Avtur dan Tiket Pesawat Turun

Avtur dan Tiket Pesawat Turun
Petugas Avsec berjaga di depan pintu masuk Terminal 1 B Keberangkatan Bandara Soekarno Hatta (Soetta), Tangerang, Banten, 12 Februari 2019. PT. Angkasa Pura II selaku pengelola bandara Soetta membenarkan adanya penurunan penumpang pesawat akibat tingginya harga tiket pesawat. ( Foto: Antara / Muhammad Iqbal )
/ HA Kamis, 14 Februari 2019 | 05:09 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Keluhan penumpang terhadap harga tiket pesawat yang mahal belakangan ini akan segera mereda. Pasalnya, Pertamina bakal menurunkan harga avtur, sehingga maskapai juga bisa menurunkan tarif tiket pesawat. Penurunan avtur dan tiket pesawat diharapkan membuat dunia penerbangan nasional bergairah kembali dan bisnis pariwisata pun terus tumbuh.

Pengamat penerbangan dari Jaringan Penerbangan Indonesia (Japri) Gerry Soejatman di Jakarta, Rabu (13/2), menyatakan langkah pemerintah yang telah merilis formula harga avtur melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 17 K/10/MEM/2019 dengan menetapkan adanya batas atas dengan margin sebesar 10% dari harga dasar, sehingga dalam waktu dekat harga bahan bakar pesawat itu akan turun, diharapkan juga bisa diikuti oleh maskapai untuk menurunkan harga tiket pesawat.

Dia mengakui saat ini harga tiket pesawat masih mahal, padahal sejak akhir tahun lalu, sudah ada penurunan biaya-biaya. Misalnya, penurunan harga minyak mentah Indonesia (Indonesia crude price/ICP) yang sejalan dengan harga rata-rata minyak mentah utama di pasar internasional.

“Memang sekarang masih mahal. Bahkan, kalau mahal terus seperti ini padahal harga pendukungnya sudah mulai turun, jumlah penumpang bisa terus turun. Jadi, memang seharusnya diturunkan harganya. Jumlah penumpang per Januari sudah turun 10% dibanding Januari tahun lalu. Extra flight Natal dan Tahun Baru juga tak sebanyak biasanya,” katanya kepada SP, di Jakarta, Rabu (13/2).

Menurut Gerry, naik-turunnya harga avtur memengaruhi margin dari maskapai dan bisa menjadi patokan harga dari jenis penerbangan. Selama ini harga avtur sudah mengikuti harga dunia, tetapi maskapai masih terkena pajak pertambahan nilai (PPN) dari penjualan avtur.

“Saya rasa lebih penting kalau PPN avtur dihapus dibanding menurunkan harga avtur yang fluktuatif,” tegasnya.

Untuk menurunkan harga tiket, lanjutnya, maskapai juga harus lebih efisien, seperti mencari paket pendukung perawatan yang lebih efektif, mencari sewa pesawat langsung ke sumbernya--baik baru maupun bekas--dibanding bergantung pada broker. “Dan janganlah terbiasa main di kandang sendiri,” tegasnya.

Hal yang sama disampaikan pengamat penerbangan Alvin Lie. Menurutnya, ketika harga avtur turun, harga tiket pesawat pun akan ikut turun. Namun, besarannya tidak selalu proporsional. Menurutnya, kontribusi avtur terhadap biaya angkut per penumpang per kilometer sekitar 40%.

“Jadi, kalau Pertamina turunkan harga avtur 10%, pengaruhnya terhadap harga tiket sekitar 4%. Airline juga perlu evaluasi biaya-biaya operasional langsung maupun tak langsung agar terjadi penghematan biaya yang signifikan,” katanya di Jakarta, Selasa (12/2).

Menurutnya, swasta boleh menjadi penyedia avtur di bandara. Namun, tuntutan infrastruktur dan manajemen bandara membuat perusahaan swasta sulit menembus. Pertamina sebagai BUMN wajib menyediakan avtur untuk bandara-bandara di kabupaten, walau secara bisnis tidak menguntungkan.

"Karena itu, akan sangat baik juga mensyaratkan kepada swasta yang akan pasok avtur untuk bandara besar, juga wajib pasok avtur untuk bandara-bandara kecil di berbagai kabupaten. Dengan demikian persaingan akan lebih adil," tutur Alvin.

Sementara itu, Ketua Bidang Penerbangan Berjadwal atau The Indonesian National Air Carriers Association (INACA) Bayu Sutanto menjelaskan, selama ini harga avtur mengacu pada formula harga minyak mentah Indonesia. Dengan beralihnya patokan harga avtur dari ICP ke Mean of Platts Singapore (MOPS) akan berdampak pada biaya operasi yang secara tidak langsung bisa menurunkan harga tiket. Namun, lanjutnya, harga tiket tak serta merta dipengaruhi oleh harga avtur, melainkan tingkat permintaan dan penawaran.

Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Polana B Pramesti mengatakan porsi avtur dalam biaya operasi pesawat cukup besar. Meski demikian, bahan bakar pesawat tersebut bukan satu-satunya komponen. “Avtur dalam komponen biaya operasi pesawat mempunyai kontribusi yang besar, selain nilai tukar rupiah,” ujarnya.

Berdasarkan Peraturan Menteri (PM) Perhubungan Nomor 14 Tahun 2016 tentang Mekanisme Formula Perhitungan dan Penetapan Tarif Batas Atas dan Batas Bawah Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Berjadwal Dalam Negeri, harga avtur memberi andil sebesar 24% dari biaya operasional pesawat. Akan tetapi, angka tersebut bisa berbeda-beda di setiap bandara.

Keluhan
Sejak akhir tahun lalu hingga saat ini, sejumlah kalangan mengeluhkan harga tiket pesawat yang mahal. Dampaknya, jumlah penumpang menurun, sejumlah penerbangan dibatalkan, dan aktivitas pariwisata menjadi lesu. Kebijakan beberapa maskapai yang membebani penumpang dengan biaya tambahan bagasi membuat dunia penerbangan nasional selama sebulan terakhir diliputi gonjang-ganjing.

Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno menilai kenaikan tiket pesawat dapat memicu anjloknya sektor pariwisata di daerah itu, sehingga perlu kebijaksanaan dari pemangku kepentingan untuk menurunkan kembali.

"Saya sudah bertemu menteri perhubungan dan pihak Garuda Indonesia menyampaikan serta berharap harga tiket pesawat serta avtur diturunkan sehingga harga tiket kembali normal," katanya di Padang, Selasa (12/2).

Menurutnya, tidak hanya sektor pariwisata, sektor turunan lainnya ikut terdampak dengan kenaikan harga tiket pesawat. "Usaha mikro, kecil, dan menengah, terdampak. Hotel-hotel akan sepi. Rugi kita semua karena dampak ikutannya banyak," ujarnya.

Salah seorang pengelola rumah makan Padang di Bandara Minangkabau, Risa, mengaku sebelum harga tiket pesawat naik, dalam sehari omzetnya mencapai Rp 7 juta, tetapi sekarang hanya Rp 3 juta.

Senada dengannya, Suci, karyawan gerai soto di Bandara Minangkabau, mengaku pengunjungnya berkurang sekitar 30 persen.

“Biasanya dalam satu hari sekitar 100 orang yang makan, tetapi sekarang hanya 70-an orang,” katanya.

Gubernur Nusa Tenggara Barat Zulkieflimansyah juga meminta perhatian pemerintah pusat terkait masih mahalnya harga tiket pesawat ke provinsi itu, sehingga memberatkan masyarakat.

"Per telpon saya sudah bicarakan dengan menteri terkait dan maskapai, sehingga ini bisa mendapat perhatian," ujarnya di Mataram, baru-baru ini.

Menurutnya, tingginya harga tiket penerbangan memang tidak hanya terjadi untuk rute NTB, tetapi juga di seluruh rute di Indonesia. Namun, mengingat NTB sebagai destinasi wisata, maka mahalnya harga tiket membuat tingkat kunjungan wisatawan ke daerah itu menurun.

"Karena kita ini daerah wisata, mudah-mudahan ini bisa diselesaikan. Kita akan tetap komunikasikan dengan pusat, karena persoalan ini bukan hanya kita saja, tetapi semua," katanya.

Kenaikan harga tiket pesawat membuat Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) berencana menggelar aksi unjuk rasa di Istana Merdeka Jakarta, Kamis (28/2). Ketua Asita NTB, Dewantoro Umbu Joka di Mataram, Senin (11/2), menyatakan mereka menuntut penurunan harga tiket penerbangan dan bagasi berbayar.

Kebijakan maskapai yang menaikkan harga tiket pesawat justru telah merugikan sektor pariwisata, khususnya di Lombok, NTB. Dampak lainnya, sejumlah anggota Asita NTB untuk sementara telah menutup kantor, karena merugi.

“Kita tahu budaya wisatawan Nusantara itu berbelanja. Beda dengan wisatawan mancanegara. Karena ada penerapan bagasi berbayar, minat wisatawan Nusantara berbelanja jadi berkurang, akhirnya orang mau berlibur pun juga ikut menurun,” terangnya.

Dari Pekanbaru dilaporkan, sebanyak 730 penerbangan yang melayani Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II dibatalkan sepanjang Januari 2019 akibat melonjaknya harga tiket dan pengenaan biaya bagasi pesawat.

"Total penerbangan yang tidak beroperasi dari dan ke Pekanbaru selama Januari 2019 sebanyak 730 penerbangan," kata General Manager Bandara SSK II Pekanbaru, Jaya Tahoma Sirait kepada Antara di Pekanbaru, Selasa (12/2).

Humas PT Angkasa Pura I Bandara El Tari Kupang, Kadir Usman mengatakan penurunan jumlah penumpang yang cukup signifikan baru terjadi pada tahun ini. Selama 2018, rata-rata jumlah penumpang yang melewati bandara tersebut mencapai 2.500 orang. Namun, selama Januari 2019, jumlahnya menurun menjadi sekitar 1.500 orang per hari.

"Biasanya tidak seperti ini. Ini juga tidak hanya terjadi di Bandara El Tari saja, serta tidak hanya bagi maskapai Lion Air, tetapi hampir semua maskapai mengaku mengalami penurunan penumpang," ujarnya.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh menyatakan penumpang pesawat dari provinsi tersebut yang transit ke Malaysia mengalami pertumbuhan 42,36 persen selama Desember 2018.

Kepala BPS Aceh, Wahyudin di Banda Aceh, menyatakan angka pertumbuhan penumpang internasional tersebut akibat tingginya harga tiket pesawat untuk rute domestik, sehingga penumpang lebih memilih melakukan transit ke negeri jiran Malaysia.

Artikel ini sudah terbit di harian Suara Pembaruan edisi 13 Februari 2019.

 



Sumber: Suara Pembaruan