Kuartal-II, Surat Utang Korporasi Diperkirakan Tembus Rp 35 Triliun

Kuartal-II, Surat Utang Korporasi Diperkirakan Tembus Rp 35 Triliun
Dirut SMF, Ananta Wiyogo menerima sertifikat dari Dirut BEI Inarno Djajadi saat Seremonial Pencatatan Penawaran Umum Obligasi Berkelanjutan IV SMF Tahap VIII Tahun 2019, di Gedung Bursa Efek Indonesia, pada Senin (25/3/2019). ( Foto: Beritasatu Photo/Uthan )
Devie Kania / FMB Jumat, 5 April 2019 | 10:09 WIB

Jakarta, Beritasatu.com − Nilai penerbitan surat utang korporasi selama kuartal II-2019 diprediksi minimal bisa mencapai Rp 35 triliun. Sebanyak 23 korporasi telah mencatatkan emisi surat utang senilai Rp 19,68 triliun di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama 1 Januari-31 Maret 2019 atau kuartal I-2019.

Analis fixed income PT MNC Sekuritas I Made Adi Saputra menyatakan, prospek penerbitan surat utang korporasi pada kuartal II-2019 akan lebih baik dibandingkan periode sama pada 2018. Bahkan, potensi nilai penerbitan surat utang korporasi pada kuartal II ini jauh lebih tinggi dari kuartal I-2019.

“Nilai penerbitan surat utang korporasi bisa lebih tinggi selama kuartal II-2019. Sebab, biaya dana (cost of fund) korporasi yang merilis surat utang kuartal II ini jauh lebih rendah dibandingkan kuartal II-2018 dan surat utang yang akan jatuh tempo juga lebih banyak dibandingkan kuartal I-2019,” ujar Made kepada Investor Daily di Jakarta, belum lama ini.

Dia mengemukakan, korporasi memberikan kupon yang cukup tinggi saat merilis surat utang pada kuartal II-2018. Pasalnya, imbal hasil (yield) surat utang negara (SUN) tengah meningkat dan Bank Indonesia (BI) juga menaikkan suku bunga acuan Bank Indonesia pada Mei 2019.

Selanjutnya, tahun lalu BI juga membukukan kenaikkan 175 basis poin (Bps) atas BI-7 days (reverse) repo rate (BI-7 D RRR) hingga berada dalam level 6 persen. Sehingga, tren cost of fund korporasi semakin meningkat.

Namun demikian, saat ini kondisi yield SUN 10 tahun Indonesia justru berada dalam posisi 7,6 persen. Made menilai, penurunan yield SUN 10 tahun yang merupakan acuan, dapat menjadi salah satu pendorong penurunan kupon dan cost of fund korporasi yang ingin merilis surat utang pada kuartal II-2019.

“BI-7 D RRR masih bertahan dalam level 6 persen, tetapi korporasi tertolong dengan penurunan yield SUN 10 tahun ke level 7,6 persen,” papar dia.

Secara terpisah, Deputi Komisioner Stabilitas Sistem Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Y Santoso Wibowo mengungkapkan, pihaknya mendata total penerbitan surat utang korporasi mencapai Rp 22 triliun selama 1 Januari-25 Maret 2019.

Sedangkan, data BEI menunjukkan, terdapat 23 korporasi yang mencatatkan surat utang senilai Rp 19,68 triliun selama kuartal I-2019. Namun demikian, OJK dan BEI sama-sama memastikan, terdapat pipeline rencana penerbitan sembilan surat utang korporasi senilai Rp 8,85 triliun sampai 29 Maret 2019.

Data statistik pasar modal menunjukkan, OJK memberikan izin efektif atas penerbitan 13 surat utang di luar medium term notes (MTN) senilai Rp 29,39 triliun selama kuartal I-2018. Sementara, selama kuartal II-2018 OJK memberikan izin efektif atas penerbitan surat utang di luar MTN senilai Rp 46,86 triliun. Sehingga, selama semester I-2018 OJK memberikan izin efektif atas penerbitan surat utang korporasi senilai Rp 76,25 triliun

Meski demikian, Made memaparkan, sepanjang kuartal II-2018 realisasi penerbitan surat utang hanya sebesar Rp 28,93 triliun.

“Sehingga, sejauh ini jika menggunakan batas minimal emisi surat utang korporasi bisa Rp 35 triliun selama kuartal II-2019 berarti indikasinya ada pertumbuhan 20,98 persen dibanding kuartal II-2018,” tegas dia.

Adapun, Direktur Utama PT Mandiri Sekuritas Silvano Rumantir memastikan, menjelang akhir Maret 2019

perseroan masih mengantongi mandat sebagai penjamin pelaksana emisi efek (underwriter) surat utang korporasi. Walau belum dapat menginformasikan nilai dan jumlah mandat, tapi dia memastikan, prospek penerbitan surat utang ke depan masih cukup prospektif.

“Kami yakin, penerbitan surat utang korporasi masih akan banyak ke depan dan membuat emisi tahun ini melewati nilai emisi tahun lalu. Sebab, sebagai contoh, tim Mandiri Sekuritas juga masih cukup sibuk atas aktivitas underwriting surat utang,” papar Silvano.



Sumber: Investor Daily