Anggaran Restrukturisasi Klaster Perbankan Terimbas Covid-19 Kurang Rp 1.000 Triliun

Anggaran Restrukturisasi Klaster Perbankan Terimbas Covid-19 Kurang Rp 1.000 Triliun
Ilustrasi perbankan (Foto: Istimewa)
Yudo Dahono / YUD Jumat, 29 Mei 2020 | 22:22 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pandemi virus corona (Covid-19) telah memukul pereknomian dunia. Pemerintah berbagai negara pun seakan koor meluncurkan kebijakan penyelamatan ekonomi negaranya. Sedikitnya 90 negara saat ini melakukan kebijakan restrukturisasi untuk menyelamatkan ekonominya.

Lembaga-Lembaga Ekonomi Dunia seperti World Bank, IMF dan G20 sejak awal pandemi Covid-19 telah menganjurkan kebijakan Restrukturisasi dan Relaksasi untuk negara-negara anggotanya. Sebagian besar negara-negara termasuk Indonesia mengambil modul yang dikembangkan oleh lembaga-lembaga itu.

"Selain memang merupakan suatu saran rasional juga untuk memperoleh manfaat atas kerjasama dengan lembaga-lembaga tersebut," kata Ivan Garda, advokat restrukturisasi, melalui keterangan tertulis, Jumat (29/5/2020).

Namun demikian kemampuan setiap negara untuk melakukan restrukturisasi bermacam-macam, dasarnya adalah assesmen masing-masing negara kemudian realisasi yang bisa dipenuhi. Sampai saat ini belum diketahui berapa persisnya proyeksi yang dibutuhkan oleh Indonesia untuk melakukan restrukturisasi.

Pemerintah telah menyiapkan Rp 405,1 triliun yang digunakan untuk bidang kesehatan sebesar Rp 75 triliun, perluasan Jaring Pengaman Sosial Rp 110 triliun, dukungan industri (insentif perpajakan dan stimulus KUR) Rp 70,1 triliun dan pembiayaan program pemulihan ekonomi nasional Rp150 triliun. Dengan catatan tambahan dalam APBN tersebut menyebabkan defisit anggaran hingga 5%, dan hanya memiliki porsi 2,6% dari Produk Domestik Bruto.

Sebagai perbandingan bisa dilihat negara-negara lain untuk menyelamatkan negaranya dari pandemi Covid-19, seperti dihimpun dari penelusuran Pusat Advokasi dan Restrukturisasi Bisnis Indonesia, sebagai berikut.

Bank sentral China (People's Bank of China/PBoC) menyuntikkan likuiditas mencapai 1,2 triliun yuan atau sekitar Rp 2.422 triliun. Pemerintah Rusia menggelontorkan 1 triliun rubel ($ 13,5 miliar) atau setara 1,2% dari PDB. Pemerintah Korea Selatan mengalokasikan anggaran khusus senilai 11,7 triliun won (USD9,9 miliar) untuk membantu respons medis, bisnis, rumah tangga.

Pemerintah Thailand menyiapkan stimulus khusus jangka pendek senilai 3,2 triliun Baht (AS$ 102,63 miliar) setara dengan 9,0% PDB. Pemerintah Singapura menyisihkan dana sebesar 48 miliar dolar Singapura (AS$ 33,17 miliar) atau setara dengan 12,2% PDB. Pemerintah Malaysia mengumumkan paket stimulus ekonomi senilai AS$ 58 miliar atau sekitar Rp 947 triliun atau setara dengan 17% PDB.

"Jika kita melihat kemampuan dan kebutuhan restrukturisasi Indonesia dalam kluster kreditor perbankan maka akan kita lihat kesenjangan yang luar biasa. Dengan meminta bagian dari fasilitas yang disediakan pemerintah sebesar Rp 70,1 triliun untuk dukungan industri (insentif perpajakan dan stimulus KUR) dan pembiayaan program pemulihan ekonomi nasional Rp 150 triliun," ujar Ivan.

Dapat dibandingkan dengan proyeksi kebutuhan restrukturisasi yang dicatat oleh Otoritas Jasa Keungan (OJK) pada 2 Mei 2020 yang berasal dari 101 bank yang menyampaikan potensi restrukturisasi tersebut, diprediksi senilai Rp 1.112,59 triliun yang berasal dari 5,92 juta debitur. Di mana pada bulan yang sama Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan menyiapkan anggaran hanya Rp 35 triliun untuk restrukturisasi selama 6 bulan. Jadi untuk kebutuhan restrukturisasi debitor di kluster kreditor perbankan saja masih terdapat kekurangan Rp 1.077,59 triliun.

"Jadi tidak mungkin para pengusaha debitur hanya mengharapkan kebaikan lembaga keuangan untuk memberikan restrukturisasi. Kemampuan perbankan untuk melakukan restrukturisasi secara sukarela pada debitornya sangatlah kecil.
Di sinilah debitor harus berinisiatif melakukan restrukturisasi atas kewajiban-kewajibannya melalui sarana hukum yang memfasilitasi perlindungan hukum terhadap debitur bermasalah. Hal yang tidak mudah tetapi harus dilakukan,” pungkasnya.



Sumber: BeritaSatu.com