GIC Trade Hadirkan Revolusi Industri Forex

GIC Trade Hadirkan Revolusi Industri Forex
Ratusan pengusaha antusias menghadiri roadshow GIC di Hotel Adi Mulia Medan, Rabu (16/1) malam. ( Foto: Beritasatu Photo )
Arnold H Sianturi / FER Rabu, 16 Januari 2019 | 23:11 WIB

Medan - Global Investa Capital (GIC) menerapkan teknologi blockchain untuk menghadirkan revolusi terbaru di pasar forex dan komoditas (seperti emas) dalam memberikan solusi yang seringkali penuh dengan masalah seperti slippage, biaya inap tinggi, spread yang besar serta komisi tinggi.

Risiko trading secara online kian besar lantaran banyak broker ilegal yang merugikan nasabah. Namun belakangan teknologi blockchain mampu meminimalisir hal tersebut. Platform GIC Trade menyediakan transparansi dan bebas biaya kepada para penggunanya.

Chief Executive Officer GIC, Peter Tandean, mengemukakan hal itu di Hotel Adimulia, Medan, Sumatera Utara (Sumut), Rabu (16/1) malam. Acara ini dihadiri oleh ratusan kalangan investor yang sangat antusias untuk mengikuti Pasar Forex dan Komoditas.

"Kehadiran Global Investa Capital (GIC) yang menerapkan teknologi blockchain sebagai revolusi terbaru yang mendapat sambutan baik dari Bursa Berjangka Jakarta (BBJ), Kliring Berjangka Indonesia (KBI) dan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), yang semuanya dibawah koordinasi Kementerian Perdagangan," ujar Peter.

Ditambahkan, dukungan ini terlihat pada pencatatan transaksi platform GIC dimana semua transaksi secara back-to-back tercatat langsung oleh BBJ dan KBI melalui Perusahaan Berjangka yang berlisensi.

GIC Trade berbasis di Singapura dan memiliki mitra lokal yang berlisensi, saat ini tengah menjadi magnet bagi para trader dan market maker dengan adanya transparansi dan sistem yang revolusioner.

"Integrasi teknologi blockchain dan metatrader 5 ini menawarkan aktivitas trading tanpa swap, tanpa komisi dan spread yang rendah. Selain itu, aplikasi ini memberikan opsi bagi trader untuk berganti posisi menjadi market maker, bahkan dalam satu akun bisa mengambil posisi keduanya selama memenuhi minimum margin requirement," katanya.

Hal ini, ungkap Peter, memberikan peluang baru bagi para pengguna untuk mendapatkan keuntungan yang lebih baik dalam bertransaksi. Pada cara tradisional, untuk menjadi market maker, seseorang harus mendirikan sebuah perusahaan berlisensi dengan beberapa persyaratan yang panjang dan pastinya harus memposisikan dana yang sangat besar untuk deposit, legalitas dan operasional.

"Tentunya harus mendapatkan persetujuan legal dari pemerintah. Namun, melalui fitur di GIC Trade, seseorang bisa menjadi market maker dengan modal yang sangat terjangkau. Teknologi blockchain akan membawa revolusi pada industri trading," ungkapnya.

Dijelaskan, GIC Trade merupakan plaform pertama dan satu satunya di Indonesia yang sangat memungkinkan terjadinya Peer-to-Peer (P2P) Trading, di mana masyarakat sebagai trader akan berhadapan langsung dengan masyarakat yang ambil peran sebagai market maker.

"GIC Trade akan diluncurkan pada bulan April 2019 mendatang. Dalam program perkenalan platform GIC Trade kepada masyarakat luas, GIC Trade akan mengadakan Trading Competition 2019," jelasnya.



Sumber: Suara Pembaruan