Bumi Resources Rencanakan Kawasan Industri US$ 2,5 M

Bumi Resources Rencanakan Kawasan Industri US$ 2,5 M
Ilustrasi batu bara. ( Foto: Antara / Prasetyo Utomo )
Devie Kania / HA Rabu, 13 Februari 2019 | 01:25 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - PT Bumi Resources Tbk (BUMI) tengah berencana membuat kawasan indusri (industrial estate) dengan prediksi nilai proyek mencapai US$ 2,5 miliar. Dalam kawasan industri tersebut, perseroan berniat mendirikan fasilitas untuk gasifikasi batubara.

Presiden Direktur Bumi Resources Saptari Hoedaja mengatakan pihaknya sudah memulai kajian mengenai kawasan industri sejak 2016. Seiring dengan aksi tersebut, dia memperkirakan, feasibility study (studi kelayakan) proyek tersebut dapat selesai sebelum akhir 2019.

“Sekarang kami masih menunggu hasil FS, tapi untuk lahan sudah dipersiapkan sekitar 1.000 hektare (Ha) di wilayah Batuta, Bengalon, Kalimantan Timur,” ujar Saptari di Jakarta, Selasa (12/2).

Lebih lanjut dia menjelaskan, pihaknya berniat mendirikan fasilitas gasifikasi batubara yang dapat menghasilkan produk turunan, berupa metanol dan bahan bakar diesel di kawasan industrinya. Terkait gasifikais batubara, manajemen Bumi Resources telah menetapkan untuk menggunakan batubara dengan kalori 4.200.

Selain untuk mewujudkan rencana diversifikasi bisnis ke produk hilir, Saptari memaparkan perseroan menginisiasi proyek gasifikasi batubara dengan rencana mengurangi biaya bahan bakar yang masuk ke dalam komponen biaya produksi perusahaan.

Dalam dua-tiga tahun setelah fasilitas gasifikasi batubara rampung, Bumi Resources berpotensi dapat mengurangi biaya produksi hingga 30%.

Sejauh ini menurut Saptari, beban bahan bakar diesel yang ditanggung perseroan mencapai US$ 600 juta.

“Jadi kami memang berniat menggunakan hasil produksi proyek gasifikasi batubara, yang berupa bahan bakar diesel untuk keperluan internal. Namun, Bumi Resources berniat untuk mengkomersialkan hasil produksi turunan yang berupa metanol, karena tingkat permintaan di pasar domestik cukup tinggi untuk produk tersebut,” jelas dia.

Namun mengenai rencana proyek gasifikasi batubara, Saptari menegaskan, pihaknya tidak berniat untuk mengincar produksi produk hulu berupa dimethyl ether.

“Kami tidak mengarah ke sana, karena memang rencana bisnis dan kebutuhannya berbeda,” ungkap dia.

Perkiraan awal atas nilai proyek kawasan industri yang termasuk proyek gasifikasi batubara sebesar US$ 2,5 miliar. Namun Saptari menegaskan, nilai secara pasti baru dapat diketahui setelah FS rampung.

Kemudian, setelah FS selesai nantinya, perseroan dapat mulai bergerak untuk mencari pendanaan dan menggandeng mitra strategis, karena perseroan terbuka untuk menjajaki pendirian perusahaan patungan (joint venture), ujarnya.

Walau demikian, pihaknya belum memfinalisasi bentuk atau bisnis yang akan digarap melalui perusahaan patungan.

“Apabila FS mengenai kawasan industri selesai sebelum akhir 2019, kemungkinan konstruksi bisa dilakukan pada 2020 dan berpotensi selesai pada 2023-2024,” papar dia.



CLOSE