Sri Mulyani Didorong Jadi Presiden Bank Dunia

Sri Mulyani Didorong Jadi Presiden Bank Dunia
Sri Mulyani. ( Foto: Antara )
Faisal Maliki Baskoro / FMB Jumat, 11 Januari 2019 | 17:12 WIB

Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani didorong oleh the Official Monetary and Financial Insitutions Forum (OMFIF), sebuah think tank independen dari AS untuk isu-isu perbankan dan ekonomi global, untuk menggantikan Jim Yong Kim yang mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Presiden Bank Dunia awal pekan ini.

Sejak terbentuknya Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) di akhir Perang Dunia II, jabatan presiden Bank Dunia selalu menjadi jatah Amerika (Jim Yong Kim berkewarganegaraan Korea-Amerika) dan IMF dipegang oleh Eropa. Mark Sobel, US Chairman OMFIF, mengatakan bahwa sudah saatnya Bank Dunia "berubah".

"Jika negara-negara berkembang serius ingin merubah konvensi ini, mereka harus mencari kandidat yag kuat, kredibel, dan dihormati secara global, lalu bersatu mendukung kandidat tersebut. Banyak kandidat yang bagus, misalnya Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani (mantan managing director Bank Dunia) dan mantan Menteri Keuangan Nigeria Ngozi Okonjo-Iweala (juga mantan managing director Bank Dunia)," kata Sobel dalam opininya di situs OMFIF.

Menurut Sobel, presiden Bank Dunia di luar AS atau Eropa akan meningkatkan posisi global Bank Dunia dan IMF. Diharapkan kandidat non-AS dan/atau non-Eropa dapat menjawab persoalan meningkatnya regionalisme, di tengah-tengah meningkatnya pinjaman Tiongkok, yang dapat mengganggu sustainability utang di banyak negara.

Sobel mengkhawatirkan calon presiden Bank Dunia dari AS akan dipandang skeptis oleh negara-negara lain, karena pemerintahan Donald Trump dinilai tidak ramah terhadap institusi internasional. Kandidat yang kontroversial akan menimbulkan penolakan, sementara kandidat yang mainstream dan sentris justru akan menimbulkan kecurigaan dan keraguan kemampuan dalam menyeimbangkan prioritas AS dan agenda negara-negara lain.

Setelah pertemuan dewan pada Rabu (9/1), Dewan Direktur Eksekutif Bank Dunia menegaskan komitmennya untuk proses seleksi terbuka, berdasarkan prestasi dan transparan. Kandidat harus memenuhi beberapa kriteria penting, termasuk rekam jejak kepemimpinan yang terbukti, pengalaman mengelola organisasi besar dengan paparan internasional, dan komitmen kuat atas kerja sama multilateral.

Bank Dunia mengatakan nominasi untuk presiden berikutnya akan diajukan antara 7 Februari hingga 14 Maret, dan direktur eksekutif akan memutuskan daftar pendek hingga tiga kandidat.



Sumber: BeritaSatu.com