2019, AUM ETF Berpeluang Tembus Rp 15 Triliun

2019, AUM ETF Berpeluang Tembus Rp 15 Triliun
Direktur Utama BPAM, Lilis Setiadi (dua dari kiri) memberi keterangan saat konferensi pers usai acara Pencatatan Perdana Reksa Dana Exchange-raded Fund (EFT), yaitu Batavia IDX30 ETF (XBID) dan Batavia SRI-KEHATI ETF (XBSK) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (27/3/2019). ( Foto: Beritasatu Photo / Uthan A Rachim )
Devie Kania / FMB Jumat, 5 April 2019 | 10:01 WIB

Jakarta, Beritasatu.com − Dana kelolaan (asset under management/AUM) produk exchange traded fund (ETF) di Indonesia berpeluang tembus Rp 15 triliun pada 2019. Proyeksi tersebut setara dengan kenaikan 29,42 persen jika dibandingkan realisasi Rp 11,59 triliun pada 2018.

Head of Capital Market Research PT Infovesta Utama (Infovesta) Wawan Hendrayana menyatakan, peluang pertumbuhan AUM dari ETF cukup terbuka luas. Sebab, ETF memiliki karakteristik likuid, transparan, dan tingkat risikonya lebih moderat dibandingkan berinvestasi langsung di saham ataupun surat utang.

”Nilai AUM ETF mungkin masih jauh dari produk reksa dana secara umum, tetapi prospek pertumbuhannya bisa terjaga. Misalnya tahun ini, kami menduga, AUM ETF minimal bisa tembus ke posisi Rp 15 triliun,” ujar Wawan kepada Investor Daily.

Meski demikian dia menegaskan, hal tersebut dapat terjadi selama semakin banyaknya variasi produk dan penambahan dealer participant atas ETF. Sehingga, keaktifan atau minat manajer investasi untuk meluncurkan produk baru cukup berkorelasi dengan tren peningkatan AUM ETF di Indonesia.

Namun Wawan berharap, ke depan jumlah dealer participant akan lebih banyak, sehingga investor bisa memiliki banyak pilihan perusahaan sekuritas terkait investasi di instrumen ETF. Kemudian, perdagangan ETF di pasar sekunder dapat lebih aktif dan lebih likuid jika semakin banyak perusahaan sekuritas yang menjadi dealer participant ETF.

”Karena itu, semakin banyak manajer investasi, produk, dan dealer participant, terutama yang memiliki basis investor ritel besar itu sangat diperlukan untuk peluang perkembangan ETF ke depan,” tegas dia.

Berdasarkan statistik pasar modal yang dipublikasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total AUM di industri reksa dana (di luar produk alternatif investasi) mencapai Rp 505,39 triliun pada akhir 2018 atau tumbuh 10,46 persen dari posisi sebelumnya yang sebesar Rp 457,51 triliun.

Sementara, pada periode sama AUM produk ETF melonjak 43,44 persen dari Rp 8,08 triliun menjadi Rp 11,59 triliun. Data OJK menunjukkan, AUM dari ETF berbasis saham mencapai Rp 1,4 triliun, ETF-pendapatan tetap Rp 5,33 triliun, ETF- indeks 4,83 triliun, dan ETF berbasis saham syariah sebesar Rp 30 miliar pada akhir 2018.

Wawan mengemukakan, Infovesta memproyeksi, total AUM di industri reksa dana (di luar produk alternatif investasi) dapat mencapai Rp 540 triliun pada 2019. “Pada 2019, peluang pertumbuhan tidak hanya terbatas untuk AUM reksa dana secara umum tapi termasuk ETF,” tegas Wawan.

Data OJK menunjukkan, sampai akhir Februari 2019 total AUM dari ETF di Indonesia mencapai Rp 12,31 triliun. Lebih rinci, AUM dari produk ETF-saham mencapai Rp 1,79 triliun, ETF-pendapatan tetap Rp 5,4 triliun, ETF-indeks Rp 5,09 triliun, ETF berbasis saham syariah senilai Rp 30 miliar.

Namun demikian, para manajer investasi masih berencana menambah dan mencatatkan produk ETF di Bursa Efek Indonesia (BEI) lebih banyak lagi. Adapun, Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna Setia mengakui, masih ada dua pipeline rencana pencatatan ETF dalam waktu dekat.



Sumber: Investor Daily