Lantai Bursa Penuh Optimisme Tahun ini

Lantai Bursa Penuh Optimisme Tahun ini
Menko Perekonomian RI Darmin Nasution, didampingi Menteri Keuangan RI Sri Mulyani, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen (kiri) dan Dirut PT Bursa Efek Indonesia Inarno Djajadi melakukan seremoni Peresmian Pembukaan Perdagangan Bursa Efek Indonesia 2019 di Jakarta, Rabu (2/1/2019). Beritasatu Satu/Uthan A Rachim ( Foto: Beritasatu Photo/Uthan / Uthan )
Jauhari Mahardhika / HA Rabu, 23 Januari 2019 | 05:03 WIB

Jakarta - Ada anggapan bahwa pasar modal sangat bergantung pada persepsi. Jika persepsinya bagus, pasar bakal bergerak positif. Untuk membentuk persepsi tersebut butuh sebuah sikap yang optimistis.

Pada 2019, hampir semua pemangku kepentingan di pasar modal, termasuk regulator, emiten, dan investor, mengaku lebih optimistis dibandingkan 2018, meskipun tahun ini merupakan tahun politik seiring pelaksanaan Pemilu. Namun, di sisi lain, pasar domestik masih menghadapi tekanan dari sentimen global.

Optimisme merebak terhadap hampir seluruh indikator, mulai dari penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG), pertumbuhan jumlah emiten dan investor, penghimpunan dana di pasar modal, hingga potensi aliran dana masuk (capital inflow) investor asing.

Optimisme tersebut bukan sekadar kata-kata, melainkan didukung oleh penguatan fundamental ekonomi nasional, kinerja emiten, dan valuasi saham yang atraktif.

Budi Hikmat, pengamat senior pasar modal yang kini menjabat kepala makro ekonomi dan direktur strategi PT Bahana TCW Investment Management, mengakui hal tersebut. Menurut dia, meskipun kondisi global tetap menantang, kondisi ekonomi Indonesia pada 2019 diperkirakan membaik, sehingga menghapus berbagai tekanan yang mewarnai tahun lalu.

Di sisi lain, situasi ekonomi dan geopolitik global akan lebih mendukung kembalinya arus modal asing masuk ke Indonesia, sehingga memperkuat kondisi ekonomi Indonesia. Situasi politik di Amerika Serikat setelah kemenangan Partai Demokrat dalam pemilihan sela tahun 2018, akan menjadi penyeimbang kebijakan ekonomi Presiden Donald Trump. Adapun penguatan dolar AS sepanjang 2018 justru cenderung meningkatkan defisit perdagangan AS terhadap Tiongkok. Sementara, tensi perang dagang AS dan Tiongkok mereda, menyusul gencatan dan tekanan politik dalam negeri yang dialami Presiden Trump.

Di lain pihak, neraca transaksi berjalan Tiongkok diduga negatif untuk pertama kali pada 2019 yang akan memicu Tiongkok melemahkan mata uang yuan. Sedangkan kebijakan bank sentral AS, The Federal Reserve, diproyeksi tetap akan memperketat likuiditas, meski tak sekencang tahun 2018.

Meskipun tekanan dari eksternal mereda, perlu adanya kebijakan untuk mendorong daya beli dan meningkatkan produktivitas di sektor manufaktur maupun pariwisata.

“Optimisme kami dilandasi keberanian pemerintah menempuh kebijakan pre-emptive dan prudent untuk membedakan Indonesia dibandingkan negara berkembang. Meski demikian, dibutuhkan kebijakan untuk mendorong daya beli, reformasi untuk meningkatkan daya saing dan produktivitas, serta mendorong foreign direct investment,” tutur Budi.

Terkait saham, Bahana TCW menilai potensi kenaikan lebih ditentukan oleh faktor manfaat (earning growth) ketimbang martabat (price earnings ratio re-rating). Dengan mengasumsikan pertumbuhan laba emiten 2019 sebesar 12%, maka IHSG hingga akhir tahun ini bisa mencapai level 7.000.

Hal senada juga diungkapkan Chief Economist and Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Katarina Setiawan. Dia optimistis IHSG bisa mencapai level 7.100 pada 2019. Hal tersebut bakal didorong oleh aliran dana asing yang diperkirakan masuk signifikan dan dukungan dari investor domestik. "Kembalinya asing ke bursa saham domestik membuat net sell bakal berkurang signifikan," kata dia.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso pun menyatakan tekanan pada 2019 akan jauh lebih berkurang. Pada 2018, pasar modal Indonesia dihantui oleh fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, sehingga harus direspons dengan kenaikan suku bunga oleh Bank Indonesia.

Dia memperkirakan, pada 2019, aliran dana asing akan kembali masuk ke pasar modal Indonesia. Respons positif terhadap pasar modal Indonesia dan meredanya tekanan dari global terlihat sejak beberapa bulan terakhir. Kondisi ini menunjukkan bahwa asing sudah mulai confident lagi untuk menanamkan uangnya di Indonesia.

"Foreign fund ini dia akan mencari imbal hasil (yield) yang lebih tinggi, dengan kondisi domestik stabil, mereka akan balik. Ini bukti fundamental kita bagus," tegas Wimboh.

OJK akan mengupayakan efisiensi dan pendalaman pasar modal, sehingga bisa menciptakan dinamika bagi perekonomian ke depan. Akses penghimpunan dana di pasar modal tidak hanya terbatas pada korporasi besar, melainkan perusahaan skala menengah hingga UMKM. Pihaknya juga akan memperluas instrumen investasi di pasar modal, baik yang bersifat konvensional, syariah, sosial, maupun yang bersifat ramah lingkungan (green bond).

Aksi Korporasi
Sementara itu, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bakal mendorong lebih banyak perusahaan untuk mencatatkan sahamnya agar jumlah emiten baru 2019 melampaui pencapaian 2018 yang sebanyak 57 perusahaan. Itu berarti, BEI siap mencetak rekor baru.

Direktur Utama BEI Inarno Djajadi mengatakan, potensi peningkatan lebih lanjut masih terbuka. Terlebih, pada 2018, indeks harga saham gabungan (IHSG) menjadi yang terbaik di Asia Pasifik, setelah indeks saham di India.

Hingga 2 Januari 2019, BEI mencatat pipeline 13 perusahaan yang berencana melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham maupun pencatatan saham (listing) di BEI sebelum akhir Maret 2019.

Selain perusahaan swasta, IPO tahun ini juga akan disemarakkan oleh anak usaha BUMN. Sebanyak enam anak usaha BUMN berencana go public. Jumlah tersebut lebih banyak dibandingkan IPO anak usaha BUMN pada 2017 sebanyak empat perusahaan dan 2018 sebanyak tiga perusahaan.

Peningkatan emiten yang lebih banyak tahun ini juga akan didukung oleh peningkatan rata-rata frekuensi dan nilai transaksi harian, serta penambahan jumlah investor. Secara umum, hal tersebut membuat bursa saham di Indonesia menarik bagi perusahaan untuk mencatatkan sahamnya.

Khusus investor saham, BEI mencatat peningkatan sebanyak 222 ribu investor pada 2018, sehingga total investor saham naik menjadi 851 ribu. Sementara itu, mengacu data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (BEI) per 27 Desember 2018, total investor di pasar modal yang meliputi kepemilikan instrumen saham, reksa dana, dan surat utang mencapai 1,6 juta single investor identification (SID). Dibandingkan pencapaian 2017 yang sebanyak 1,2 juta SID, maka total investor di pasar modal Indonesia tumbuh 44,64%.

Seiring dengan itu, rata-rata nilai transaksi harian sudah lebih mudah menembus Rp 8,5 triliun dibandingkan sebelumnya. Padahal, sebelum implementasi T+2, pencapaian rata-rata nilai transaksi harian cukup sulit untuk mencapai Rp 8 triliun.

Di sisi lain, penggalangan dana dari surat utang korporasi diprediksi minimal sama dengan pencapaian tahun lalu. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memperkirakan nilai penerbitan surat utang korporasi 2019 sebesar Rp 135,2 triliun.

Meski tahun ini suku bunga akan naik, tingginya surat utang yang jatuh tempo pada 2019 sebesar Rp 112,4 triliun akan menjadi pendorong perusahaan untuk kembali menerbitkan surat utang untuk refinancing.

Sementara itu, sejumlah emiten yang sahamnya tercatat di BEI optimistis prospek bisnis pada 2019 akan lebih baik. Direktur Keuangan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) Antonius N Steve Kosasih menyatakan, pihaknya yakin kinerja 2019 akan lebih tinggi dari realisasi 2018. Perseroan memproyeksikan pencapaian total pendapatan 2018 berkisar Rp 38-39 triliun dan laba bersih sebesar Rp 2 triliun. Pada 2019, Wika yakin bisa membukukan kenaikan total pendapatan dan laba bersih sebesar 20%.

Direktur Utama PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Arie Prabowo Ariotedjo juga optimistis tren kinerja yang positif akan terjaga pada 2019. Sampai akhir kuartal III-2018, Antam membukukan peningkatan profitabilitas dengan raihan laba bersih Rp 631,13 miliar. Peningkatan profitabilitas juga terefleksi pada kenaikan signifikan laba usaha dari Rp 232,89 miliar menjadi Rp 1,93 triliun. Laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) juga tumbuh 96,33% dari Rp 1,09 triliun menjadi Rp 2,14 triliun.

Rekomendasi Saham
Ihwal saham-saham pilihan tahun ini, kalangan analis merekomendasikan beli delapan saham yang tergabung dalam indeks LQ45. Saham-saham tersebut diprediksi mencetak capital gain di atas 10%. Delapan saham itu berasal dari sektor perbankan, telekomunikasi, consumer goods, serta infrastruktur dan konstruksi.

Di sektor perbankan, saham LQ45 yang berpotensi mencetak capital gain di atas 10% dan direkomendasikan untuk dikoleksi sepanjang 2019 yakni saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan target harga Rp 9.040. Kemudian, saham PT Bank Negara Indonesia (BBNI) dengan target harga Rp 11.150 dan saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) dengan target harga Rp 2.850.

Di sektor telekomunikasi, saham yang direkomendasikan adalah PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM) dengan target harga Rp 4.930. Di sektor consumer goods, ada saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dengan target harga Rp 9.286.

Sedangkan di sektor infrastruktur dan konstruksi adalah saham PT Jasa Marga Tbk (JSMR) dengan target harga Rp 5.200, serta PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dengan target harga Rp 2.380 dan Rp 2.680. Lalu, saham PT Waskita Karya Tbk (WSKT) dengan target harga Rp 2.240.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee mengatakan, pelaksanaan pileg dan pilpres tahun ini membuat saham-saham sektor barang konsumsi (consumer goods) menarik karena adanya permintaan yang cukup bagus, seiring peningkatan daya beli. Karena itu, dia memproyeksikan saham-saham consumer goods seperti INDF dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR).

Selain itu, dengan asumsi tren suku bunga stabil serta peningkatan kredit pada tahun ini, Hans menilai saham perbankan pun prospektif seperti saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).

Secara terpisah, Kepala Riset Koneksi Capital Alfred Nainggolan memproyeksikan saham-saham prospektif pada 2019 adalah sektor perbankan. Sektor perbankan kemungkinan mencapai pertumbuhan yang solid. Apalagi dari sisi penyaluran kredit terlihat bagus pada 2018 dan diproyeksi berlanjut hingga tahun ini. Dengan begitu, aktivitas keuangan meningkat dan adjustment perbankan bisa meningkat. Dia merekomendasikan BMRI dan BBTN.

Kemudian, menurut Alfred, sektor telekomunikasi juga prospektif dan layak dikoleksi. Dia memperkirakan harga saham emiten telekomunikasi pada tahun ini akan pulih, meski pada 2018 mengalami tekanan cukup dalam. Saham yang direkomendasikan TLKM dan ISAT.

Selain itu, pelaksanaan pemilu dan inflasi yang relatif rendah membuat daya beli masyarakat menguat. Adanya potensi peningkatan daya beli membuat saham-saham sektor consumer goods punya prospek bagus ke depannya. Dia merekomendasikan INDF dan MYOR.

Return Reksa Dana
Sementara itu, untuk reksa dana, rata-rata tingkat pengembalian investasi (return) pada 2019 diyakini lebih ciamik dibandingkan 2018. Tahun ini, rata-rata return reksa dana saham diproyeksi sebesar 9%, pasar uang 5,5-6%, campuran 5-6%, dan pendapatan tetap (fixed income) 3-4%.

Berdasarkan catatan PT Infovesta Utama, sejak akhir 2017 hingga 14 Desember 2018, rata-rata return reksa dana saham minus 4,61% atau lebih rendah dari indeks harga saham gabungan (IHSG) yang minus 2,92%. Adapun rata-rata return reksa dana campuran minus 2,19% dan pendapatan tetap minus 2,7%. Hanya return pasar uang yang positif sebesar 4%.

Head of Capital Market Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengemukakan, meski kinerja reksa dana sepanjang 2018 lebih rendah dibandingkan 2017, peluang penguatan kinerja seluruh jenis reksa dana akan terjadi pada tahun ini. "Pada 2019, kami memproyeksi IHSG akan melaju ke level 6.700-6.800, sehingga minimal rata-rata return reksa dana saham bisa mencapai 9%," tegas dia.

Wawan juga optimistis, penguatan IHSG akan berlangsung pada Januari-April 2019. Setelah itu, IHSG berpotensi terkoreksi, karena kemungkinan investor melakukan aksi ambil untung (profit taking). Meski demikian, IHSG tetap diyakini kembali menguat, terutama pada kuartal IV-2019.

Catatan: artikel ini sudah terbit di harian Investor Daily edisi 4 Januari 2019 dengan judul "Optimisme di Lantai Bursa yang Bukan Sekadar Kata-kata"



Sumber: Investor Daily