Produk Kuliner yang Sehat Pengaruhi Destinasi Wisata

Produk Kuliner yang Sehat Pengaruhi Destinasi Wisata
Humas dan Tim Konten Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Ang Tek Khun (kiri), wirausahawan Heda Alaydrus (duduk (kiri) dan Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) DIY Diah Tjhjonowati (duduk tengah) dalam Pelatihan Manajemen dan Pemasaran Usaha Mikro dan Kecil di Yogyakarta, 17 Jan. 2019. ( Foto: Suara Pembaruan / Fuska Sani Evani )
Fuska Sani Evani / HA Kamis, 17 Januari 2019 | 20:04 WIB

Yogyakarta - Produk kuliner di wilayah tujuan wisata harus memperhatikan berbagai aspek, di antaranya keamanan dan kesehatan produk, selain kemasan dan cara penyajian.

“Jika ada satu persoalan yang timbul karena makanan, maka wilayah tujuan wisata bisa saja terkena dampaknya,” ujar Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) DIY, Diah Tjahjonowati dalam Pelatihan Manajemen dan Pemasaran untuk Usaha Mikro dan Kecil di Yogyakarta, Kamis (17/1).

Pelatihan itu bertema “Saatnya Usaha Mikro dan Kecil Naik Kelas” bagi para pebisnis kuliner di wilayah DIY, diselenggarakan Investor Daily dan Beritasatu.com bersama Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Juga tampil sebagai pembicara Tim Konten dan Humas Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Nasional Ang Tek Khun dan wirausahawan muda bidang kuliner Hedar Alaydrus.

Diah menjelaskan, tanggung jawab pengawasan keamanan dan kesehatan pangan ada di tangan pemerintah, pengusaha atau produsen, dan masyarakat konsumen. Untuk itu, dia meminta pengusaha mikro dan kecil yang terjun di bidang kuliner untuk tidak mengabaikan aspek-aspek kesehatan dan keamanan pangan.

“Intinya, produk kuliner yang dihasilkan harus layak edar dan layak konsumsi,” katanya.

Keamanan dan kesehatan tidak hanya terkait bahan pangan yang digunakan, tetapi juga cara mengolah.

“Misalnya, kalau sakit jangan terlibat dalam produksi, tempat produksi tidak boleh ada hewan peliharaan, tidak boleh berkuku panjang, tidak boleh berbicara saat mengolah bahan pangan, dan hal-hal sederhana lainnya,” jelasnya.

Dia mengingatkan, jika produk kuliner telanjur menimbulkan gangguan kesehatan pada konsumen, otomatis akan menghancurkan usaha yang dibangun.

“Di era keterbukaan saat ini, informasi mengenai kasus-kasus berkaitan dengan kuliner akan cepat menyebar,” ungkapnya.

Diah meminta pengusaha kuliner untuk mewujudkan kemandirian untuk menjaga keamanan dan kesehatan pangan.
“Tugas kami mengawasi, bukan cari gara-gara. Pelaku usaha jangan lagi fobia dengan urusan birokrasi. Di era keterbukaan saat ini, birokrasi perizinan terkait pangan tak lagi sulit,” katanya.

Diungkapkan, pada prinsipnya, keamanan pangan terkait tiga hal, yakni terhindar dari pencemaran biologis, pencemaran kimia, dan pencemaran fisik. Hal itulah yang diawasi oleh BBPOM bersama Dinas Kesehatan setempat.

Dicontohkan, untuk makanan dalam kemasan yang memiliki umur penyimpanan lebih dari 7 hari wajib memiliki izin edar.

“Jika pengusaha memiliki izin edar, dengan sendirinya akan menumbuhkan kepercayaan konsumen,” ungkapnya.

Pemasaran Digital
Sementara itu, Ang Tek Khun, pegiat media sosial yang tergabung dalam GenPI Nasional mengungkapkan, media sosoial kini menjadi andalan dalam mempromosikan produk. Aktivitas warganet menjadi lahan strategis bagi pemasaran sebuah produk.

“Yang dicari seseorang di destinasi wisata adalah makanan yang khas. Di sini penting sekali adanya promosi atau pemasaran. Dan pemasaran melalui media sosial sangat besar pasar. Saat seorang pengusaha memasarkan produknya di media sosial, dia sudah menjangkau pasar global,” jelasnya.

Dia mengungkapkan, saat ini di seluruh dunia ada lebih 2,3 miliar orang yang aktif menggunakan jejaring sosial, dari 7,395 miliar populasi dunia. Di Asia Tenggara, sedikitnya 234 juta pengguna media sosial.

“Artinya, dunia maya adalah medan pemasaran yang cukup luas untuk menarik perhatian konsumen,” ujarnya.

Hal tersebut merupakan peluang besar bagi pengusaha mikro dan kecil yang ingin memasarkan produknya. Namun, dia mengingatkan, pemasaran melalui platform digital berbeda dengan pemasaran konvensional. Pengusaha harus memahami karakter masyarakat yang aktif di media sosial.

“Di mana tidak lagi dibutuhkan teks atau narasi panjang, tetapi justru perang visual dan narasi singkat yang kreatif. Video memberi kontribusi paling besar,” sambungnya.

Khun menambahkan, strategi pemasaran digital harus dimulai dengan memiliki akun resmi.

“Akun resmi ini menjadi referensi bagi pengguna media sosial,” jelasnya.

Selanjutnya, pelaku usaha kuliner bisa memanfaatkan akun publik yang memiliki follower banyak.

“Masing-masing platform memiliki keunggulan dan segmen sendiri-sendiri. Jadi manfaatkankan semuanya,” katanya.

Sedangkan, Hedar Alaydrus mengakui manfaat pemasaran melalui media sosial.

“Bagi pengusaha kuliner, media sosial sekarang ibarat menjadi buku menu digital,” ujarnya.

Bahkan, dia mengungkapkan, aktivitas di media sosial menjadi peluang bisnis yang bisa digarap.

“Dulu saya harus membayar food blogger. Lama-lama saya berpikir mengapa itu tidak saya lakukan sendiri dengan merekrut orang-orang yang memang memiliki keahlian di bidang itu,” ungkapnya.

 



Sumber: Suara Pembaruan