Target Pertumbuhan Ekonomi 7% Meleset, Ini Kata TKN Jokowi-Ma'ruf

Target Pertumbuhan Ekonomi 7% Meleset, Ini Kata TKN Jokowi-Ma'ruf
Presiden Joko Widodo didampingi Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (kiri) serta (dari kanan) Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, dan Menteri BUMN Rini Soemarno memberikan keterangan kepada wartawan seusai pelepasan ekspor komoditas Indonesia menggunakan kapal kontainer berukuran raksasa dari Jakarta International Container Terminal (JICT) menuju Los Angeles, Amerika Serikat di Terminal JICT, Jakarta, beberapa waktu lalu. ( Foto: istimewa )
Yeremia Sukoyo / FMB Sabtu, 6 April 2019 | 15:38 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pertumbuhan ekonomi nasional yang bergerak di angka 5,17 persen tergolong masih cukup tinggi di antara negara-negara G 20. Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar itu hanya kalah dari Tiongkok dan India.

Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Kiai Maruf Amin, Mukhamad Misbakhun, mengakui, Jokowi memang pernah menjanjikan pertumbuhan ekonomi sebesar 7 persen. Namun demikian, kondisi global berkembang saat ini tidak sesuai dengan harapan.

"Masyarakat harus tahu dan realistis. Saat itu Pak Jokowi mewarisi pertumbuhan ekonomi yang terus mengalami penurunan sejak tahun 2010-2011 karena penurunan harga komoditas," kata Mukhamad Misbakhun, dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (6/4/2019).

Menurutnya, setahun setelah menjabat, Jokowi berusaha menahan agar angka pertumbuhan ekonomi yang mulai mendekati 4,9 persen bisa tetap bertahan pada kisaran 4,9 persen, atau bahkan mendekati 5 persen. Akhirnya, pemerintah berhasil mengangkat hingga angka 5,1 hingga 5,2 persen.

Saat ini, yang harus dipahami adalah adanya kondisi global dan regional yang membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap pada kondisi sekitar 5 persen. Misbakhun membantah pihak-pihak yang menyebut pertumbuhan ekonomi stagnan. Sebab, angka pertumbuhan 5,02 persen, 5,05 persen sampai 5,17 persen bukan angka yang rendah.

Menurutnya, angka tersebut merupakan sebuah prestasi di saat kondisi global yang tidak menentu akibat perang dagang antara Amerika dan Tiongkok. Selain itu, ada kondisi pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang cenderung mengalami penurunan.

"Ekonomi Tiongkok menurun dari pertama double digit hingga sekarang di kisaran 6 persen hampir 7 persen. India yang dulu sekitar hampir 10 persen mendekati double digit sekarang hanya 7,2 persen. Kemudian ada situasi global di mana semua prediksi proyeksi pertumbuhan selalu dipangkas IMF dan World Bank," ungkapnya.

Karena itu, dirinya memastikan pertumbuhan ekonomi 5,17 persen yang dicapai Jokowi adalah pertumbuhan ekonomi yang tergolong masih cukup tinggi.

"Indonesia hanya kalah dari India dan Tiongkok. Pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih bagus dibanding negara emerging market lainnya seperti Rusia, Turki, Afrika Selatan, Brazil," katanya.

Saat ini pemerintah Indonesia pun berusaha memperkuat ekonomi domestik supaya pertumbuhan ekonomi tetap stabil di atas 5 persen. Perekonomian diperkuat dengan pembangunan infrastruktur seperti interkoneksi di Jawa, Sumatera, dengan pembangunan jalan tol, pelabuhan, bandara, pembangunan di wilayah perbatasan dan menurunkan biaya logistik.



Sumber: Suara Pembaruan