Revitalisasi Industri Manufaktur Dorong Ekonomi Tumbuh

Revitalisasi Industri Manufaktur Dorong Ekonomi Tumbuh
Core Indonesia menggelar diskusi media tentang Review Ekonomi Triwulan 1 2019 dan Jelang Debat Capres Ke-5", di Jakarta, Selasa, 9 April 2019 ( Foto: Herman / Herman )
Herman / MPA Selasa, 9 April 2019 | 17:49 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com - Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi lagi agar tidak terus tertahan di angka 5%, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal mengatakan kuncinya adalah revitalisasi industri manufaktur.

Hal ini sudah dibuktikan oleh negara-negara yang telah berhasil mendorong pertumbuhan ekonominya hingga double digit seperti Korea Selatan dan Tiongkok, di mana pertumbuhan industri pengolahan atau manufaktur mereka selalu berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional.

"Revitalisasi industri manufaktur merupakan bagian dari agenda yang penting dalam lima tahun ke depan, dan juga kebutan kita untuk mereformasi struktur ekonomi menjadi lebih kompetitif," kata Faisal, di acara diskusi media "Review Ekonomi Triwulan 1 2019 dan Jelang Debat Capres Ke-5", di Jakarta, Selasa (9/4/2019).

Di Indonesia, Faisal mengatakan sudah lebih dari 10 tahun pertumbuhan industri manufakturnya berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional. Bahkan di 2018 pertumbuhannya hanya mencapai 4,27%.

"Ini harus menjadi agenda ke depan. Apalagi harga komoditas ekspor kita outlook-nya itu akan terus melambat dan cenderung turun, baik itu CPO, gas, batu bara, dan tembaga," imbuhnya.

Faisal memberi contoh revitalisasi industri manufaktur yang harus dilakukan, misalnya untuk industri turunan kayu. Saat ini, Indonesia merupakan negara eksportir kayu terbesar di dunia. Namun, Indonesia bukan eksportir terbesar untuk industri furnitur yang merupakan turunan dari kayu. Indonesia hanya berada di peringkat ke-17, sementara yang terbesar adalah Tiongkok, Jerman, dan Itali.

"Kayu dari Indonesia banyak diekspor ke Tiongkok, kemudian oleh Tiongkok diolah lagi untuk menghasilkan nilai tambah yang lebih besar, yaitu di industri furnitur. Ini adalah contoh bagaimana kita harus membangun industri hilir, dalam konteks ini adalah industri turunan kayu yaitu furnitur yang bisa memberi nilai lebih," ujar Faisal.



Sumber: BeritaSatu.com