Pedagang Ayam Raup Omzet Rp 24,5 Juta Per Hari

Pedagang Ayam Raup Omzet Rp 24,5 Juta Per Hari
Seorang pedagang ayam, Wagimin, berjualan ayam di pasar modern BSD City sejak 2004 dengan bermodal Rp 500.000. Kini omzetnya per hari telah mencapai Rp 24,5 juta. ( Foto: istimewa )
Euis Rita Hartati / ERH Selasa, 13 Maret 2018 | 21:03 WIB

Kemiskinan telah memacu Wagimin bertekad kuat untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya yang hidup sederhana sebagai petani di Kebumen, Jawa Tengah. Bermodal kerja keras dan kejujuran yang selalu dijunjung tinggi, pria lulusan SD ini pun kini telah menjadi pedagang ayam potong yang sukses di Pasar Modern BSD City (Pasmod BSD), dengan omzet mencapai Rp 24,5 juta per hari.

“Kemiskinan membuat saya merantau ke Jakarta dan bekerja sebagai pegawai berpenghasilan Rp 400.000 perbulan tidak mencukupi, hingga akhirnya saya memutar otak dengan berjualan ayam,” kata Wagimin.

Pria kelahiran 1976 ini mengaku sejak kecil memang terbiasa untuk bekerja. Di kampungnya, dia biasa bekerja menjaga kambing dan sapi milik orang lain untuk membantu ekonomi orang tua. Kemudian tahun 1992 dia pun mencoba mengadu nasib ke Jakarta. “Di Jakarta, saya pernah bekerja sebagai pelayan di sebuah kedai bakso di daerah Tanjung Duren, kemudian pindah kerja untuk membantu usaha dagang ayam milik orang lain selama 9 tahun,” katanya.

Dia pun memeberanikan diri mulai berjualan ayam pertama kali di pasar modern BSD City di tahun 2004, dan diawal hanya bermodalkan sebesar Rp 500.000 untuk menyewa lapak ukuran 2 x 2 meter. Dia mengaku ketika mulai usaha, modalnya sangat kurang. “Namun karena saya menerapkan kejujuran adalah nomor satu dalam hidup, sehingga saya Alhamdulilah dipercaya dapat mengambil ayam terlebih dahulu di sebuah peternakan yang ada di daerah Ciputat dan bayarnya nanti setelah ayamnya terjual,”jelasnya.

Di awal usahanya Gimin hanya dapat menjual sekitar 30 sampai 40 ekor ayam per harinya, tetapi seiring dengan usaha yang keras, kini Gimin mampu menjual hingga 700 ekor dengan kisaran omzet mencapai kurang lebih Rp24,5 juta per hari. “ Saya selalu menepati janji ke pemilik peternakan soal waktu pembayaran ayam, jika itu dilakukan insya Allah usaha kita lancar. Kita harus percaya, berjualan kan harus ada modal, kaya mau belanja kan harus punya uang. Bermodal kepercayaan aja,” ujarnya ayah dari dua orang anak ini.

Wagimin juga mengungkapkan rasa syukur dengan dibangunnya Pasmod BSD. “Ya manfaat adanya Pasar Modern ini kan BSD juga jadi semakin maju, pengunjung jadi banyak yang dari luar-luar, dulu masih kecil dan sempit, sekarang pasar jadi bersih, jadi banyak yang ingin datang, kalau pengunjung banyak yang datang, kita juga naik keuntungannya,” tutur Gimin.

Dengan kesuksesan yang telah diraihnya saat ini, Gimin dengan mantap mengungkapkan harapannya terhadap masa depan keluarga yang menjadi motivasi awal dirinya mengejar mimpi. “Saya ingin anak saya sekolah yang tinggi, jangan seperti bapaknya yang tidak sekolah. Kalau untuk jadi pedagang ya nanti, jadi sekolah yang tinggi dulu saja,” katanya.

Meski awalnya tidak menyangka bahwa akan meraih kesuksesan seperti sekarang, Gimin yang saat ini memiliki 7 orang karyawan ini tidak menjadikan keterbatasan pendidikan dan ekonomi sebagai hambatan baginya meraih impian. Tiga orang saudaranya juga mengikuti jejaknya yaitu berjualan ayam segar dan mereka kini juga telah memiliki lapak sendiri di pasar yang ada di wilayah Jabodetabek.