Sidang Munas NU: MLM Haram!

Sidang Munas NU: MLM Haram!
Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama NU ( Foto: Berita Satu / yustinus paat )
Yustinus Paat / IDS Kamis, 28 Februari 2019 | 19:13 WIB

Banjar, Beritasatu.com - Salah satu hasil sidang komisi Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama NU adalah menyatakan bisnis money game model multi level marketing (MLM) haram. NU mencium aroma pelanggaran terselubung yang berujung korban dari bisnis tersebut, baik yang dilakukan secara tatap muka maupun digital, baik mendapatkan legalitas dari pemerintah maupun tidak.

Persoalan bisnis MLM ini dibahas dalam Komisi Bahtusl Masail Diniyah Waqi'iyah yang fokus pada kasus-kasus aktual di masyarakat.

"Kami putuskan bisnis MLM ini haram karena sejumlah alasan. Meskipun keputusannya belum final karena keputusan final dari diskusi tiap komisi ini akan dibacakan kembali pada forum sidang pleno untuk dibahas dan diputuskan secara resmi," ujar pimpinan sidang komisi ini, Ustaz Asnawi Ridwan di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Langensari, Kota Banjar, Jawa Barat, Kamis (28/2).

Ustadz Asnawi mengatakan, hukum bisnis money game model MLM, baik menggunakan skema piramida atau matahari, dan skema ponzi adalah haram. Asnawi menyebutkan lima ketentuan bisnis dengan menggunakan sistem MLM, baik yang menggunakan skema piramida maupun skema matahari.

Pertama, adanya uang pendaftaran atau dibarengi dengan pembelian produk yang merupakan syarat pula dalam mengikuti kegiatan penjualan berjenjangnya atau mencari mitra, dan dalam pendaftaran atau pembelian tersebut menghasilkan komisi atau bonus.

Kedua, adanya bonus-bonus yang didapatkan ketika jaringannya semakin banyak ke bawah hingga membentuk skema piramida. Terkait skema matahari pada dasarnya bisa dikatakan dengan skema piramida ketika adanya ketergantungan pada setoran dari anggota baru untuk bertahan dan untuk menguntungkan anggota lama.

Ketiga, rancangan pemasarannya menghasilkan bonus atau komisi dan penghargaan lainnya berdasarkan dari kegiatan tertentu.

Keempat, pada dasarnya produk bisa didapatkan secara gratis atau dalam kasus lain harga produk jauh lebih murah atau dalam kasus lain manfaat produk tidak sesuai dengan apa yang diiklankan.

Kelima, bonus rekrut jauh lebih besar dibandingkan dengan bonus dari manfaat produk itu sendiri.

"(Misalnya) Agen travel Arminareka menggunakan skema matahari. Seseorang bayar Rp 3 juta bisa pergi umrah (melalui travel Arminareka) dengan syarat orang tersebut mendapatkan 10 jemaah. Kalau dia tidak bisa mendapatkan 10 jemaah, maka uangnya terpendam di perusahaan," jelas Ustaz Asnawi.

Begitu juga, kata Ustaz Asnawi dengan bisnis model ponzi atau gali lubang tutup lubang. Ustaz Asnawi menyebut bisnis model ini adalah bisnis yang menjual barang, namun barangnya tidak ada.

"Skema ponzi seperti bitcoin. Beli password, namun barangnya tidak ada. Beli barang, namun barangnya tidak ada," jelas dia.

Menurut Ustadz Asnawi, sebagaimana hasil sidang, ada tiga alasan yang mendasari mengapa bisnis model seperti itu tidak diperbolehkan. Pertama, penipuan (gharar). Bisnis money game model MLM dan ponzi mengandung unsur gharar.

"Kedua, menyalahi prinsip akad transaksi. Ketiga, motivasi akad transaksi adalah bonus, bukan barang. Jadi, haram karena terdapat gharar dan syarat yang menyalahi prinsip akad sekaligus motivasi (ba’its) dari transaksi tersebut adalah bonus bukan barang," terang dia.

Meski pendapat mengerucut pada suatu kesepakatan pandangan dalam sidang komisi, keputusan final dari diskusi tiap komisi pada Munas Alim Ulama ini akan dibacakan kembali pada forum sidang pleno untuk dibahas dan diputuskan secara resmi. Menurut jadwal, sidang pleno terakhir berlangsung pada Jumat (1/3).



Sumber: BeritaSatu.com