Kisah di Perbatasan, Bangga Memilih Warga Negara Indonesia

Kisah di Perbatasan, Bangga Memilih Warga Negara Indonesia
Manager Area Rayon Kefamenano PT PLN (Persero) Wilayah Nusa Tenggara Timur, Carlos Neves. ( Foto: ID/Euis Hartati )
Euis Rita Hartati / WBP Kamis, 17 Agustus 2017 | 12:28 WIB

Atambua - Situasi politik di Timor Timur saat referendum tahun 1999 telah "memisahkan" Carlos Neves dengan keluarga tercinta. Perpisahan Carlos dengan 13 adik serta mama dan papa tercinta itu tak lain karena saat referendum, dia memilih untuk menjadi warga negara Indonesia (WNI). Sementara seluruh saudaranya bergabung dengan Timor Leste.

Carlos yang kini menjadi manager area Rayon Kefamenano PT PLN (Persero) Wilayah Nusa Tenggara Timur ini mengisahkan bahwa tak mudah baginya untuk menentukan pilihan saat itu. "Mama papa saya tentu saja meminta menetap di Timor Leste, tanah kelahiran. Apalagi saya sulung dari 14 bersaudara," kata Carlos saat ditemui di Atambua, Rabu (16/8).

Saat itu Carlos sudah menjadi karyawan PT PLN dan berdinas di Dili bersama 21 rekannya. "Saat itu kami terpaksa diungsikan ke Atambua. Kami dikumpulkan dan diberi semacam pelatihan dan pemahaman selama 3 hari. Lalu kami diberi opsi apakah bergabung ke negara baru yakni Timor Leste atau kembali ke Indonesia. Tidak ada paksaan sama sekali. Kami diberi kebebasan untuk memilih," jelasnya.

Carlos mengaku tawaran dari pihak Timor Leste cukup menggiurkan. Salah satunya dari segi penghasilan. Sàat itu sebagai pegawai PLN dia mendapatkan gaji Rp 1.800.000 per bulan. Sementara pemerintah Timor Leste menawarinya gaji US$ 300 atau setara Rp 3 juta saat itu.

Namun Carlos akhirnya mantap memutuskan bergabung dengan Republik Indonesia berdasarkan beberapa pertimbangan. Yang utama, dia merasa telah berhutang budi pada pemerintah Indonesia.

"Saya memang lahir di Timor Leste. Tapi saya sekolah dibiayai pemerintah RI melalui beasiswa, saya juga bekerja di BUMN (Badan Usaha Milik Negara). Selain itu saya mempertimbangkan nasib 3 anak saya yang masih kecil-kecil. Akhirnya saya mantap memutuskan untuk bergabung dengan Republik Indonesia," katanya.

Carlos harus mampu meyakinkan kedua orangtuanya bahwa meski dia berbeda warga negara, namun silaturahmi tetap terjaga. "Saya juga rutin mengunjungi orangtua. Kalau soal keuangan, saya memang tidak terlalu khawatir karena pemerintah Timor Leste memberikan tunjangan bagi lansia," jelasnya.

Dari 22 pegawai PLN yang bertugas di Dili saat itu, awalnya 11 orang memilih bergabung dengan NKRI. Namun belakangan 7 orang menyusul ke Timor Leste, sehingga total tersisa 4 orang yang bergabung ke Indonesia.

Kini Carlos sudah mengabdi sebagai karyawan PLN selama 25 tahun. Dia mengaku tak pernah menyesal dengan pilihannya menjadi warga negara Indonesia, walaupun ditugaskan di perbatasan yang memiliki banyak tantangan. Sepenuh hati Carlos bertekad untuk mendedikasikan dan mengabdi pada Negara Kesatuan Republik Indonesia.



Sumber: Investor Daily