UMKM Masih Minim Manfaatkan Medsos

UMKM Masih Minim Manfaatkan Medsos
Ilustrasi Media Sosial ( Foto: Istimewa / istimewa )
Thresa Sandra Desfika / MPA Selasa, 12 Februari 2019 | 18:48 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com-Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia dinilai masih minim memanfaatkan media sosial untuk pemasaran produknya.

Pengamat ekonomi digital yang juga CEO PT Duta Sukses Dunia, Yudi Candra menyebut, hingga akhir tahun 2018 terdapat jumlah usaha mikro sebanyak 58,91 juta unit, usaha kecil sebanyak 59.260 unit, dan usaha besar berjumlah 4.987 unit. Namun, yang sudah go digital baru 5 persen. Sisanya masih sangat konvensional dalam pengembangan usahanya.

“Kalau di Amerika sudah 90 persen yang sudah go digital, Indonesia baru sekitar 5 persen saja,” terang Yudi di Jakarta, Selasa (12/2).

Sejatinya, menurut Yudi, ada beberapa faktor yang menyebabkan UMKM Indonesia mengalami perlambatan pertumbuhan usaha, yakni permodalan, sumber daya manusia (SDM,) dan penetrasi pasar.

“Selain modal, UMKM kita terkendala masalah jaringan pasar. Itulah pentingnya UMKM melek media supaya mampu merambah pasar lebih luas,” ujarnya.

Hanya saja, di tengah hiruk pikuk kemudahan promosi yang bisa dilakukan di media berbasis online, seperti media sosial (medsos), hal tersebut masih kurang bisa dimanfaatkan oleh pelaku UMKM.

"Yang sadar dan tahu melakukan promosi melalui medsos masih sangat minim,” ungkap Yudi.

Yudi menaksir, minimnya pemanfaatan medsos oleh pelaku UMKM itu karena minimnya pendampingan dari pemerintah akan pemahaman tentang digitalisasi dan potensi medsos sebagai sarana promosi.

“Masih sangat banyak sekali pelaku usaha yang belum membuat medsos, bahkan tidak sedikit pula yang sudah punya hanya saja tidak bisa mengoperasikan karena dibuatkan orang. Lantas bagaimana mereka bisa mempromosikan produknya kalau tidak punya akun atau tidak mengoperasikan medsos,” paparnya.

Meski, saat ini ada pendampingan dari pemerintah atau dari swasta maupun BUMN, terang Yudi, hanya saja lebih banyak asas kepentingannya. Contohnya, pemerintah membuat program pendampingan hanya sebatas program, swasta atau BUMN membuat seminar karena punya kepentingan untuk target bisnisnya.



Sumber: Investor Daily