ESDM Prioritaskan Elektrifikasi di Papua

ESDM Prioritaskan Elektrifikasi di Papua
Ilustrasi listrik masuk desa. ( Foto: Antara )
Rangga Prakoso / FER Selasa, 14 Agustus 2018 | 16:19 WIB

Jakarta - Deretan pegunungan di Kabupaten Yahukimo merupakan salah satu wilayah di Provinsi Papua dengan akses yang sulit untuk dijangkau. Distrik Puldama misalnya, hanya memiliki landasan pesawat atau airstrip sepanjang 600 meter untuk akses keluar masuk wilayah yang berbatasan dengan Kabupaten Pegunungan Bintang tersebut. Bahkan, untuk mencapai pusat Kabupaten Yahukimo, pesawat harus transit di Wamena atau Jayapura terlebih dahulu. Belum ada akses darat tersedia, kecuali jalan setapak melintasi gunung dan jurang.

Pesawat jenis Kodiak atau Caravan saja yang bisa menjangkau daerah tersebut. Jadwal penerbangan yang singkat yakni setelah pukul 14.00 WIT lantaran kabut yang segera turun. Pesawat dengan daya angkut 7 penumpang hingga 12 penumpang itu pun tidak setiap hari beroperasi. Begitu pula untuk angkutan logistik dari Wamena atau Sentani.

Berdasarkan letak geografisnya, Yahukimo termasuk daerah tertinggal dengan medan yang sulit dijangkau dan belum teraliri listrik. Oleh karenanya, Yahukimo menjadi salah satu titik prioritas penerima manfaat dari program LTSHE yang dicanangkan Pemerintah sejak tahun 2017 tersebut.

"Kami prioritaskan lebih dari 60 persen penerima LTSHE ada di tanah Papua. Untuk Distrik Puldama sendiri total ada 1.085 paket, 1 paket itu untuk 1 keluarga," kata Staf Ahli Menteri ESDM Bidang Ekonomi Sumber Daya Alam, Dadan Kusdiana dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (14/8).

Dadan menyebutkan, saat ini Rasio Elektrifikasi Provinsi Papua baru mencapai 72,04 persen, masih cukup jauh di bawah rasio elektrifikasi nasional yang per Juni 2018 telah mencapai 97,13 persen, meskipun masih ada yang lebih rendah, yaitu provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan rasio elektrifikasi 60,82 persen.

Menyoal sumbangan LTSHE pada rasio elektrifikasi, Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Percepatan Pembangunan Infrastruktur, Simon F Sembiring, yang turut hadir di Puldama menyampaikan, dari angka elektrifikasi nasional saat ini 0,12 persen diantaranya disumbang oleh LTSHE.

"Dari total 97,13 persen rasio elektrifikasi nasional, PLN berkontribusi 94,65 persen, sementara non-PLN (pembangkit off grid) menyumbang 2,36 persen, dan sisanya dari LTSHE 0,12 persen," jelas Simon.

Dalam rangka memberikan akses listrik kepada seluruh masyarakat Indonesia, Pemerintah saat ini terus bergerak dengan berkoordinasi dalam rangka mendukung pemanfaatan sumber terbarukan setempat untuk penyediaan tenaga listrik.

Di sisi lain, Pemerintah juga memberikan keleluasaan kepada pemerintah daerah dalam rangka meningkatkan ketahanan listrik di wilayahnya, terutama bagi daerah yang belum berlistrik, terlebih wilayah yang sulit dijangkau jaringan listrik PLN.

"Harapannya setelah 3 tahun hingga 5 tahun ke depan, sudah ada sumber listrik yang lebih stabil untuk mendukung ketahanan energi di wilayah Puldama ini," ujar Simon.



Sumber: BeritaSatu.com