Stabilkan Harga Ayam Potong, Gopan Siap Bersinergi dengan Pemerintah

Stabilkan Harga Ayam Potong, Gopan Siap Bersinergi dengan Pemerintah
Ilustrasi ayam potong. ( Foto: Antara / Sigid Kurniawan )
Vento Saudale / FER Jumat, 5 April 2019 | 23:29 WIB

Bogor, Beritasatu.com - Gabungan Asosiasi Pengusaha Peternak Ayam Nasional (Gopan) memastikan ketersediaan ayam potong menjelang bulan suci Ramadan.Harga pokok penjualan (HPP) ayam potong diprediksi normal, mengingat stok yang ada di cold storage mencukupi hingga dua bulan mendatang.

Sekretaris Jenderal Gopan, Sugeng Wahyudi, mengatakan stok ayam untuk bulan bulan Ramadan dipastikan berlebih. Saat ini, stok ayam di cold storage atau rumah potong rata-rata mencapai 63 juta per bulan. Sedangkan kebutuhan konsumsi daging untuk sekali nasional hanya sekitar 58 juta sampai 60 juta per bulan.

"Jadi, menurut kami stok daging ayam untuk bulan Ramadan tidak kurang malah berlebih. Namun, karena stok ayam berlebih justru berimbas pada harga jual ayam yang menurun untuk saat ini," kata Sugeng Jumat (5/4/2019).

Pada kesempatan itu, Sugeng juga meminta pemerintah agar memperhatikan peternak, baik itu peternak rakyat maupun mandiri. Sebab,Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 96/2018 dinilai belum efektif. Pasalnya, banyak peternak ayam yang kerap mengalami kerugian hingga miliaran rupiah.

"Kami siap bersinergi dengan pemerintah untuk menstabilkan harga ayam potong. Kami juga mengapresiasi Dirjen Peternakan yang terus berupaya melakukan stabilitas harga ayam potong," kata Sugeng.

Juru bicara (Jubir) Peternak Rakyat dan Peternak Mandiri (PRPM) ini menambahkan, kerugian ini sudah dialami oleh peternak sejak Januari sampai Maret 2019. Para pertenak mengalami kerugian sekitar Rp 4.000 hingga Rp 5.000 per kilogram (kg).

"Saat ini harga produksi atau modal ayam potong antara Rp 18.300 per kg sampai Rp 19.300 per kg. Sedangkan saat dijual hanya berkisar Rp 14.000 per kg. Jadi para peternak mengalami kerugian dari Rp 4.000 hingga Rp 5.000 per kg. Ini jadi problem besar untuk para peternak. Jika hal ini terus menerus, maka para peternak rakyat banyak yang akan gulung tikar,” kata Sugeng.

Sugeng menjelaskan, dari 63 juta ayam potong, sekitar 20 persen dikuasai oleh peternak rakyat. Angka tersebut dikalikan oleh berat daging ayam yang rata-rata antara 1,5 kg sampai 2 kg dan kerugian yang mencapai Rp 5.000.

Anehnya, kata Sugeng, meski harga jual ayam di produsen mengalami penurunan namun harga ayam dipasaran malah mahal. Menurut Sugeng, harga ayam di pasar mencapai Rp 32.000. Hal ini lantaran surat edaran Permendag Nomor 96/2018 tidak berjalan.

"Dalam Permendag ditetapkan sebesar Rp 20.000 per kg untuk batas bawah dan Rp 22.000 per kg untuk tarif batas atas. Namun kondisi saat ini, harga pembelian yang diterima peternak hanya Rp 14.000 per kg. Sedangkan penjualan di konsumen mencapai Rp 36.000 per kg. Selisih harganya sangat jauh. Kami mau surat edaran dari Kemdag itu harus ditegakkan," tegas Sugeng.



Sumber: BeritaSatu.com