Hingga 2027, Pembangunan Pembangkit Listrik Direncanakan 56.000 MW

Hingga 2027, Pembangunan Pembangkit Listrik Direncanakan 56.000 MW
Ilustrasi jaringan listrik. (Foto: Antara)
Rangga Prakoso / WBP Selasa, 13 Maret 2018 | 20:17 WIB

Jakarta - Pembangunan pembangkit listrik direncanakan sampai 56.000 megawatt (MW) hingga 2027. Proyek tersebut berangkat dari poyeksi rata-rata pertumbuhan listrik nasional sekitar 6,86 persen dan pertumbuhan ekonomi 5,5 persen. Hal ini tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2018-2027.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengatakan RUPTL tersebut telah disetujui pemerintah. RUPTL disusun oleh PT PLN (persero) dan diajukan ke pemerintah. "Total rencana pembangunan pembangkit, itu 56 gigawatt (GW) dari 2018-2027. Ini melebihi 35 GW yang sampai 2024," kata Jonan dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (13/3).

Jonan menuturkan proyek pembangkit tersebut nantinya beroperasi secara komersial (COD) disesuaikan dengan proyeksi pertumbuhan kebutuhan listrik di setiap daerah. Dia memastikan tidak bakal ada defisit listrik bila kemudian hari pertumbuhan ekonomi melonjak hingga 7 persen. Pasalnya saat ini setiap daerah di Indonesia memiliki cadangan daya sekurangnya 30 persen. "Ini yang kita lihat bahwa lebih realistis, dari kemampuan membangun ini semua. Kalau 10 tahun itu 56.000 MW, setahun kira-kira 5.000-6.000 MW," ujarnya.

Lebih lanjut Jonan memaparkan target bauran energi pembangkit hingga akhir 2025 masih didominasi oleh batu bara sekitar 54,4 persen. Kemudian energi baru terbarukan (EBT) sebesar 23,0 persen. Sedangkan porsi gas 22,2 persen serta BBM 0,4 persen. Jonan menyebut target EBT masih merujuk pada Kebijakan Energi Nasional.



Sumber: BeritaSatu.com