Menteri Susi Promosikan Konsumsi Ikan di Pesantren

Menteri Susi Promosikan Konsumsi Ikan di Pesantren
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti berkunjung ke pesantren di Jawa Barat, 8 April 2019. ( Foto: Kementerian Kelautan dan Perikanan. )
/ HA Senin, 8 April 2019 | 23:19 WIB

Ciamis, Beritasatu.com - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengunjungi sejumlah pondok pesantren (Ponpes) di Jawa Barat. Senin (8/4/2019), untuk menggencarkan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan).

Tiga Ponpes sekaligus dikunjungi Susi yaitu Ponpes Al-Quran Cijantung, Kabupaten Ciamis; Ponpes Darussalam, Kabupaten Ciamis; dan Ponpes Al Munawar, Pasir Bokor, Tasikmalaya.

Menurut Susi, generasi muda perlu diajarkan kecintaan mengonsumsi ikan, dan mengubah pola konsumsinya dari daging merah dan aneka junk food menjadi seafood atau makanan produk kelautan dan perikanan.

Misi ini menurutnya merupakan tugas bersama seluruh komponen bangsa dalam mempersiapkan generasi muda yang berkualitas melalui konsumsi ikan yang memiliki kandungan gizi menyehatkan dibandingkan protein hewani lainnya.

Peningkatan konsumsi ikan ini merupakan program pemerintah lainnya di samping menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia dan menjadikan laut masa depan bangsa. Selain itu, juga sejalan dengan upaya pemerintah menurunkan angka gangguan pertumbuhan (stunting).

"Di Indonesia, satu dari tiga anak tumbuh stunting," tutur Menteri Susi dalam keterangan pers yang diterima redaksi.

Kampanye Gemarikan sudah mulai menumbuhkan hasil, dengan peningkatan angka konsumsi ikan nasional dari tahun ke tahun menjadi 50.69 kg per kapita pada 2018.

Data terbaru Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan 2018 menunjukkan terjadi penurunan angka stunting di Indonesia dari 37,8 persen di tahun 2013 menjadi 30,8 persen di 2018.

"Mudah-mudahan nanti tidak ada lagi yang stunting. Kalau Ibu masak untuk anak-anak, sediakan masakan ikan," imbuhnya.

Selain bagus untuk pertumbuhan tubuh anak, kandungan gizi pada ikan juga dinilai bagus untuk perkembangan otak dan kecerdasan manusia. Untuk itu, Susi mengimbau seluruh pesantren untuk tidak lupa menyediakan menu makanan ikan setiap harinya.

Menteri Susi menyebut, konsumsi ikan masyarakat Jawa Barat masih jauh lebih baik daripada masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Ciamis dan Tasikmalaya misalnya, meskipun kedua daerah tersebut tidak memiliki laut, angka konsumsi ikan mereka berada di atas rata-rata konsumsi ikan nasional. Kendati demikian, angka tersebut masih di bawah konsumsi ikan di daerah timur Indonesia.

"Di Jawa Barat ini saya lihat banyak sekali kolam-kolam, balong-balong. Setiap rumah punya kolam sendiri, pelihara ikan sendiri, dari nila, gurami, nilem, dan lainnya," kata Susi.

Bioflok
Guna meningkatkan produksi ikan untuk kebutuhan santri, Susi juga memperkenalkan budidaya sistem bioflok. Menurutnya, dengan sistem bioflok, dengan tempat yang kecil dapat dihasilkan ikan dalam jumlah yang besar.

"Bisa dapat 1 ton per kolam dalam 100 hari," terangnya.

Tak melulu bicara soal konsumsi ikan, dalam kesempatan tersebut Menteri Susi juga berbagi pengalamannya menegakkan kedaulatan di laut Indonesia. Istilah 'tenggelamkan!' yang kini sudah menjadi jargon merupakan sebuah upaya menyelesaikan permasalahan di laut Indonesia.

"Kalau tidak ditenggelamkan, menyelesaikan pekerjaan ini susah karena sudah puluhan tahun ribuan kapal asing terbiasa menangkap ikan di Indonesia. Mereka tidak merasa salah dan mencuri," ujarnya.

"Ini satu-satunya cara untuk membuktikan negara kita tegas, negara kita berdaulat, dan kita tidak main-main memberantas pencurian ikan."

Kepada para santri, Susi berpesan untuk selalu menjaga kehormatan diri.

"Kehormatan diri itu apa? Kepribadian, kejujuran, integritas, tidak bisa dibeli oleh uang, tidak tergiur oleh uang karena kita menghormati diri kita," ujarnya.

Ia mencontohkan pada dirinya sendiri. Meskipun berasal dari Kampung Pangandaran bahkan tidak menamatkan bangku SMA, ia berhasil sampai pada tahap ini dengan memegang teguh prinsip tersebut.

"Hidup saya diberi oleh Tuhan hal-hal yang luar biasa, keajaiban-keajaiban, (bisa) jadi menteri. Saya harus hormati. Kehormatan yang diberikan Tuhan ini harus saya junjung tinggi. Dengan apa? Dengan integritas, komitmen, dan kesungguhan kerja. Saya buktikan ternyata kalau kita benar-benar mau komitmen dan lurus, Indonesia ini bisa jadi negara apa saja. Nyatanya dalam 4,5 tahun ini kita bisa jadi negara eksportir tuna terbesar di dunia yang tadinya di Asia Tenggara saja tidak diperhitungkan. Selalu yang punya nama Thailand, Vietnam, dan Filipina," terangnya.

Ia juga meminta santri untuk bersyukur dan menikmati proses belajar di ponpes. Menurutnya, dirinya juga tidak akan utuh seperti saat ini jika ia tak pernah menjalani kehidupan di Ponpes.

"Saya jalan ke mana, saja ingin melakukan apa saja, saya selalu ingat border line (batasan). Ini titik yang tidak boleh saya lewati. Kenal agama, tauhidnya, akidahnya. Jadi walaupun ke mana-mana tidak pernah kesasar, tetap kembali pulang," cetusnya.

"Adik-adik semua harus bangga dan bahagia bersekolah di pesantren. Banyak persoalan hidup yang kadang-kadang antara yang benar dan yang batil itu garis tipis sekali."

Menteri Susi mengatakan, bagi para santri yang ingin bersekolah tinggi di bidang perikanan, kesempatan menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Perikanan (STP) atau Politeknik Kelautan dan Perikanan (Poltek KP) terbuka lebar. Para santri yang merupakan anak pelaku utama usaha perikanan baik nelayan maupun pembudidaya dapat bersekolah dengan beasiswa. Hal ini karena KKP tak hanya fokus membangun infrastruktur tetapi juga membangun sumber daya manusia.

Terakhir, Menteri Susi berpesan agar semua santri menjadi anak bangsa yang cerdas, tangkas, dan berintegritas.

"Yang terakhir ini yang paling penting karena integritas ini yang akan menentukan harga saudara-saudara di kehidupan yang sesungguhnya. Jika saudara menjunjung tinggi integritas, negara akan membutuhkan saudara di tempat yang terbaik," tandasnya.

Dalam kesempatan tersebut Kementerian Kelautan dan Perikanan menyerahkan sejumlah bantuan program budidaya bioflok, benih ikan, dan ikan segar di ketiga ponpes.

Di Ponpes Al Quran Cijantung diserahkan bantuan berupa 12 lubang budidaya nila sistem bioflok, 20.000 ekor benih nila, 1.000 kg pakan ikan, dan 1,75 ton ikan sarden segar.

Di Ponpes Darussalam diserahkan bantuan berupa 12 lubang budidaya nila sistem bioflok, 100.000 ekor benih nila, 1.500 kg pakan mandiri, dan 1,75 ton ikan sarden segar.

Sementara di Ponpes Al Munawar diserahkan 12 lubang budidaya nila sistem bioflok, 100.000 ekor benih nila, 1.000 kg pakan mandiri, dan 1 ton ikan sarden segar.

Bantuan KKP berupa ikan segar tersebut dimasak untuk dimakan bersama para santri dan sebagian dibagikan bagi masyarakat sekitar.



Sumber: BeritaSatu.com