Tiket Pesawat Dorong Inflasi di Yogyakarta

Tiket Pesawat Dorong Inflasi di Yogyakarta
Ilustrasi bagasi pesawat ( Foto: Istimewa )
Fuska Sani Evani / FMB Sabtu, 2 Februari 2019 | 10:10 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Tingginya kenaikan harga tiket pesawat, sebesar 8,37 persen, memberi andil sebesar 0,13 persen inflasi Yogyakarta pada Januari 2019 sebesar 0,42 persen.

Badan Pusat Statistik (BPS) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Johanes De Britto Priyono mencatat, komoditas angkutan udara memberi andil yang cukup signifikan terhadap inflasi.

“Tamu mancanegara maupun domestik yang datang pada Desember 2018, pulang pada Januari, kena harga tiket Januari yang mahal, misalnya tiket pesawat Yogyakarta-Jakarta salah satu maskapai biasanya Rp 600.000-an menjadi Rp 800.000-an," kata Johanes De Britto Priyono, Jumat (1/2).

Penyumbang inflasi kedua yakni beras yang dengan andil 0,07 persen, bawang merah (0,04 persen), daging ayam ras (0,03 persen), dan cabai rawit dengan andil 0,01 persen.

Ia mengatakan selain komoditas penyumbang inflasi, ada pula komoditas penghambat inflasi seperti bahan bakar bensin dengan andil -0,05 persen, kacang panjang dengan andil -0,02 persen, buncis, salak, telur ayam ras, jeruk, cabai merah, lele, kol putih/kubis dengan andil -0,01 persen. Namun, penurunan itu tidak mampu mengimbangi kenaikan harga.

"Pada 5 Januari terjadi penurunan bensin. Tanggal satu sampai empat masih dengan harga lama. Sedikit harga lama dengan sebagian besar harga baru. Namun, tidak mampu menutupi tiket pesawat sehingga masih inflasi dan tidak deflasi," ujar dia.

Inflasi Januari 2019 memang masih lebih besar dibandingkan nasional. Namun, secara year on yearinflasi Januari Yogya sebesar 2,53 persen. Sementara inflasi nasional untuk Januari terpantau 0,32 persen.

Ditambahkan Kepala Kantor Pewakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) DIY Budi Hanoto, inflasi DIY Januari 2019 month to month (0,42 persen), year to date (0,42 persen), dan year on year (2,53 persen).

Inflasi pangan DIY month to month (0,62 persen), dan year on year (1,98 persen).

Faktor penyebab inflasi DIY karena ada tekanan inflasi dari kelompok tarif transportasi angkutan udara sejalan dengan arus balik liburan di bulan Januari. "Ada tekanan harga pada komoditas beras, seiring dengan masih berlangsungnya musim tanam, dan ada peningkatan harga komoditas yang terkait dengan proyek konstruksi proyek strategis nasional, di antaranya tukang bukan mandor dan besi beton," terang Budi Hanoto.

Secara umum, meski inflasi Yogyakarta di atas nasional, pencapaian inflasi Januari 2019 lebih rendah dibandingkan Desember 2018 yang mencapai 0,57 persen. "Pencapaian ini masih on track, mengingat Januari masih terdapat imbas dari dampak arus balik liburan. Di sisi inflasi pangan, khususnya beras karena masih berlangsung musim tanam," katanya.

Kenaikan harga bagasi
Ketua Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) atau Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia DIY Udhi Sudiyanto mengatakan kenaikan tiket pesawat tidak senapas dengan target pemerintah untuk menggaet wisatawan.

Udhi menyebutkan hal ini juga akan berdampak pada sektor ekonomi lainnya. Menurutnya para wisatawan akan berpikir ulang apabila akan belanja barang-barang kerajinan dan suvenir dari DIY karena barang-barang itu akan menambah bagasi lebih berat dan akan lebih

Pesawat merupakan jembatan bagi dunia pariwisata dan wisatawan khususnya domestik. Ketentuan bagasi berbayar dan mahalnya harga tiket, akan memicu turunnya minat pengunjung destinsi wisata.

Ketentuan yang dikeluarkan oleh Lion Group bahwa tarif bagasi tambahan dipatok senilai Rp 155.000 untuk berat 5 kilogram hingga Rp 930.000 untuk kapasitas 30 kilogram. Hal ini sangat kontraproduktif dengan karakteristik masyarakat Indonesia yang kerap membawa buah tangan sewaktu berpergian ke luar kota, baik dalam urusan wisata.

"Dampaknya, wisatawan akan cenderung ke destinasi luar negeri," ujarnya.



Sumber: Suara Pembaruan