Industri FMCG Harus Mencermati Perubahan Perilaku Konsumen

Industri FMCG Harus Mencermati Perubahan Perilaku Konsumen
Kiri ke Kanan: Qualitative Associate Director Neurosensum Grace Oktaviana, Managing Director Neurosensum Rajiv Lamba, dan Innovation Director Neurosensum Arpit Bajpai, saat pemaparan hasil riset Neurosensum di Jakarta, Selasa (8/5). ( Foto: Beritasatu.com/Feriawan Hidayat )
Feriawan Hidayat / FER Selasa, 8 Mei 2018 | 23:59 WIB

Jakarta - PT Neurosensum Technology International (Neurosensum), sebuah perusahaan riset dan survei pasar berbasis teknologi Neuroscience dan Artificial Intelligence (AI) memaparkan hasil riset 'Memahami Tren Konsumen Masa Kini' tentang perilaku konsumen dan pola konsumsi di Indonesia.

Managing Director Neurosensum, Rajiv Lamba mengatakan, riset yang dilakukan pihaknya merupakan riset menyeluruh untuk mengkaji perilaku konsumen dan pola konsumsi di Indonesia. Hal ini, memberi dampak pada perusahaan dan juga kepada ekonomi secara keseluruhan dalam jangka panjang.

"Secara garis besar bisa kami kemukakan bahwa hasil riset menunjukkan adanya perubahan perilaku yang sangat signifikan dari cara konsumen menghabiskan uangnya dan ini akan menjadi tantangan yang besar bagi industri di Indonesia, khususnya fast moving consumer good (FMCG) dan personal care. Perusahaan yang sudah lama hadir di pasar bisa kalah bersaing dengan perusahaan baru yang bergerak lebih gesit," kata Rajiv di Jakarta, Selasa (8/5).

Rajiv mengungkapkan, dari riset yang dilakukan ditemukan beberapa poin penting yang menunjukkan adanya perubahan signifikan dalam perilaku konsumsi dari konsumen Indonesia. "Konsumen semakin cerdas dalam menentukan pilihan. Mereka menjadi semakin sadar akan kesehatan, dan menginginkan pengalaman yang lebih dari merek dan produk yang akan digunakan," tambahnya.

Menurutnya, sangat penting bagi perusahaan FMCG untuk beralih dari komunikasi satu arah menjadi komunikasi dua arah yang lebih menarik bagi konsumen. "Konsumen kini membelanjakan uangnya lebih banyak untuk produk gaya hidup, rekreasi, kesehatan dan kebugaran, dengan mengurangi konsumsi produk FMCG seperti makanan, minuman dan produk perawatan tubuh," tambahnya.

"Hal ini membuat mereka mengalihkan pengeluaran dari kategori FMCG tradisional seperti makanan dan minuman ke berbagai kategori dan produk yang menyediakan aneka pengalaman seperti rekreasi dan liburan, gadget atau produk elektronik dan data seluler," pungkas Rajiv.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE