Pertumbuhan Ekonomi Tertahan di 5%, RI Bisa Masuk Jebakan Kelas Menengah

Pertumbuhan Ekonomi Tertahan di 5%, RI Bisa Masuk Jebakan Kelas Menengah
Core Indonesia menggelar diskusi media tentang Review Ekonomi Triwulan 1 2019 dan Jelang Debat Capres Ke-5", di Jakarta, Selasa, 9 April 2019 ( Foto: Herman / Herman )
Herman / MPA Selasa, 9 April 2019 | 17:16 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal menilai, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tertahan di angka 5% dalam beberapa tahun terakhir sebetulnya tidak baik bagi Indonesia dalam jangka menengah dan panjang. Jika pertumbuhan ekonomi yang tertahan di angka 5% ini terus berlanjut, Faisal mengatakan Indonesia akan masuk ke dalam jebakan kelas menengah (middle income trap).

"Dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi kita sekitar 5%. Ini sebetulnya relatif baik kalau kita memperhatikan tekanan eksternal yang lebih besar. Tetapi, kebutuhan kita untuk tumbuh lebih dari sekedar 5% sebetulnya sangat besar. Kalau hanya di angka itu, dipastikan dalam jangka menengah dan panjang kita akan masuk ke dalam jebakan kelas menegah," kata Faisal, di acara diskusi media tentang "Review Ekonomi Triwulan 1 2019 dan Jelang Debat Capres Ke-5", di Jakarta, Selasa (9/4/2019).

Faisal menambahkan, Indonesia sebetulnya baru saja masuk ke dalam kelas Upper Middle Income. Sementara di kelompok pendapatan menengah-bawah, Indonesia sudah menghabiskan waktu selama 23 tahun.

"Bila kita tidak mempercepat pertumbuhan ekonomi lebih tinggi lagi, kita nanti akan berada lebih lama lagi dari 23 tahun untuk berada di kelompok upper middle income," ujar Faisal.

Untuk menghindarinya, lanjut Faisal, Indonesia harus mendorong pertumbuhan ekonomi setidaknya 7% per tahun dan bertahan pada level tersebut selama beberapa dekade. "Ini harus diupayakan sesegera mungkin pada saat kita masih menikmati bonus demografi. Kalau sudah lewat, ini akan lebih susah," ujarnya.

Di sisi lain, meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di angkat 5%, Faisal mengatakan ketimpangan ekonomi antar wilayah masih tetap lebar, bahkan sudah berlangsung selama 20 tahun terakhir. Dalam distribusi PDRB per pulau terhadap PDB Nasional tahun 2018, Jawa masih tetap yang paling besar mencapai 59%.

"Sejak kita krisis ekonomi di tahun 1998 dibandingkan dengan 2018, porsi dari wilayah Jawa tetap sama, yaitu 59%. Jadi tidak ada perubahan, tidak ada shifting. Semestinya ini juga menjadi konsen setidaknya dalam lima tahun ke depan dan seterusnya," ujar Faisal.



Sumber: BeritaSatu.com