Pemimpin Bisnis Tiongkok Datang ke Davos dengan Optimisme

Pemimpin Bisnis Tiongkok Datang ke Davos dengan Optimisme
Cedar Holdings' Zhang Jin dan GAC's Zeng Qinghong di sela WEF di Davos, Swiss. ( Foto: CNBC )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Sabtu, 26 Januari 2019 | 08:53 WIB

Pada 23 Januari dinihari, pengusaha Tiongkok Zhang Jin keluar dari limusinnya, lalu berjalan beberapa langkah di udara dingin minus 16 derajat Celcius, memasuki Hotel Sunstar di Davos.

Zhang memimpin perusahaan ke-16 terbesar di Tiongkok, yang berpusat di Guangzhou, Cedar Holdings, datang ke Swiss dengan pesan optimisme.

Pria 47 tahun, yang menempati peringkat orang terkaya ke-46 di Tiongkok menurut Forbes, memiliki jadwal sibuk selama World Economic Forum (WEF) tahun ini. Sehari sebelumnya, Zhang bergabung dengan Wali Kota Guangzhou dan delegasi Tiongkok lainnya untuk pertemuan yang dihadiri CEO Natixis Francois Riahi dan Gubernur Otoritas Investasi Umum Arab Saudi, Ibrahim Al-Omar.

Setibanya di Hotel Sunstar, Zhang dijadwalkan bertemu Presiden Kamar Dagang dan Industri Ukraina, Gennadiy Chyzhykov, untuk menandatangani perjanjian membantu Ukraina menjual lebih banyak komoditas ke Tiongkok.

Sorenya, Zhang bergabung dengan panel diskusi di sesi East Tech West CNBC di Davos. Zhang memberi tahu ke publik bahwa globalisasi tetap menjadi prioritas bagi perusahaan Tiongkok.

Itulah inti pesan dari beberapa pemimpin bisnis Tiongkok yang mengikuti proyek besar serta keinginan mereka melihat akhir perang dagang AS-Tiongkok yang sedang berlangsung. Mereka juga optimistis bahwa Tiongkok sebagai ekonomi terbesar Asia akan terus mendorong pertumbuhan global.

Tujuan Globalisasi
China's Greater Bay Area adalah proyek yang sedang berlangsung dengan menggabungkan sembilan kota di provinsi selatan Guangdong dengan Hong Kong dan Makau. Proyek ini rencananya untuk menciptakan raksasa aliran modal terintegrasi, tenaga kerja dan peluang perdagangan, hingga membentuk pusat teknologi timur menyaingi Silikon Valey di AS.

Perkembangan itu juga dilihat sebagai pembentukan pusat inovasi untuk the Belt and Road Initiatif (Inisiatif Sabuk dan Jalan)- program investasi global Beijing untuk membangun jaringan infrastruktur yang menghubungkan aliran ekonomi internasional ke Tiongkok

Di Davos, delegasi Tiongkok mempromosikan Area Greater Bay dan Belt and Road.

"Tiongkok adalah salah satu importir komoditas terbesar, tetapi kami belum memiliki suara untuk penetapan harga pasar," kata Zhang. "Kami ingin mendorong rantai pasokan kami secara lebih global melalui penyebaran internasional dan menghubungkannya dengan pemasok lokal kami. Dengan mitra internasional, kami dapat membangun jaringan global, yang dapat membantu meningkatkan suara kami dalam penetapan harga global untuk komoditas. "

"Pengembangan Area Greater Bay di Tiongkok juga merupakan dorongan yang sangat baik untuk menjadikan Tiongkok sebagai pusat dunia," tambahnya.

Seperti yang dikatakan Zhang kepada CNBC selama diskusi panel berbahasa Mandarinnya: "Ini adalah inisiatif Belt and Road yang memungkinkan transaksi (internasional) kami."

Pesan Zhang digaungkan oleh pengusaha Tiongkok lainnya di panel CNBC.

"Di bawah Belt and Road Initiative, kami memiliki jejak kaki di 18 negara," kata Ketua Guangzhou Automobile Group (GAC), Zeng Qinghong. "Di Timur Tengah, di Asia Tengah dan di negara-negara seperti Rusia, kami memiliki banyak peluang untuk masuk ke pasar di sana."

Zeng mengatakan, jika perang dagang AS-Tiongkok yang sedang berlangsung berakhir, peluang bisa makin terbuka. "Kami berharap begitu perang perdagangan antara AS dan Tiongkok berhenti, kita dapat memasuki pasar AS," kata dia.

Namun tanpa ada perjanjian perdagangan antara Washington dan Beijing, Zeng mengatakan perusahaannya masih akan mendunia dengan kecepatan penuh. "Globalisasi adalah tujuan untuk GAC," katanya.

"Kami ingin menglobal dengan bakat dan pusat penelitian kami, kemudian kami ingin mendorong produk kami secara global."

Awal pekan ini Beijing mengumumkan bahwa produk domestik bruto (PDB) 2018 tumbuh pada laju paling lambat sejak 1990. Di tengah perlambatan ekonomi itu, otoritas Tiogkok menerapkan langkah stimulus baru. Selian itu, lembaga pemeringkat memperingatkan kapasitas perusahaan Tiongkok untuk membayar utang mereka.

Sementara sesuatu yang viral di media sosial Tiongkok mengatakan, "2018 adalah tahun terburuk bagi Tiongkok dalam satu dekade terakhir, tetapi itu akan menjadi tahun terbaik bagi Tiongkok dalam dekade berikutnya."

Namun terlepas dari semua itu, Zhang dan Zeng menyatakan keyakinannya tentang prospek pertumbuhan negara mereka.

"Tiongkok dapat menghasilkan konsumsi domestiknya sendiri, yang dapat mendorong ekonominya sendiri untuk tumbuh lebih baik," kata Zhang. "Selama empat dekade terakhir pembukaan, untuk setiap delapan hingga 10 tahun, kami akan mendengar pandangan pesimistis seperti itu, tetapi pemerintah pusat selalu menciptakan keajaiban."

"Saya tidak percaya bahwa tantangan seperti itu tidak dapat diatasi. Saya tentu tidak percaya 2018 akan menjadi tahun terbaik dalam dekade berikutnya. Saya tidak setuju dengan itu," tambah Zhang.

Zeng juga menyatakan tingkat kepercayaannya itu. "Sebagai produsen mobil, kami masih memiliki banyak ruang untuk bermanuver," kata Zeng kepada CNBC.

"Kami memiliki pasar rumah yang besar. Lihat di AS, 80 orang dari 100 mobil sudah dimiliki, 60 dari 100 di Jepang memiliki mobil sendiri. Tetapi dari 100, hanya 17 orang yang memiliki mobil di Tiongkok."

Komentar kedua pemimpin bisnis mencerminkan garis perwakilan Tiongkok lainnya yang menghadiri Forum Ekonomi Dunia 2019. Itu termasuk Wakil Presiden Tiongkok Wang Qishan, yang mencoba meredakan kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi Tiongkok dan berpendapat bahwa pertumbuhan negara itu akan berlanjut dan akan berkelanjutan.



Sumber: CNBC