Survei McKinsey: Kantor Cabang Bank Mulai Ditinggalkan

Survei McKinsey: Kantor Cabang Bank Mulai Ditinggalkan
Perwakilan McKinsey & Company di Indonesia, Guillaume de Gant├Ęs memaparkan hasil riset yang dilakukan McKinsey, di Jakarta, Senin, 12 Februari 2019. ( Foto: Beritasatu Photo / Herman )
Herman / WBP Senin, 11 Februari 2019 | 21:04 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Meningkatnya penggunaan smartphone telah mengubah kebiasaan masyarakat saat melakukan transaksi, termasuk ketika mengakses layanan perbankan. Kantor cabang fisik yang selama ini menjadi wadah keterlibatan nasabah tradisional saat ini mulai ditinggalkan karena nasabahnya lebih memilih platform digital untuk transaksi sehari-hari.

Berdasarkan survei Personal Financial Services (PFS) di Asia yang dilakukan McKinsey, transaksi di kantor fisik kini hanya menyumbang 12 hingga 21 persen transaksi bulanan di negara Asia maju dan Asia berkembang.

Survei yang dilakukan McKinsey ini melibatkan sekitar 17.000 responden yang berasal dari 15 negara Asia Pasifik, meliputi Australia, Tiongkok, Hong Kong, India, Indonesia, Jepang, Malaysia, Myanmar, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, dan Vietnam.

"Nasabah kini lebih memilih platform digital untuk transaksi rutin sederhana seperti pengecekan saldo, transfer ke sesama nasabah, atau pembayaran tagihan," kata perwakilan McKinsey & Company di Indonesia, Guillaume de Gantès, di Jakarta, Senin (11/2).

Studi terbaru McKinsey ini juga menyebutkan, penetrasi perbankan digital telah meningkat 1,5 kali sampai 3 kali lipat di negara yang termasuk negara Asia berkembang dari 2014 hingga 2017. Persentase nasabah yang aktif digital (mereka yang menggunakan perbankan digital setidaknya setiap dua minggu dan telah melakukan pembelian e-Commerce dalam enam bulan terakhir) juga telah meningkat dua kali lipat di negara Asia berkembang sejak 2014 menjadi sekitar 25 persen dari populasi, dan tumbuh 1,2 kali lipat di negara Asia maju menjadi 85 persen dari populasi.

Guillaume memaparkan, dengan banyaknya konsumen yang bersedia untuk melakukan semua aktivitas perbankan secara digital, serangkaian skema digital muncul untuk melayani nasabah tersebut tanpa keterbatasan jaringan distribusi fisik. Selama tiga tahun terakhir, beberapa konsep perbankan baru telah diluncurkan di seluruh kawasan Asia-Pasifik (APAC).

Di Korea Selatan, Kakao meluncurkan Kakaobank. Dengan basis pengguna layanan chat yang mendekati 40 juta akun di Korea Selatan, Kakao meraih satu juta nasabah dalam lima hari pertama. Kakaobank mengumpulkan hingga US$ 3,6 miliar dalam bentuk deposito dan mencairkan lebih dari US$ 3 miliar dalam bentuk pinjaman di 100 hari pertamanya. Sementara di Indonesia, PT Bank BTPN Tbk pada 2016 juga meluncurkan Jenius, bank digital yang mandiri dan pertama dipasarkan.

Hasil survei PFS dari McKinsey menyoroti peluang signifikan untuk entitas bisnis ini. Sekitar 55 hingga 80 persen nasabah di Asia mempertimbangkan untuk membuka rekening dengan bank digital murni tanpa cabang. Nasabah yang bersedia untuk melakukan semua kegiatan perbankan secara digital akan mengalihkan sekitar 35 hingga 40 persen total wallet mereka ke rekening digital.

 



Sumber: BeritaSatu.com