Kejar Target Swasembada, Importir Bawang Putih Dilibatkan

Kejar Target Swasembada, Importir Bawang Putih Dilibatkan
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, bersama Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, melakukan panen perdana bawang putih di Desa Tamansari, Kecamatan Licin, Banyuwangi, Kamis (22/3). ( Foto: Dok. Pemkab Bayuwangi )
Herman / YUD Sabtu, 23 Februari 2019 | 15:27 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pemerintah terus berupaya memperluas areal tanam bawang putih untuk mengejar target swasembada tahun 2021. Setidaknya, sepanjang tahun 2018 telah tertanam bawang putih seluas 8.000 hektar. Luasan tersebut meningkat 4 kali lipat dibandingkan periode tahun-tahun sebelumnya.

Untuk mendukung target tersebut, pada tahun 2017 telah diluncurkan program wajib tanam, di mana importir diwajibkan memproduksi 5 persen dari total pengajuan rekomendasi impornya. Hingga awal 2019, setidaknya telah tertanam 5.500 hektare bawang putih oleh importir.

"Pemerintah sangat mengapresiasi keseriusan dan komitmen importir melaksanakan wajib tanamnya. Tentu pemerintah berkewajiban mendukung dengan insentif kebijakan di semua lini yang lebih berorientasi pada output", ujar Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Suwandi melalui keterangan resmi yang diterima Beritasatu.com, Sabtu (23/2/2019).

Untuk mempercepat swasembada, Suwandi menekankan penanaman bawang putih oleh importir maupun APBN dilaksanakan di lokasi baru. Istilahnya perluasan areal tanam baru (PATB). Menurut Suwandi, PATB penting sekali karena kunci swasembada adalah ekstensifikasi tanam dan peningkatan produktivitas panen.

Karenanya, Suwandi mengingatkan agar Dinas Pertanian turut membantu para importir yang masuk ke wilayahnya, supaya tidak sampai menurunkan semangat petani dan importir untuk menanam bawang putih.

Suwandi menegaskan seluruh hasil panen bawang putih di Indonesia tahun 2019 hingga 2020 masih akan difokuskan untuk benih. Pihaknya memperkirakan, tahun 2019 secara nasional akan ditanam bawang putih minimal 25.000 hektar, terdiri dari APBN sebesar 10.425 hektare, wajib tanam importir 8.000 hektar, dan sisanya dari investor dan swadaya masyarakat.

"Tahun 2021 kita targetkan mampu tanam 100.000 hektar, sehingga swasembada benar-benar terwujud, baik konsumsi maupun benih. Ini proses untuk mengembalikan kejayaan bawang putih nasional kita. Ini kerja hebat yang perlu keterlibatan semua pihak," tegas Suwandi.

Salah satu bekas sentra bawang putih yang kini kembali bangkit adalah Kabupaten Wonosobo di lereng Gunung Sindoro, Prau, Sumbing dan Kembang. Suwandi berharap agar Kabupaten Wonosobo bisa mendukung swasembada 2021. Sebab wilayah tersebut memiliki lokasi yang cocok, tanahnya subur dan hasilnya bagus. Dengan varietas lokal, hasil panennya bisa mencapai 12 hingga 14 ton per hektar.

Bupati Wonosobo, Eko Purnomo juga menyambut baik program swasembada bawang putih yang dicanangkan Pemerintah. Eko menyebut wilayahnya memiliki potensi lahan yang cocok untuk bawang putih seluas 3.750 ha, namun belum dikelola optimal.

"Faktanya dulu Wonosobo dikenal sebagai sentra besar bawang putih, banyak ditanam varietas lokal Lengkong Kuning. Pusatnya di Kecamatan Kertek, Garung, Kalikajar, Sapuran dan Watumalang. Seperti halnya nasib sentra lain, gara-gara impor besar-besaran lambat laun bawang putih Wonosobo jadi tenggelam," tutur Eko.

Menurut Eko, tidak mudah meyakinkan petani untuk mau tanam lagi bawang putih. Namun sejak ada program kemitraan dengan importir, sekarang mulai menggeliat lagi. Sementara ini sudah ada 380 hektar yang ditanam bawang putih oleh 11 importir dan akan terus meluas. Bahkan 50 hektar varietas lumbu kuning telah dipanen dengan hasil yang bagus, sehingga menambah semangat petani untuk menanam bawang putih.



Sumber: BeritaSatu.com