Peternak Keluhkan Tingginya Harga Pakan

Peternak Keluhkan Tingginya Harga Pakan
Mahasiswa, Dosen dan masyarakat bekerja sama menyiapkan pakan ternak bagi kebutuhan ternak di daerah yang membutuhkan.
Ridho Syukro / FER Kamis, 1 November 2018 | 17:55 WIB

Jakarta - Harga jagung terus mengalami kenaikan ditambah minimnya stok di pasar. Bahkan, melihat tren iklim, kondisi perjagungan nasional diprediksi semakin menurun. Kalangan peternak mengkhawatirkan terjadinya krisis pasokan jagung untuk pakan. Padahal, tingginya harga pakan berakibat ke tingginya harga ayam dan telur.

Presiden Peternak Layer (ayam petelur) Nasional, Ki Musbar Mesdi, mengatakan, pihaknya meminta DPR untuk melakukan evaluasi soal data produksi dan kebutuhan jagung nasional.

"Harga jagung yang mencapai Rp 5.300 per kilogram menjadi indikasi minimnya ketersediaan. Sementara, kebutuhan jagung untuk bahan pakan ternak sangatlah tinggi, mencapai 780.000 ton per bulan," katanya, dalam keterangan pers yang diterima Investor Daily, Kamis (1/11).

Pihaknya memprediksi, dalam kurun waktu bulan Desember hingga Maret mendatang, akan terjadi kekurangan stok jagung. "Kondisi cuaca yang terjadi belakangan ini telah mempengaruhi hasil produksi dan pola tanam," tambahnya.

Sementara itu, Dewan Pembina Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT), Sudirman mengatakan, pemerintah akan melakukan impor bahan baku pakan ternak sebagai solusi. Namun, pihaknya berharap komoditi yang diimpor adalah jagung, bukan gandum.

"Pemerintah keliatannya akan mengizinkan impor feed wheat. Menurut saya, daripada impor feed wheat lebih baik impor jagung. Karena wheat atau gandum kan tidak bisa ditanam di Indonesia," ujarnya.

Sejak dihentikannya impor jagung untuk pakan, pabrik pakan ternak berusaha keras mengurangi ketergantungan terhadap jagung. Peternak ayam, baik layer (petelur) atau broiler (pedaging), beralih ke subtitusi lain seperti gandum dan produk dari pengolahan gandum. "Kami khawatir akhir tahun ini hingga awal tahun depan, mahalnya harga jagung akan terus memburuk dan harga makin tinggi," tambahnya.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Imelda Freddy menyatakan, sudah sewajarnya pemerintah juga fokus untuk membenahi data jagung nasional. Ketika data salah, maka kebijakan yang dikeluarkan menjadi tidak efektif. Salah satu contoh dimana data pangan Indonesia tidak akurat dan berpengaruh terhadap kebijakan Indonesia adalah pada tahun 2015 dimana pemerintah memutuskan untuk membatasi impor dengan alasan suplai jagung mencukupi.

"Pada kenyataannya, begitu impor jagung ditutup, para pengusaha beralih untuk mengimpor gandum sebagai pengganti jagung. Ketika data Kemtan sudah benar, seharusnya tidak ada pengalihan penggunaan komoditas seperti ini," jelasnya.

Kepala Badan Ketahanan Pangan Kemtan, Agung Hendriadi menuturkan, masalah terjadi pada distribusi jagung. Terlebih, sentra produksi jagung berjauhan dengan tempat produksi pakan ternak sehingga mempengaruhi harga jagung.



Sumber: Investor Daily