Operasi Akhir Tahun, Kemhub Uji Kelaikan Tol Trans Jawa

Operasi Akhir Tahun, Kemhub Uji Kelaikan Tol Trans Jawa
Sebagian ruas Tol Trans Jawa, yang tengah dikerjakan pertengahan tahun 2017. ( Foto: istimewa )
Siprianus Edi Hardum / EHD Jumat, 7 Desember 2018 | 20:00 WIB

Jakarta - Kabar gembira seluruh dunia terutama masyarakat Indonesia, lebih utama lagi untuk masyarakat di Pulau Jawa, bahwa akhir tahun 2018 ini, Jalan Tol Jakarta – Surabaya (Trans Jawa) sepanjang 870 km beroperasi.

Dengan beroperasinya jalan tol ini, maka konektivitas antarkota di Pulau Jawa pun akan baik. Namun, makin mudahnya akses mobilitas orang dan barang tidak berarti melupakan aspek keselamatan pengguna jalan tol itu sendiri.

Karena itulah, Kementerian Perhubungan (Kemhub) bersama Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta Jasa Marga melakukan pra uji laik fungsi dan keselamatan lalu lintas, di sebagian ruas Tol Jakarta – Surabaya, lebih utama di ruas yang baru selesai dibangun, Jumat (7/12).

Kegiatan ini diikuti oleh antara lain Direktur Jenderal (Dirjen) Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemhub) Budi Setiyadi, Dirjen Bina Marga Kementerian PUPR Sugiyartanto, Kepala Bagian Operasi Korlantas Polri Kombes Pol. Benyamin, anggota unsur profesi Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian PUPR Koentjahjo Pamboedi, Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk. Desi Arryani, Direktur Operasi II Jasa Marga Subakti Syukur, Direktur Pengembangan Jasa Marga Adrian Priohutomo bersama jajaran direksi kelompok usaha Jasa Marga.

Kegiatan ini dimulai dari Hotel Vasa di Surabaya. Lalu, rombongan menuju Jalan Tol Surabaya-Mojokerto yang dilanjutkan ke Jalan Tol Mojokerto-Kertosono, Rest Area 597 B di Jalan Tol Ngawi-Kertosono-Kediri, Jalan Tol Solo-Ngawi, Jalan Tol Semarang-Solo, Jalan Tol Semarang ABC, dan Jembatan Kali Kuto yang menjadi bagian Jalan Tol Batang-Semarang.

Budi Setiyadi, dalam sambutannya, sebagaimana dalam keterangan tertulisnya, mengatakan, ada sejumlah hal yang ditekankannya terkait konektivitas Jalan Tol Trans Jawa.

Salah satunya adalah regulasi yang manyangkut aspek keselamatan dan kenyamanan. "Nanti beberapa regulasi terkait dua hal itu akan diperbaiki dan ditambah. Tapi aspek keselamatan adalah yang utama," ujar Budi.

Terkait hal ini, Kemhub akan berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR, BPJT, dan Korps Lalu Lintas Polri untuk mendapat masukan mengenai keselamatan, kondisi teknis, fisik jalan tol, dan lain-lain.

“Jangka pendek kita, menyuarakan kepada masyarakat luas, bahwa kita tidak main-main bahwa kita ingin (Trans Jawa) bisa dilewati saat Natal nanti,” ia menekankan pentingnya unsur keselamatan bagi pengguna jalan tol.


Senada dengan Budi Setiyadi, Desi Arryani menyampaikan, kegiatan menyusuri Jalan Tol Trans Jawa bersama Kemhub ini bukan hanya untuk memastikan uji laik operasi dan kesiapan fisik, tapi juga keselamatan.

"Kami concern dengan masalah keselamatan. Kami akan pastikan itu sehingga pengguna jalan akan selamat dan merasa nyaman. Jelang mudik Natal ini, masih ada waktu bagi kami untuk melengkapi semuanya mulai dari penambahan rambu dan perangkat keselamatan lain-lainnya,” ujar Desi.

Jasa Marga menaruh perhatian serius terhadap aspek keselamatan berkendara di jalan tol. Sebelum suatu jalan tol dioperasikan, maka jalan tol tersebut harus melalui uji laik operasi.

Hal ini, misalnya, dapat dilihat saat Jalan Tol Solo-Ngawi Segmen Sragen-Ngawi yang diresmikan oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) pada tanggal 28 November 2018.

Sebelum jalan tol itu diresmikan, PT Jasamarga Solo-Ngawi (JSN), kelompok usaha Jasa Marga yang mengelola Jalan Tol Solo-Ngawi, telah mengantongi Sertifikat Laik Operasi.

Sertifikat tersebut tertuang dalam Surat Dirjen Bina Marga Nomor JL02.01-Db/1.212 tertanggal 25 Oktober 2018. Surat tersebut menyatakan, secara umum, Jalan Tol Solo-Ngawi Segmen Sragen-Ngawi laik operasi dan direkomendasikan untuk dioperasikan sebagai jalan tol.

Sementara itu, Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono, mengatakan, untuk memastikan kesiapan Tol Trans Jawa dari Merak hingga Surabaya, dalam waktu dekat ia akan meninjau kesiapan tol Trans Jawa, terutama 4 ruas Tol sepanjang 180 km yang akan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada Desember 2018.

Keempat ruas tol tersebut yakni Tol Pemalang - Batang (33 km), Batang - Semarang (75 km), Salatiga - Solo (33 Km) dan Wilangan - Kertosono (39 km).

“Progres pembangunan ruas tol Pemalang - Batang, Batang - Semarang, Salatiga - Solo sudah mencapai 99%. Sementara itu, ruas Wilangan - Kertosono sudah mencapai 95 persen. Tinggal penyelesaian pekerjaan yang kecil-kecil, seperti median concrete barrier. Minggu depan saya akan ke sana," kata Basuki.

Waktu Tempuh 10 Jam

Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk, Desi Arryani, mengatakan, dengan tersambungnya tol Trans Jawa dari Jakarta-Surabaya akan mempercepat waktu tempuh perjalanan menjadi 10 jam.

“Dengan kecepatan rata-rata kendaraan 100 km/jam, maka secara normal perjalanan dapat ditempuh sekitar 8,5 jam. "Ditambah berhenti makan dan istirahat, idealnya Jakarta - Surabaya itu tidak akan lebih dari 10 jam," kata Desi di Jakarta, Rabu (6/12).

Menurut Desi, ringkasnya waktu tempuh tersebut kemungkinan besar belum bisa dirasakan pada saat jaringan tol Jakarta - Surabaya dapat beroperasi full pada akhir tahun. Pasalnya, lalu lintas satu ruas tol dalam bagian Trans Jawa, yakni Jakarta - Cikampek (Japek) masih sangat padat imbas pengerjaan proyek tol Jakarta-Cikampek Elevated.

"Mohon maaf Japek masih crowded luar biasa tapi kalau kami enggak melanjutkan, ini malah fatal bisa terkunci. Kira-kira setengah tahun lagi Japek di Lebaran itu bisa, minimal bisa fungsional," jelasnya.

Dengan kondisi lalin Japek yang masih sangat padat, Desi memperkirakan waktu tempuh Jakarta - Surabaya lewat Trans Jawa sekitar 14 jam. "Mungkin kalau saat ini 14 jam ya, tergantung lalin di Jakarta--Cikampek," ujarnya.
Sementara tarif Jalan Trans Jawa Jakarta – Surabaya sekitar Rp 600.000.

Setelah Jakarta-Surabaya tersambung, Presiden Joko Widodo menginstruksikan jalan tol timur hingga Banyuwangi bisa selesai 2019. Dengan demikian, jalur tol Merak sampai Banyuwangi pada 2019 sudah tersambung. Basuki sendiri mengatakan, Tol Merak - Banyuwangi akan tersambung akhir tahun 2019. "Sampai saat sebagian kendalanya adalah pembebasan lahan," kata dia.

Proyek Jalan Tol Trans Jawa menghubungkan Anyer hingga Banyuwangi. Proyek ini sebenarnya digagas sejak pertengahan 1990-an. Krisis ekonomi memaksa proyek tersebut terpaksa ditunda. Proposal muncul kembali pada era Presiden Megawati Soekarnoputri, namun baru direalisasikan pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Selain meningkatkan aspek pelayanan publik, fungsi utama Jalan Tol Trans Jawa sebenarnya ditekankan pada upaya mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Jalan Tol Trans Jawa akan membentang di empat provinsi dan dibagi dalam 15 ruas tol. Proyek ini menyatu dengan ruas-ruas tol yang telah beroperasi saat ini, yaitu Jakarta-Anyer, Tol Dalam Kota Jakarta, Jakarta Outer Ring Road, Jakarta-Cikampek, Cirebon-Kanci, Semarang Ring Road, dan Surabaya-Gempol.



CLOSE