Jadi Penggerak Ekonomi, BI Dukung Kopi Banjarnegara

Jadi Penggerak Ekonomi, BI Dukung Kopi Banjarnegara
Ilustrasi tanaman kopi. ( Foto: Antara )
/ HS Selasa, 12 Februari 2019 | 06:43 WIB

Banjarnegara, Beritasatu.com - Bank Indonesia (BI) memulai program pengembangan ekonomi lokal (local economic development/LED) kopi di Desa Babadan, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

Kick off program tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman Program LED Kopi Banjarnegara "Sejuta Pohon Kopi untuk Konservasi dan Peningkatan Ekonomi Petani" oleh Kepala Kantor Perwakilan (KPw) BI Purwokerto Agus Chusaini dan Wakil Bupati Banjarnegara Syamsuddin di Lapangan Desa Babadan, Kecamatan Pagentan, Banjarnegara, Senin (11/2).

Agus mengatakan Program LED Kopi di Banjarnegara telah dirintis KPw BI Purwokerto bersama Pemerintah Kabupaten Banjarnegara sejak tahun 2018. Program itu meliputi berbagai kegiatan seperti pelatihan, bantuan bibit kopi unggul bersertifikat, memfasilitasi penguatan kelembagaan petani melalui pembentukan koperasi, serta bantuan sejumlah mesin pascapanen.

Berdasarkan data statistik Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Tengah tahun 2014, kata Agus, kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan yang berpotensi dikembangkan terutama jika dilihat dari proporsi luas lahan tanaman kopi.
Selain itu, kata dia, produktivitas kopi di Kabupaten Banjarnegara, yaitu produksi kopi robusta tercatat rata-rata sekitar 865 ton dalam satu kali panen atau lebih kurang 755 kilogram per hektare.

“Sedangkan kopi arabica sekitar 201 ton atau lebih kurang 805 kilogram per hektare,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Banjarnegara Syamsuddin mengatakan kopi merupakan salah satu komoditas yang masuk dalam rencana strategis Pemkab Banjarnegara yang diharapkan mampu berkembang dan menjadi penggerak sektor ekonomi dan industri serta memiliki fungsi konservasi.

"Kopi merupakan komoditas strategis yang nilai ekonomi yang sangat tinggi, yang dapat menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat serta penghasil devisa negara, sehingga komoditas tersebut masuk prioritas kinerja pemerintah sekarang ini," katanya.

Ia mengatakan luas tanaman kopi di Kabupaten Banjarnegara terus mengalami kenaikan dan saat ini sudah mencapai 2.657 hektare. Hal itu menandakan bahwa minat masyarakat untuk menanam dan mengonsumsi kopi cukup tinggi.

"Tuntutan masyarakat akan kopi berkualitas ikut mendorong optimisme petani dalam usaha budi daya kopi," katanya.

Kepala Departemen Regional II BI Dwi Pranoto mengatakan ada dua tujuan utama dari penananaman kopi di Desa Babadan. Pertama, untuk konservasi lahan karena kopi itu akar tunggangnya sangat dalam dan akar serabutnya juga lebar. “Kedua, yang tidak kalah pentingnya adalah peningkatan pendapatan atau kesejahteraan petani," katanya.

Menurut dia, hal itu merupakan dua kata kunci yang harus dilakukan meskipun ada yang ketiga kalau dikembangkan lebih lanjut, yakni keterkaitan kopi dengan sektor-sektor lain seperti pariwisata. Jika hal itu bisa diintegrasikan dengan baik akan meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara.
"Saya kira ini kata kunci yang harus kita pegang dan kita sikapi dengan baik," tegasnya.



Sumber: ANTARA