JK: Daripada Buyback Indosat, Lebih Baik Bangun yang Baru

JK: Daripada Buyback Indosat, Lebih Baik Bangun yang Baru
Pengunjung melihat dari dekat depan Instalasi ratusan bola raksasa 4G Plus Kuat-MakinKuatInternetan, di Archipelago Indonesia di TMII, Jakarta, Senin (25/3/19). Indosat Ooredoo telah mengimplementasi teknologi 4G di seluruh jaringannya di Indonesia sehingga pelanggannya dapat menggunakan jaringan 4G Plus. ( Foto: beritasatu photo / mohammad defrizal )
Robertus Wardi / FMB Selasa, 26 Maret 2019 | 15:25 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - ‎Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) mengemukakan tidak ada banyak manfaat membeli kembali (buyback) Indosat. Pasalnya, keuntungan perusahaan yang bergerak dalam telekomunikasi tidak besar.

"Bisnis telekomunikasi itu merupakan bisnis yang padat modal. Investasi yang terus-menerus dengan keuntungan yang kecil, karena itu memang saya kira Indosat itu tidak rugi, hanya keuntunganya sangat kecil," kata JK di Istana Wakil Presiden, Jakarta Pusat, Selasa (26/3/2019).

Ia menanggapi janji calon wakil presiden (cawapres) Sandiaga Uno yang bertekad akan membeli kembali (buyback) PT Indosat. Pasalnya, Indosat dibangun oleh Indonesia tetapi dijual ke Singapura pada masa Menteri BUMN Laksamana Sukardi. Kini, Singapura telah menjual lagi ke perusahan dari Qatar.

JK menjelaskan niat buyback bergantung pada Qatar. Jika perusahaan dari Qatar tidak mau jual, tidak mungkin Indonesia bisa beli.
Di sisi lain, program Indonesia selama ini adalah menarik investasi sebanyak-banyaknya untuk membuka lapangan kerja di Indonesia. Jika mengeluarkan investasi asing maka tidak sesuai dengan target Indonesia selama ini.

"Kita ingin menarik modal asing masuk. Jadi ya kalau kita buyback itu kan justru kita mengeluarkan investasi yang sudah masuk itu. Itu justru terbaik dari filosofi yang ada," tutur JK.

Menurutnya, dalam keadaan seperti sekarang, yang baik dilakukan adalah membangun yang baru. Bangun dengan model dan jenis yang sama tetapi lebih canggih dari Indosat yang ada sekarang. Pembangunan yang baru membuka lapangan kerja bagi masyarakat dan dapat memberi masukan bagi pajak negara.

"Kalau hanya membeli yang sudah ada itu kan tidak menambah apa apa, hanya pindah kepemilikan. Indonesia juga sudah ada di situ ‎(Indosat, Red). Ya bukan masalah nasionalisme saja tetapi ini kita berangkat dari pemikiran investasi yang masuk ke dalam negeri, jangan justru dikeluarkan," tutup JK.



Sumber: Suara Pembaruan