Ini Mengapa Banyak Startup Mati di Tengah Jalan

Ini Mengapa Banyak Startup Mati di Tengah Jalan
Bekraf menggelar acara Demoday yang merupakan rangkaian terakhir program BEKUP, di Jakarta, Jumat, 7 Desember 2018. ( Foto: BeritaSatu Photo )
Herman / YUD Jumat, 7 Desember 2018 | 21:40 WIB

Jakarta - Perusahaan rintisan atau startup digital dalam beberapa tahun belakangan ini memang marak bermunculan. Namun, tidak sedikit pula yang kemudian berhenti di tengah jalan sebelum meraup sukses.

Deputi Infrastruktur Bekraf, Hari Santoso Sungkari menyampaikan, kunci sukses sebuah startup adalah apabila mereka mampu menguji dan melakukan validasi terhadap ide bisnis yang dimilikinya. Para pendiri startup harus bisa memastikan bahwa permasalahan yang diangkat memang benar-benar terjadi, dan solusi yang diberikan benar-benar sesuai dengan situasi dan keinginan pasar. Contohnya Go-Jek yang bisa memberikan solusi terhadap masalah transportasi di perkotaan.

"Banyak startup yang berhenti di tengah jalan karena mereka tidak melakukan validasi problem dan solusi yang ditawarkan. Banyak yang justru berangkat dari teknologi tanpa melakukan hal itu," kata Hari Santoso Sungkari, di sela acara DemoDay program Bekraf for Pre-Startup (BEKUP), di Jakarta, Jumat (7/12).

Bila di kemudian hari mengalami kegagalan, Hari berpesan untuk tidak cepat putus asa. Karena bisa saja setelah divalidasi, permasalahan yang terjadi maupun solusi yang diberikan ternyata tidak sesuai dengan keinginan pasar.

"Kalau mengalami hal seperti ini, jangan berhenti. Coba lagi dengan ide-ide lain dan kembali lakukan validasi," tutur Hari.

Dari data yang dihimpun Bekraf, jumlah startup digital di Indonesia saat ini mencapai 960 startup. Mereka adalah para startup yang berstatus sehat, artinya punya modal untuk dijalankan, ada aktivitas dan ada produknya, meskipun belum mendapatkan untung.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE