PTDI Butuh $119 Juta Untuk Tingkatkan Produksi Pesawat N219

PTDI Butuh $119 Juta Untuk Tingkatkan Produksi Pesawat N219
Pesawat Nurtanio melakukan uji coba terbang usai Pemberian Nama Pesawat N219 di Base Ops, Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, 10 November 2017. ( Foto: Antara / Rosa Panggabean )
Devie Kania / HA Rabu, 13 Februari 2019 | 01:03 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - PT Dirgantara Indonesia (PT DI) tengah mengkaji alternatif pendanaan eksternal yang mengedepankan ekuitas. Berdasarkan rencana tersebut, produsen pesawat milik negara ini sedang meninjau peluang penerbitkan surat berharga perpetual (perpetual bond) ataupun menggalang dana dari kontrak investasi kolektif-dana investasi real estate (KIK-DIRE).

Direktur Utama Dirgantara Indonesia Elfien Goentoro mengatakan tengah mengkaji dan berdiskusi mengenai pendanaan alternatif dengan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), karena perseroan tengah membutuhkan dana sebesar US$ 119 juta untuk mendukung ekspansi fasilitas produksi pesawat terbang N219.

"KIK-DIRE maupun perpetual bond merupakan beberapa instrumen atau sumber dana yang sedang dijajaki perusahaan. Namun demikian, perseroan belum menentukan pilihan," ujar Elfien di Jakarta, Selasa (12/2).

PT DI masih akan mendiskusikan rencana pendanaan eksternal terkait ekuitas dengan pihak Bappenas lebih lanjut dalam waktu dekat. "Dua minggu lagi, kami akan kembali berdiskusi," ungkap dia.

Pendanaan eksternal ini diharapkan dapat segera difinalisasi karena perseroan memang perlu untuk memingkatkan kapasitas produksi pesawat terbang N219 yang tingkat permintaannya tengah meningkat.

"Permintaan tengah naik, misalnya itu dari Singapura, Uni Emirat Arab, Afrika, Amerika Latin," papar Elfien.

Sebelumnya, Chief Executive Officer (CEO) Pembiayaan Investasi Non-Anggaran Pemerintah (PINA) Bappenas Ekoputro Adijayanto mengatakan pihaknya turut mendorong penerbitan instrumen investasi alternatif untuk mendorong proyek badan usaha milik negara (BUMN) atau swasta. Karena itu pihaknya juga berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengenai hal tersebut.

Salah satu BUMN yang berniat mendanai ekspansi melalui instrumen alternatif investasi, yakni DIRE adalah Dirgantara Indonesia.

“Dirgantara Indonesia berniat mencari pendanaan dari DIRE, yang aset dasarnya merupakan kepemilikan atas pabrik,” jelas dia.

Lebih lanjut dia memaparkan proyek perluasan pabrik yang direncanakan Dirgantara Indonesia termasuk salah satu proyek yang ada di pipeline PINA per Januari 2019. Sejalan dengan hal itu, menurut dia, sejauh ini Dirgantara Indonesia bersama tim PINA masih mengkaji potensi dana yang dapat diraih melalui DIRE.

Kajian tersebut juga terkait dengan aset dasar yang akan digunakan.

”Pastinya kami ingin menegaskan, instrumen DIRE tidak hanya terbatas untuk aset berupa perumahan. Sebaliknya, di luar negeri, setiap aset berada di atas lahan dapat dijadikan aset dasar dari DIRE,” ungkap Ekoputro.

Rencana penggalangan dana melalui instrumen DIRE, papar dia, merupakan bagian strategi dari Dirgantara Indonesia untuk mendanai ekspansi pabrik. Perusahaan pelat merah tersebut ingin meningkatkan kapasitas produksi, terutama untuk pesawat terbang N219.

“Permintaan pesawat terbang N219 cukup tinggi, tapi kapasitas belum memadai sehingga Dirgantara Indonesia perlu ekspansi. Nah, mengenai hal itu, pemerintah juga berinisiatif untuk mendorong peningkatan kapasitasnya,” tegas dia.

Meski target dana melalui DIRE belum ditetapkan, tetapi menilik data pipeline PINA per Januari 2019, kebutuhan investasi Dirgantara Indonesia mencapai Rp 5,9 triliun. Dana tersebut dibutuhkan untuk pengembangan pesawat terbang N219.



CLOSE