Posisi Cadev Maret Meningkat US$ 1,2 Miliar

Posisi Cadev Maret Meningkat US$ 1,2 Miliar
Ilustrasi ( Foto: BeritaSatu Photo/David Gita Roza )
Triyan Pangastuti / FMB Senin, 8 April 2019 | 11:22 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2019 meningkat menjadi US$ 124,5 miliar, lebih tinggi dibandingkan dengan US$ 123,3 miliar pada akhir Februari 2019. Hal ini didorong oleh penerimaan devisa migas dan penerimaan valas.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Onny Widjanarko, mengatakan posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,0 bulan impor atau 6,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

“Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan” ungkapnya dalam keterangan resmi BI, Senin (8/4/2019).

Ke depan, Bank Indonesia memandang cadangan devisa tetap memadai didukung keyakinan terhadap stabilitas dan prospek perekonomian domestik yang tetap baik.

Sebagai informasi, posisi cadev akhir Januari cadev dicatat sebesar USD 120,1 miliar dan posisi cadev akhir Februari mulai meningkat sebesar USD 123,3 miliar. Peningkatan ini ditopang oleh aliran modal asing masuk yang mulai deras masuk ke instrument aset keuangan Indonesia.

Sebelumnya, Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih mengatakan stabil atau tidaknya posisi cadev, kata Lana masih dipengaruhi oleh pergerakkan rupiah. Jika rupiah tenang dan menguat maka BI memiliki potensi untuk memupuk devisanya, dibandingkan harus mengeluarkan devisa untuk melakukan intervensi.

Kendati demikian, ia optimis bahwa cadev masih memiliki potensi naik untuk keseluruhan tahun ini, meskipun juga masih tergantung dari capital inflow.

“Kalau dilihat potensi k edepan, ketenangan rupiah tergantung pada tenanngnya USD. Nampaknya USD akan cukup tenang terbantu oleh kebijakan suku bunga Fed yang memberi sinyal tidak aakan ada kenaikan suku bunga. Bahkan Presiden Trump meminta Bank Sentral AS untuk memangkas suku bunganya, hal ini bisa membuat dolar melemah,” tutur Lana.



Sumber: Investor Daily