2019, Neraca Perdagangan Harus Kembali Surplus
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

2019, Neraca Perdagangan Harus Kembali Surplus

Rabu, 26 Desember 2018 | 18:24 WIB
Oleh : HA

Jakarta – Pemerintah harus segera melakukan terobosan agar neraca perdagangan Indonesia kembali surplus pada 2019. Jika terus defisit seperti tahun ini, rupiah akan sangat tertekan dan memukul semua sektor ekonomi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis Senin (17/12), hingga November 2018, Indonesia mencatatkan defisit bulanan delapan kali dan cenderung makin parah, yakni Januari senilai US$ 0,76 miliar, Februari US$ 0,05 miliar, April US$ 1,63 miliar, Mei US$ 1,45 miliar, Juli US$ 2,01 miliar, Agustus US$ 0,94 miliar, Oktober US$ 1,77 miliar, dan November US$ 2,05 miliar. Sedangkan surplus hanya terjadi tiga kali, pada Maret sebesar US$ 1,12 miliar, Juni US$ 1,71 miliar, dan September US$ 0,31 miliar.

Akibatnya, pada periode Januari-November tahun ini, defisit sangat dalam mencapai US$ 7,52 miliar. Padahal, periode sama tahun lalu, Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan US$ 12,08 miliar.

“Tahun 2018 dipastikan defisit neraca perdagangan, karena surplusnya hanya beberapa bulan saja dan selebihnya defisit. Apalagi, November saja defisit US$ 2 miliaran. Kalau untuk tahun 2019, yang pemerintah bisa lakukan ya berusaha surplus, walaupun sulit,” ujar Wakil Direktur Indef Eko Listiyanto kepada Investor Daily, di Jakarta, Senin (17/12).

Eko Listiyanto mengatakan, ada tiga hal penting yang perlu segera dilakukan pemerintah untuk membuat neraca perdagangan kembali surplus. Pertama, lebih proaktif dalam misi perdagangan antarpemerintah (government to government/G2G) untuk menegosiasikan kepentingan perdagangan Indonesia. Pemerintah Indonesia di antaranya bisa meminta pemerintah India agar urung menaikkan tarif impor minyak sawit dari Indonesia agar lebih kompetitif, seperti juga dilakukan oleh pemerintah Malaysia.

“Misi perdagangan G2G perlu dilakukan dengan negara-negara tujuan ekspor utama Indonesia, agar ekspor Indonesia tidak terus turun. Hal ini sudah mulai dilakukan banyak negara, karena forum-forum formal seperti WTO, G20, dan APEC, saat ini kurang efektif untuk memperjuangkan kepentingan dagang setiap negara. Misi dagang G2G dinilai lebih efektif, setelah Amerika Serikat dan Tiongkok saling terlibat dalam perang dagang dan cenderung 'meninggalkan' forum-forum perdagangan.

Langkah kedua yang perlu dilakukan pemerintah Indonesia adalah makin memperbaiki fundamental ekonomi dan menyelesaikan masalah di dalam negeri. Ini, antara lain, dengan menekan biaya logistik dengan membangun infrastruktur lebih baik, serta memperbaiki perizinan dan birokrasi yang masih berbelit agar tidak membebani perekonomian. Ketiga, memberi insentif yang dibutuhkan untuk meningkatkan daya saing perusahaan.

Sementara itu, menyusul rilis laporan neraca perdagangan pada November lalu menembus US$ 2,05 miliar atau tertinggi dalam tahun ini, rupiah kemarin melemah. Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang dirilis Bank Indonesia, nilai tukar rupiah turun 79 poin kemarin, dari Rp 14.538 per dolar AS pada 14 Desember 2018 menjadi Rp 14.617.

Negara mitra yang membuat Indonesia defisit perdagangan nonmigas terbesar adalah Tiongkok, diikuti Thailand,
Australia, Jepang, dan Jerman. Sedangkan negara mitra yang membuat Indonesia surplus perdagangan nonmigas terbesar adalah India, diikuti Amerika Serikat, Belanda, Malaysia, dan Taiwan.

Ekspor-Impor
Pada kesempatan terpisah, Kepala BPS Kecuk Suhariyanto mengatakan, pada November 2018, ekspor Indonesia sebesar US$ 14,83 miliar, turun 6,69% dibanding Oktober 2018. “Sektor yang menyebabkan turun adalah migas, yang ekspornya merosot 10,75%. Penurunan terjadi karena ekspor hasil minyak turun,” ucap dia di kantornya, Jakarta, Senin (17/12).

BPS mencatat, defisit neraca perdagangan bulan November lalu sebesar US$ 2,05 miliar, melebar dari defisit US$ 1,8 miliar di bulan Oktober. Ekspor Indonesia November 2018 mencapai US$ 14,83 miliar, sementara impor mencapai US$ 16,88 miliar.

Impor RI pada November menurun dibandingkan bulan Oktober, tetapi belum mampu menyusutkan defisit karena ekspor juga menurun. Nilai ekspor Indonesia November 2018 mencapai US$ 14,83 miliar atau menurun 6,69% dibanding Oktober 2018. Demikian juga dibanding November 2017 menurun 3,28%. Sementara itu, nilai impor Indonesia November 2018 mencapai US$16,88 miliar atau turun 4,47% dibanding Oktober 2018, namun jika dibandingkan November 2017 naik 11,68%.

Ekspor nonmigas November 2018 mencapai US$ 13,46 miliar, turun 6,25% dibanding Oktober 2018. Demikian juga dibanding ekspor nonmigas November 2017, turun 4,12%. Sedangkan impor nonmigas November 2018 mencapai US$ 14,04 miliar atau turun 4,80% dibanding Oktober 2018, sebaliknya jika dibanding November 2017 meningkat 8,79%.

Impor migas November 2018 menurun ke US$ 2,84 miliar atau turun 2,80% dibanding Oktober 2018, namun meningkat 28,62% apabila dibandingkan November 2017. Untuk impor migas Januari-November 2018 naik 27,85%, mencapai US$6,06 miliar.

Ekspor Januari-November
Suhariyanto menjelaskan lebih lanjut, ekspor nonmigas November 2018 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu US$ 2,01 miliar, disusul Amerika Serikat US$ 1,46 miliar dan Jepang US$ 1,36 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 35,87%. Sedangkan ekspor ke Uni Eropa (28 negara) sebesar US$ 1,37 miliar.

Secara kumulatif, lanjut dia, ekspor Indonesia Januari–November 2018 mencapai US$ 165,81 miliar atau meningkat 7,69% dibanding periode yang sama tahun 2017. Namun, impor kumulatif Januari–November 2018 mencapai US$ 173,32 miliar atau meningkat 22,16% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini membuat defisit neraca RI Januari-November 2018 menembus US$ 7,52 miliar.

Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari–November 2018 adalah Tiongkok dengan nilai US$ 40,85 miliar (28,07%), Jepang US$ 16,61 miliar (11,41%), dan Thailand US$ 10,09 miliar (6,94%). Sedangkan impor nonmigas dari Asean 20,08% dan dari Uni Eropa 8,93%.

Ia menjelaskan, negara mitra yang membuat Indonesia defisit perdagangan nonmigas terbesar Januari-November 2018 adalah Tiongkok, diikuti Thailand, Australia, Jepang, dan Jerman, masing-masing senilai US$ 18,14 miliar, US$ 4,73 miliar, US$ 2,83 miliar, US$ 1,46 miliar, dan US$ 1,23 miliar. Sedangkan negara mitra yang membuat Indonesia surplus perdagangan nonmigas terbesar adalah India, diikuti Amerika Serikat, Belanda, Malaysia, dan Taiwan masing-masing senilai
US$ 8,07 miliar, US$ 7,80 miliar, US$ 2,42 miliar, US$ 1,61 miliar, dan US$ 0,11miliar.

Tekanan Eksternal
Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, kinerja ekspor RI masih terdampak tekanan eksternal. Ini terutama karena pengurangan permintaan dari negara tujuan utama, seperti RRT. Selain itu, pelemahan kinerja ekspor juga terjadi akibat lesunya perdagangan dengan pasar nontradisional, seperti di Amerika Latin dan Afrika, yang ikut terdampak kondisi global.

"Ini harus dilihat secara hati-hati, karena pertumbuhan ekonomi Tiongkok lagi ada penyesuaian dari sisi internal atau karena ada perang dagang dengan Amerika Serikat. Pasar-pasar baru, barangkali dalam kondisi ekonomi sekarang, tendensinya menjadi lemah. Jadi, kemampuan untuk menyerap ekspor jadi terbatas," katanya di Jakarta, Senin lalu.

Sri Mulyani menambahkan, ada pula komoditas ekspor yang sensitif terhadap isu-isu nonekonomi, seperti minyak sawit. Ini ikut mengurangi permintaan di negara-negara Eropa.

Melihat kondisi global yang diliputi ketidakpastian tersebut, kata dia, pemerintah terus memperkuat daya saing ekspor dengan memberikan insentif kepada eksportir agar gairah sektor perdagangan tidak melemah. "Ekspor dipacu dari sisi daya kompetisi kita, melalui berbagai kebijakan untuk mendukung, seperti insentif. Namun, kita perlu memahami, dinamika pasar global sedang sangat tinggi atau tidak menentu," ujarnya.

Dari sisi impor, pemerintah akan melakukan kajian lebih mendalam atas kebijakan pengurangan impor yang sudah diterbitkan sebelumnya, seperti peningkatan tarif PPh impor.

"Untuk upaya lain, di sektor migas dan nonmigas, harus tetap memperhatikan kemampuan industri dalam negeri untuk menghasilkan subtitusi impor. Jadi kami tetap fokus dalam porsi itu," tambah Sri Mulyani.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: Investor Daily

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Sinovac Siap Dukung Indonesia Jadi Pusat Produksi Vaksin

Sinovac Sinovac Biotech Ltd berencana mendirikan pusat vaksin Sinovac untuk membantu Indonesia menjadi pusat produksi vaksin regional.

EKONOMI | 20 Oktober 2021

Mowilex Setop Produksi Cat yang Mengandung Timbal

Mowilex meraih Global CSR Best Environmental Excellence Award sebagai apresiasi atas komitmen perusahaan pada upaya pelestarian lingkungan.

EKONOMI | 20 Oktober 2021

Pacto Convex Pilih Tanda Tangan Elektronik TékenAja!

TékenAja! berhasil membuat kegiatan tanda tangan dokumen menjadi sangat lancar dan sah di mata hukum.

EKONOMI | 20 Oktober 2021

Ini Pesan Rosan dan Aninya Bakrie untuk Pengurus Baru Kadin

Ketua Dewan Pertimbangan Kadin Indonesia Anindya Bakrie dan mantan Ketua Kadin Rosan Roeslani memberi pesan kepada pengurus baru.

EKONOMI | 20 Oktober 2021

Mowilex Bawa Pulang Penghargaan Kategori Cat Eksterior Favorit

Berdasarkan riset Top Brand dengan melibatkan 12.640 responden, Mowilex terpilih sebagai produk cat eksterior favorit konsumen di Indonesia.

EKONOMI | 20 Oktober 2021

Dorong HET Garam Rakyat, Moeldoko: Kita Ingin Selamatkan Petani

Pemerintah akan terus berkomitmen mendorong terwujudnya harga eceran tertinggi (HET) untuk garam rakyat.

EKONOMI | 20 Oktober 2021

Kunci Hadapi Perang Ekonomi Adalah Investasi, Bukan Utang atau Cetak Uang

Kadin sebut untuk menghadapi perang ekonomi, kuncinya adalah menarik investasi, bukan mencetak uang atau menarik utang.

EKONOMI | 20 Oktober 2021

Impounding 2023, Bendungan Leuwikeris Suplai Irigasi 11.216 Hektare

Hingga saat ini, progres bangunan fisik bendungan Leuwikeris sudah mencapai 82% dengan biaya pembangunan sekitar Rp 2,8 triliun.

EKONOMI | 20 Oktober 2021

Pemerintah, BUMN, dan Swasta Dukung Start-up Seri Pendanaan Awal

Pemerintah, BUMN, dan swasta mendukung usaha rintisan berbasis teknologi (start-up) seri pendanaan awal lewat World Business Angel Investors Week 2021.

EKONOMI | 20 Oktober 2021

Arsjad Tegaskan Kadin Akan Tetap Mesra dengan Pemerintah

Kadin secara konsisten akan tetap mesra dan menjalin komunikasi dengan pemerintah serta seluruh pemangku kepentingan.

EKONOMI | 20 Oktober 2021


TAG POPULER

# Malala Yousafzai


# Tes PCR


# Pinjol Ilegal


# Molnupiravir


# Liga Champions



TERKINI
Data Penerima Vaksin Covid-19 sampai 20 Oktober 2021

Data Penerima Vaksin Covid-19 sampai 20 Oktober 2021

BERITA GRAFIK | 4 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings