Penjualan Ponsel Secara Offline Masih Tak Tergantikan

Penjualan Ponsel Secara Offline Masih Tak Tergantikan
Selular Business Forum menggelar seminar bertajuk "Meneropong Wajah Industri Telekomunikasi 2019", di Jakarta, Kamis, 17 Januari 2019 ( Foto: Beritasatu Photo / Herman )
Herman / FER Kamis, 17 Januari 2019 | 18:09 WIB

Jakarta - Tren belanja online dalam beberapa tahun terakhir memang terus meningkat. Banyak masyarakat yang mulai beralih dari transaksi offline ke online karena dianggap lebih praktis dan menguntungkan.

Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira Adhinegara, mengatakan, porsi belanja online saat ini belum seberapa dibandingkan offline, terutama untuk produk-produk elektronik seperti smartphone. Persentase pergeseran transaksi offline ke online ternyata masih sangat kecil.

"Terjadi pergeseran dari yang tadinya belanja smartphone di supermarket atau toko fisik lalu pindah ke e-Commerce, itu ternyata mitos. Faktanya, shifting itu sangat-sangat kecil porsinya dari total retail secara nasional. E-Commerce maksimum sekali baru 2 persen dari total retail," kata Bhima Yudhistira, di sela acara Selular Business Forum, di Jakarta, Kamis (17/1).

Ketua Asosiasi Ponsel Seluruh Indonesia (APSI), Hasan Aula, juga menyampaikan pandangan serupa. Kemudahan belanja produk smartphone secara online, tidak akan bisa mengalahkan pengalaman berbelanja offline, di mana konsumen bisa mencoba terlebih dahulu produk yang ingin dibeli.

"Kontribusi online di industri smartphone memang masih sangat kecil. Konsumen masih lebih nyaman belanja offline. Kenapa? Mereka bukan hanya ingin beli smartphone, tapi juga ingin mendapatkan experience. Yang bisa memberikan pengalaman pengguna, itulah yang akan menang. Makanya sampai sekarang banyak yang lebih memilih datang ke toko untuk coba-coba langsung, apalagi untuk produk yang harganya mahal," kata Hasan Aula yang juga CEO Erajaya Swasembada.

Hasan menambahkan, Erajaya sendiri tak menampik adanya kebutuhan untuk belanja online. Karenanya, Erajaya juga mulai mengembangkan layanan online to offline (020), di mana konsumen bisa melakukan pembelian secara online, namun pengambilan barangnya bisa dilakukan di toko Erajaya terdekat.

"Di tengah persaingan yang sangat ketat ini, adanya omni channel memang sagat penting. Orang bisa pesan di online dan pick up barangnya di toko offline. Erajaya Grup sudah menjalankan itu. Kita bukan hanya pemain offline terbesar di smartphone, tapi juga akan menjadi salah satu omni channel yang bisa memberikan konsumen keuntungan lebih saat membeli smartphone," kata Hasan.



Sumber: BeritaSatu.com