Meski Pasar Modal Tertekan, Fundamental Domestik Masih Kuat

Meski Pasar Modal Tertekan, Fundamental Domestik Masih Kuat
Ilustrasi IHSG ( Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Kamis, 14 Februari 2019 | 16:54 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pasar modal Indonesia pada 2019 masih akan dihadapkan dengan tingginya risiko ketidakpastian global yang berpotensi menekan nilai tukar rupiah dan memicu aliran modal asing keluar dari dalam negeri (capital outflow). Meski demikian fundamental ekonomi Indonesia masih solid ditopang konsumsi masyarakat.

Hal itu diungkapkan oleh Head of Institutional Research PT MNC Sekuritas Thendra Crisnanda dalam Investor Gathering & Corporate Forum 2019, yang digelar PT MNC Sekuritas Kamis (14/2) dengan tema “The Last Defense”. Acara rutin yang telah digelar sejak 2012 itu dihadiri 500 peserta.

"Kekhawatiran efek riil trade war (perang dagang), berlanjutnya pengetatan moneter global, perlambatan ekonomi Tiongkok dan krisis emerging market serta tingginya defisit neraca berjalan masih akan menjadi tantangan bagi pasar modal Indonesia di tahun 2019," kata Thendra.

Meski demikian, Thendra meyakini bahwa fundamental ekonomi domestik masih solid ditopang pertumbuhan konsumsi lokal yang dinilai sebagai "The Last Defense" bagi Indonesia. Perekonomian Indonesia diproyeksikan bertumbuh sebesar 5,2 persen - 5,3 persen sepanjang 2019 diikuti estimasi pertumbuhan laba korporasi sebesar 10 persen - 12 persen.

Thendra meyakini momentum peningkatan IHSG masih berpotensi berlanjut hingga ke level 6.746 hingga semester I-2019 (buy on expectation). Namun dia menilai terdapat pola sell on news di semester II-2019. Beberapa sektor yang dapat dicermati antara lain sektor konsumsi, infrastruktur dan pertambangan logam.

Adapun saham pilihan adalah PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Buyung Poetra Sembada Tbk (HOKI), PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk (AGRO).

Di sisi lain Head of Fixed Income MNC Sekuritas I Made Adisaputra menyatakan pasar surat utang Indonesia di tahun 2019 akan lebih baik dibandingkan 2018. Hal tersebut karena faktor eksternal dimana Bank Sentral Amerika (teh Fed) menahan diri melanjutkan kenaikan suku bunganya di tengah ancaman perlambatan pertumbuhaan global. Adapun faktor domestik, stabilitas nilai tukar rupiah serta kebijakan pemerintah agar defisit transaksi berjalan menjadi turun akan menentukan pergerakan pasar surat utang di tahun 2019.

Dengan asumsi moderat ke optimistis, dia memperkirakan pasar surat utang negara akan memberikan total return kepada investor berkisar antara 7,50 persen hingga 10,33 persen.

Sementara Direktur Utama MNC Sekuritas Susy Meilina meyakini bahwa informasi yang dipaparkan dalam Investor Gathering & Corporate Forum 2019, mengenai kondisi ekonomi, pasar modal, serta kinerja emiten penting membantu nasabah dalam mengambil keputusan berinvestasi. “Kami ingin semakin mendekatkan dengan nasabah MNC Sekuritas, terutama di Jabodetabek. Kami berharap acara ini semakin memperluas wawasan nasabah dan meningkatkan confidence berinvestasi di pasar modal Indonesia,” kata Susy.

Acara Investor Gathering & Corporate Forum 2019 mengangkat tema The Last Defense dengan tujuan membahas cara investor untuk bukan hanya bertahan, tetapi menjadi pemenang di tengah tantangan ekonomi global dan nasional.

Tahun ini, manajemen MNC Sekuritas juga menghadirkan pembicara pakar kebudayaan Jawa dari Universitas Indonesia Darmoko dan Senior Trader & Investor Vier Abdul Jamal. Selain membahas Market Outlook 2019, MNC Sekuritas menyajikan tips-tips berinvestasi dan trading di pasar modal, serta pembahasan dari sisi primbon Jawa. “Kami juga menggandeng tujuh emiten untuk menyampaikan company update yakni PT AKR Corporindo Tbk (AKRA), PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk (AGRO), PT Blue Bird Tbk (BIRD), PT Buyung Poetra Sembada Tbk (HOKI), PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN), PT PP Properti Tbk (PPRO), dan PT Sarimelati Kencana Tbk (PZZA),” jelas Susy.

Sebagai gambaran hingga akhir 2018, jumlah nasabah MNC Sekuritas telah mencapai 48.000 orang atau naik 62 persen dengan perluasan jaringan point of sales sebanyak 122 poin secara nasional per akhir 2018. Perseroan juga berkomitmen fokus mengembangkan digital trading dengan fitur-fitur canggih sesuai perkembangan industri.