Investor di Pasar Modal Segera Tembus 2,5 Juta

Investor di Pasar Modal Segera Tembus 2,5 Juta
Direktur Utama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Friderica Widyasari Dewi memberikan cinderamata kepada Direktur Pengelolaan Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sujanto, saat acara diskusi dengan tema ‘Politik dan Ekonomi’ di Jakarta, 14 Maret 2019./ ( Foto: Investor Daily / David Gita Roza )
Devie Kania / HA Kamis, 14 Maret 2019 | 23:35 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) memproyeksikan jumlah investor di pasar modal dapat mencapai 2,5 juta single investor identification (SID) dalam waktu dekat. Hingga pertengahan Maret 2019, jumlah investor pasar modal telah mencapai 1,7 juta SID.

Direktur Utama KSEI Friderica Widyasari Dewi mengatakan, peluang untuk peningkatan jumlah SID yang signikan sangat terbuka. Sebab, perkembangan jumlah investor cukup baik belakangan ini, antara lain turut dikontribusikan oleh pemasaran produk secara digital atau melalui perusahaan financial technology (Fintech).

"Ke depan, pasar modal kita juga bisa meraih tambahan jumlah investor hingga 4,5 juta, jika program BP Tapera berjalan. Namun, terlepas dari hal itu, kami yakin pencapaian jumlah investor hingga 2,5 juta bisa dicapai dalam waktu dekat," kata Friderica yang akrab disapa Kiky, di Jakarta, Kamis (14/3/2019).

Sebelumnya, pada 2017, jumlah investor pasar modal baru mencapai 1,12 juta SID. Sementara itu, pada akhir 2018, jumlah tersebut naik menjadi 1,62 juta SID dan kembali merangkak naik menjadi 1,68 juta SID.

Hingga akhirnya, pada pertengahan Maret ini jumlah investor pasar modal mencapai 1,7 juta SID. Padahal, pada 2014 KSEI mendata jumlah investor pasar modal baru sebanyak 281.256 SID.

Menurut Kiky, dari jumlah investor sebanyak 1,7 juta, terbagi menjadi investor reksa dana, saham, dan surat utang. Sejauh ini, pihaknya memantau perkembangan terbanyak berasal dari investor reksa dana.

Lebih lanjut dia mengatakan, sebanyak 70% dari total SID masih berasal dari Pulau Jawa. Karena itu, KSEI menilai, potensi pengembangan basis investor di Indonesia masih terbuka luas karena potensi di beberapa lainnya belum maksimal.

KSEI berkomitmen mendorong program simplifikasi yang dapat mendorong percepatan proses pembukaan rekening dana nasabah. Kemudian, tambah Kiky, pihaknya memperkirakan penerapan e-voting dan e-proxy dapat berjalan perdana di Indonesia pada semester II mendatang.

Pada semester I tahun ini diharapkan regulasi yang mengatur tentang e-voting dan e-proxy dapat meluncur.

"Dengan e-voting dan e-proxy, harapannya tidak ada lagi rapat umum pemegang saham (RUPS) yang tidak kuorum karena pemegang sahamnya berhalangan hadir. Sebaliknya, pemegang saham bisa tetap mengikuti RUPS dan memberikan voting melalui program baru KSEI ke depan," ujar dia.

Lebih lanjut Kiky memaparkan rencana KSEI juga berencana untuk menginisiasi program know your custumer (KYC) bagi investor.Untuk rinciannya, dia menyatakan, KSEI akan membuat kajian yang akan dilaporkan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Jadi harapannya, satu investor perusahaan sekuritas tidak perlu lagi melalui proses KYC berkali-kali jika ingin berinvestasi di tempat lain. Untuk hal itu, kami masih mengkaji apakah bisa langsung dikelola KSEI atau harus buat anak usaha," ujar dia.

Sebelumnya, Kiky mengungkapkan, beberapa pengembangan yang direalisasikan oleh KSEI pada 2018 mampu memberikan dampak positif bagi Pasar Modal Indonesia. Misalnya implementasi sistem utama The Central Depository and Book-Entry Settlement System (C-BEST) generasi terbaru atau C-BEST Next-G dan perubahan siklus penyelesaian transaksi 3 hari (T+3) menjadi 2 hari (T+2) bersama SRO.

Kapasitas sistem KSEI generasi terbaru tersebut meningkat enam kali lipat dan mampu menangani hingga 3 juta investor.

"Kami berharap hal ini dapat meningkatkan kenyamanan investor dalam bertransaksi serta menarik minat investor baru untuk berinvestasi di pasar modal," ungkap Kiky.

KSEI juga mengambil peran penting dalam implementasi perubahan siklus penyelesaian transaksi yang sebelumnya 3 hari (T+3) menjadi 2 hari (T+2), yang mulai diterapkan pada perdagangan bursa per tanggal 26 November 2018. Double settlement pada tanggal 28 November 2018 telah sukses dilaksanakan KSEI tanpa kendala yang berarti.



Sumber: BeritaSatu.com