PDB sebesar 19,90%, yang terdiri dari industri pengolahan nonmigas sebesar 17,82%, dan industri pengolahan batubara dan pengilangan migas 2,08%.

Tercatat, empat subsektor industri yang memberikan kontribusi terbesar terhadap PDB sektor industri nonmigas adalah industri mamin (33,61%); industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik & peralatan listrik (10,68%); industri alat angkut (10,355%); serta industri kimia, farmasi & obat tradisional (10,05%).

Sepanjang Januari-November 2016, total ekspor industri manufaktur mencapai US$ 99,65 miliar atau memberi kontribusi 76,3% terhadap ekspor nasional yang mencapai US$ 130,655 miliar. Kontribusi tersebut naik dibanding periode sama tahun sebelumnya yang sebesar 72,18%.

“Neraca perdagangan sektor industri bahkan terjadi surplus sebesar US$ 1,67 miliar,” ujar dia.

Airlangga melanjutkan, investasi dalam bentuk penanaman modal dalam negeri (PMDN) sektor industri sepanjang Januari-September 2016 sebesar Rp 75,41 triliun, naik 19,6%% dibanding periode sama 2015. Sementara itu, investasi dalam bentuk penanaman modal asing (PMA) sektor industri mencapai US$ 13,09 miliar, naik 53,6% dibanding periode sama 2015.

“Jumlah serapan tenaga kerja di sektor industri hingga bulan Agustus 2016 sebanyak 15.540.234 orang, naik 1,87% dibanding Agustus 2015,” ujar dia.

Industri 4.0
Airlangga menegaskan, pihaknya juga akan mengembangkan industri 4.0, yang mengarah ke produksi masa depan yang berbasis internet. Industri ini satu tingkat lebih maju dari industri berbasis robot yang sudah banyak berkembang saat ini.

“Beberapa industri di Indonesia sudah mulai untuk pengembangan industri 4.0 ini. Industri Panasonic misalnya, mereka sudah memiliki innovation center untuk industri 4.0. Juga ada industri makanan di Jawa Timur, mereka sudah menerapkan industri 4.0. Jadi operasional pabrik bisa dimonitor dari luar pabrik, dari mana saja selama ada akses internet,” jelas Airlangga.

Dia menerangkan, industri 4.0 sudah dimulai Jerman sejak 3 tahun yang lalu, dan efisiensinya bisa mencapai 30%. “Kami akan dorong industri semen, pupuk, tekstil, atau keramik yang sudah siap untuk menerapkan industri 4.0 ini,” ujar dia.

Airlangga menegaskan, Kemenperin akan mendorong tiga hal utama untuk pengembangan infrastruktur industri, yakni energi, listrik, dan baja. “Kemenperin akan teru s mendorong tiga sektor tersebut agar lebih kompetitif dibanding negara lain,” ujar dia.

Selain industri hulu pendorong infrastruktur, kata Airlangga, pihaknya juga mendorong industri berbasis ekspor dan padat karya. “Untuk itu kami akan dorong industri tekstil dan alas kaki, karena keduanya memiliki potensi berkembang seiring mulai mahalnya upah buruh di Tiongkok sehingga ada peluang pengalihan pabrik ke sini,” terang dia.

Meski, kata Airlangga, Indonesia harus menghadapi kompetisi dari Vietnam dan Bangladesh karena mereka mendapatkan fasilitas bea masuk 0% karena masuk dalam kategori Less Development Country. Sementara Indonesia harus membayar 12,5% karena Indonesia merupakan anggota G20 dikategorikan sebagai negara maju. “Kalau di industri, 12,5% itu sangat berpengaruh. Jadi ekspor kita ke Amerika maupun Eropa di bawah Vietnam dan Bangladesh,” ungkap dia.

Kawasan Industri
Airlangga mengungkapkan, Kemenperin juga tengah fokus membangun satu kawasan industri di luar Pulau Jawa. Pembangunan kawasan-kawasan industri tersebut dilakukan dengan pendekatan Indonesia sentris dalam rangka mengurangi kesenjangan sekaligus membangun dari pinggiran. Ke-14 kawasan industri yang tengah dikembangkan adalah Sei Mangkei (CPO & Karet), Kuala Tanjung (Alumina), Landak (Feronikel), Palu (Rotan), Bitung (Agro & Logistik), Buli, Haltim (Feronikel), Teluk Bintuni (Petrokimia), Tanggamus (Perkapalan), Ketapang (Alumina), Jorong (Feronikel), Batulicin (Feronikel), Bantaeng (Feronikel), Koonawe (Feronikel), dan Morowali (Feronikel).

“Dari 14 ini, yang sudah beroperasi di Sei Mangkei, Bantaeng, dan Morowali. Untuk tiga tahun ke depan, juga akan dipercepat pembangunan kawasan industri Tanjung Buton, Dumai, Berau (Kalimantan Timur), Tanah Kuning (Kalimantan Utara), JIIPE (Gresik), Kendal, dan Kawasan Industri Terpadu Wilmar (Serang, Banten),” kata dia.





Sumber: Investor Daily